SURAU.CO. Bulan Ramadan selalu menyapa umat Islam dengan dua dimensi utama. Kedua dimensi tersebut adalah sisi spiritual dan sisi sosial. Keduanya saling melengkapi untuk membentuk pribadi yang utuh. Di satu sisi, Ramadan menjadi sarana menempa jiwa manusia. Kita berlatih menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu sejak fajar hingga magrib.
Di sisi lain, Ramadan berfungsi sebagai sarana mengasah empati. Bulan ini memperhalus rasa serta membangunkan kepedulian sosial kita. Allah Swt telah menegaskan tujuan utama ibadah puasa dalam firman-Nya:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Makna Takwa dalam Kehidupan Sosial
Takwa bukan sekadar urusan ritual di atas sajadah, apalagi hanya soal durasi doa yang panjang. Takwa juga bukan sekadar kekhusyukan saat melaksanakan shalat tahajud. Sejatinya, takwa adalah kesadaran penuh bahwa Allah Swt selalu mengawasi kita.
Bahwa setiap tindakan manusia kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Kesadaran mendalam ini kemudian melahirkan akhlak yang mulia. Dari akhlak inilah, benih simpati dan empati mulai tumbuh subur. Puasa melatih kita untuk merasakan perihnya rasa lapar.
Mungkin kita jarang merasakan rasa lapar tersebut di luar Ramadan. Perut yang kosong memberi pelajaran berharga bagi batin kita. Di luar sana, banyak saudara kita menahan lapar setiap hari. Mereka melakukannya bukan karena ibadah, melainkan karena himpitan keadaan ekonomi.
Merespon Duka di Tengah Bulan Suci
Saat ini, sebagian saudara kita sedang menghadapi cobaan berat. Musibah banjir melanda wilayah Grobogan hingga Demak di Jawa Tengah. Beberapa waktu lalu, bencana serupa menerjang Sumatra Utara, Sumatra Barat dan Aceh.
Di Jawa Timur, erupsi Gunung Semeru masih menyisakan duka bagi warga Lumajang. Sementara itu, warga Kampung Melayu di Jakarta masih berjuang menghadapi genangan air. Luapan air tidak hanya merendam rumah dan akses jalan utama. Banjir tersebut juga merendam harapan-harapan besar saudara-saudara kita.
Banyak tempat ibadah kini beralih fungsi menjadi lokasi pengungsian. Anak-anak terpaksa kehilangan ruang bermain mereka yang ceria. Para orang tua kehilangan ladang dan mata pencaharian utama. Mereka kini sedang menanti bantuan dengan penuh rasa cemas.
Dimensi Sosial dalam Ajaran Rasulullah
Rasulullah Muhammad Saw memberikan tuntunan jelas mengenai iman dan kepedulian. Beliau bersabda dalam sebuah hadis yang sangat masyhur:
“Tidak beriman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menegaskan bahwa iman menuntut aksi nyata dan tidak boleh berhenti pada pengakuan lisan semata. Jika kita menyukai rumah yang aman, berikanlah keamanan bagi orang lain. Begitu juga jika kita menikmati makanan enak dan hangat, bantulah mereka yang kelaparan.
Ramadan juga mengajarkan kita untuk meneladani kedermawanan Rasulullah Saw. Beliau adalah manusia yang paling pemurah di muka bumi. Kedermawanan beliau meningkat drastis saat memasuki bulan suci Ramadan. Para sahabat mengibaratkan kedermawanan Nabi seperti angin yang berhembus. Kebaikan beliau menyebar dengan cepat dan menyentuh siapa saja. Catatan kemurahan hati ini terdapat dalam kitab Sahih al-Bukhari.
Menjadikan Puasa Lebih Berarti
Memberi takjil memang merupakan sebuah amalan yang sangat mulia. Namun, Ramadan menuntut lebih dari sekadar rutinitas berbagi makanan. Ibadah ini menuntut tumbuhnya simpati dan empati yang konkret. Kita harus hadir untuk membantu para korban bencana alam.
Keringkan air mata mereka dan ringankan beban yang mereka pikul. Ramadan sejatinya adalah sebuah madrasah empati bagi setiap mukmin. Kita belajar bahwa menahan diri adalah awal untuk memberi. Melalui rasa lapar, kita belajar untuk lebih gemar berbagi.
Mewujudkan Gerakan Peduli Sesama
Puasa yang berkualitas harus mampu melahirkan sebuah gerakan nyata. Hal ini harus menjelma menjadi zakat yang tuntas tepat waktu. Kita perlu memperluas jangkauan infak dan menyegerakan sedekah. Kesimpulannya kepedulian sosial kita tidak boleh menunggu orang lain meminta bantuan.
Saat kita menikmati hidangan lezat saat berbuka, ingatlah mereka, saudara kita yang sedang membersihkan lumpur di rumahnya, mereka yang sedang berjuang memulai hidup dari titik nol dan Ramadan memanggil kita untuk menjadi agen kebaikan muka di bumi.
Mari jadikan bulan ini sebagai momentum transformasi diri dengan mengubah rasa lapar menjadi energi untuk menolong sesama manusia serta menjadikan perpanjangan tangan kasih sayang Allah Swt bagi mereka yang membutuhkan. Semoga Allah menerima segala amal ibadah sosial kita di bulan ini. Amin. (kareemustofa)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
