SURAU.CO – Berbakti kepada kedua orang tua (birrul wālidain) adalah amalan agung yang kedudukannya sangat tinggi dalam Islam. Allah ﷻ menyandingkan perintah berbakti kepada orang tua setelah perintah mentauhidkan-Nya.Allah Ta‘ālā berfirman:
> وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا¹
Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka jangan sekali-kali engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”
Dalam ayat lain Allah ﷻ berfirman:
> أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ ۖ إِلَيَّ الْمَصِيرُ²
Artinya: “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku tempat kembali.”
Rasulullah ﷺ juga menegaskan betapa besar kedudukan ridha orang tua:
> رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ³
Artinya: “Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.”
Balasan Sebagaimana Engkau Berbuat
Demikian pula dalam hadis tentang balasan yang sejenis dengan perbuatan, Nabi ﷺ bersabda:
> الْبِرُّ لَا يَبْلَى، وَالذَّنْبُ لَا يُنْسَى، وَالدَّيَّانُ لَا يَمُوتُ، فَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَكَمَا تَدِينُ تُدَانُ⁴
Artinya: “Kebaikan tidak akan pernah binasa, dosa tidak akan pernah dilupakan, dan Allah Yang Maha Membalas tidak akan mati. Berbuatlah sesukamu, sebagaimana engkau berbuat, demikian pula engkau akan dibalas.”
Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin رحمه الله menjelaskan bahwa di antara bentuk balasan Allah di dunia adalah: siapa yang berbakti kepada orang tuanya, maka anak-anaknya akan berbakti kepadanya. Dan siapa yang durhaka kepada orang tuanya, maka dikhawatirkan anak-anaknya akan memperlakukannya dengan hal yang sama.⁵
Maka, renungkanlah,
Hari ini kita adalah anak.
Esok kita akan menjadi orang tua.
Apa yang kita tanam hari ini dalam sikap kepada ayah dan ibu, itulah yang kelak akan kita tuai dari anak-anak kita.
Jangan tunggu mereka tiada untuk menyesal. Dan Jangan menunda meminta maaf. Jangan pelit untuk berbakti.
Semoga Allah ﷻ menjadikan kita anak-anak yang berbakti dan mengaruniakan kepada kita keturunan yang saleh dan berbakti pula. Āmīn.
Catatan Kaki
- QS. Al-Isrā’ (17): 23.
- QS. Luqmān (31): 14.
-
HR. At-Tirmiżī no. 1899; dinilai hasan sahih.
-
Diriwayatkan oleh Ad-Dailamī dalam Musnad al-Firdaus; maknanya sahih.
-
Lihat penjelasan dalam: Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, Syarh Riyāḍuṣ Ṣāliḥīn, pembahasan birrul wālidain.
Marāji‘ (Referensi)
Al-Qur’an al-Karim.
Tafsir Ibnu Katsir, karya Ibnu Katsir.
Riyadhus Shalihin, karya Imam An-Nawawi.
Syarh Riyadhus Shalihin, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin.
Al-Adab Al-Mufrad, karya Imam Al-Bukhari.
Takhrij hadis tentang Keutamaan Tarawih malam 1-30 (yang telah dibahas sebagai tidak sahih)
- Kitab Hadis Palsu / Fabricated Traditions
Al-Mawḍūʿāt al-Kubrā — Imam Ibn al-Jauzi
Para akademisi biasanya merujuk edisi cetak Beirut : Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2003 (Jilid lengkap) sebagai sumber terpercaya.
ISBN untuk edisi Indonesia/Arab yang sering dipakai: 9782745115522 (jumlah halaman sekitar 383).
Penulisnya sendiri mengklaim karya ini sebagai salah satu karya klasik tentang hadis maudhu’.
Catatan: Kitab ini tidak termasuk kitab hadis sahih; statusnya sering menjadi bahan kajian kritis di studi ilmu hadis.
- Al-La‘āli al-Mashnū‘ah fī al-Aḥādīth al-Mawḍū‘ah — Imam as-Suyūṭī
Edisi klasik tersedia dalam naskah Arab dan beberapa cetakan modern di perpustakaan Islam.
Para ulama mengkritik sejumlah hadis maudhu’, termasuk koleksi Ibn al-Jauzi, lalu merangkum dan memperluas kritik tersebut dalam karya ini.
Para peneliti harus memakai edisi tahqiq atau manuskrip tertua di perpustakaan universitas, karena edisi tidak semua dicetak dengan tahqiq.
- Silsilat al-Aḥādīth al-Ḍa‘īfah wa al-Mawḍū‘ah — Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani
Edisi standar akademik
14 jilid, cetakan terbaru oleh Dar al-Maʿārif, Riyadh (2004), volume lengkap.
ISBN umum seri: 9960-83-087-X (seri lengkap), dengan OCLC: 51168357.
Keterangan tambahan:
Ulama mengkompilasi karyanya menjadi koleksi hadis dha‘if atau maudhu’ dengan metodologi kontemporer, menjadikannya rujukan utama studi kritik hadis.
Tips Memilih Edisi Untuk Penelitian Akademik
Para ahli lebih mempercayai edisi cetak Beirut / Riyadh daripada cetakan populer.
Cari edisi bertahqiq bila tersedia, terutama untuk teks klasik seperti Al-La‘āli al-Mashnū‘ah.
Periksa kesesuaian dengan katalog perpustakaan kampus/universitas (yang punya ISBN, lembar pengesahan, dan catatan penerbit).
Bandingkan naskah manuskrip bila memungkinkan untuk kajian kritis ilmiah.
Referensi Pendukung Penelitian
Para peneliti sering mengutip beberapa jurnal dan tesis akademik dalam kajian hadis maudhu’:
Analisa metodologi kritik hadis al-La‘ali al-Mashnū‘ah — artikel Jurnal Ilmu Hadis Indonesia.
Tesis analisis metodologi Ibn al-Jauzi di UIN Sunan Ampel.
Studi tentang metodologi Silsilah al-Aḥādīth al-Ḍa‘īfah wa al-Mawḍū‘ah.
Ringkasan
Kitab / Seri Penulis Edisi Rujukan Utama Keterangan
Al-Mawḍūʿāt al-Kubrā Ibn al-Jauzi Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah (2003) Kitab hadis maudhu’, sering jadi objek kajian kritis. Al-La‘āli al-Mashnū‘ah as-Suyūṭī Cetakan Arab klasik / manuskrip Ringkasan kritik hadis maudhu’
Silsilat al-Aḥādīth al-Ḍa‘īfah wa al-Mawḍū‘ah al-Albānī Dar al-Ma‘ārif (2004), 14 jilid Kompilasi dha‘if & maudhu’ dengan analisis modern. (Tengku Iskandar, M. Pd: Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
