Sejarah ekspansi Islam mencatat sebuah pencapaian maritim yang sangat monumental pada masa kepemimpinan Muawiyah bin Abu Sufyan. Beliau merupakan sosok visioner yang menyadari betapa pentingnya kekuatan angkatan laut bagi keamanan wilayah kekhalifahan Islam. Pembukaan kota Rhodes menjadi salah satu bukti keberhasilan strategi maritim yang beliau kembangkan untuk menghadapi dominasi Kekaisaran Bizantium. Rhodes merupakan pulau strategis di Laut Mediterania yang berfungsi sebagai benteng pertahanan laut yang sangat kuat bagi musuh. Keberhasilan pasukan Muslim menguasai pulau ini mengubah peta kekuatan politik dan militer di kawasan perairan Mediterania secara drastis.
Visi Besar Muawiyah Membangun Angkatan Laut
Muawiyah bin Abu Sufyan mulai merintis pembangunan armada laut sejak beliau menjabat sebagai gubernur wilayah Syam pada masa Khalifah Utsman. Beliau melihat bahwa ancaman serangan dari arah laut oleh pasukan Bizantium terus menghantui kota-kota pesisir yang baru dikuasai. Muawiyah berulang kali meyakinkan khalifah agar memberikan izin pembangunan kapal perang untuk melindungi kedaulatan wilayah umat Islam secara total. Setelah mendapatkan izin resmi, beliau segera membangun galangan kapal di berbagai pelabuhan utama seperti Akka dan juga Alexandria. Langkah berani ini menjadi titik awal bagi umat Islam untuk bertransformasi menjadi kekuatan maritim yang sangat disegani dunia.
Pembangunan armada ini memerlukan sumber daya manusia yang handal dalam navigasi serta konstruksi kapal laut yang sangat kokoh. Muawiyah merekrut para ahli perkapalan lokal yang telah memiliki pengalaman panjang dalam mengarungi ganasnya ombak Laut Tengah. Beliau juga melatih para prajurit darat agar mampu bertempur dengan tangguh di atas geladak kapal perang yang bergerak. Visi besar ini bertujuan untuk mematahkan hegemoni Bizantium yang selama ini menguasai jalur perdagangan dan militer laut Mediterania. Tanpa angkatan laut yang kuat, ekspansi Islam akan selalu terhambat oleh serangan balik musuh dari arah garis pantai.
Jalannya Ekspedisi Pembukaan Kota Rhodes
Pada tahun 53 Hijriah atau sekitar 672 Masehi, Muawiyah yang saat itu sudah menjadi khalifah mengirimkan ekspedisi militer besar. Beliau menunjuk Junada bin Abi Umayya sebagai panglima angkatan laut untuk memimpin serangan menuju pulau Rhodes yang sangat strategis. Pasukan Muslim bergerak dengan ratusan kapal perang yang membawa prajurit-prajurit pemberani untuk melakukan pendaratan di pantai pulau tersebut. Pertempuran sengit terjadi antara pasukan Islam melawan tentara Bizantium yang berusaha mempertahankan wilayah kedaulatan mereka dengan segala kekuatan. Junada bin Abi Umayya menunjukkan kecemerlangan taktik tempur dalam mengoordinasikan serangan dari arah laut menuju daratan yang penuh rintangan.
Seorang sejarawan bernama Ibnu Katsir mencatat peristiwa penting ini dalam kitab sejarahnya yang sangat tersohor, Al-Bidayah wan Nihayah:
“Pada tahun 53 Hijriah, Junada bin Abi Umayya menaklukkan pulau Rhodes di laut dengan kekuatan senjata atas perintah Muawiyah.”
Kutipan tersebut menjelaskan bahwa penaklukan ini berlangsung melalui sebuah konfrontasi militer yang sangat serius dan terencana dengan matang. Pasukan Muslim berhasil meruntuhkan pertahanan musuh dan menguasai seluruh wilayah pulau tersebut setelah pertempuran yang sangat melelahkan jiwa. Muawiyah segera memerintahkan pembangunan pemukiman bagi kaum Muslimin agar keberadaan mereka di Rhodes bersifat permanen dan juga kokoh. Hal ini bertujuan untuk menjadikan Rhodes sebagai pangkalan militer garis depan dalam menghadapi serangan Bizantium ke wilayah Syam.
Penemuan Sisa Patung Raksasa Colossus
Salah satu fakta unik dari pembukaan kota Rhodes adalah penemuan sisa-sisa patung raksasa yang sangat legendaris bernama Colossus. Patung perunggu tersebut merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia kuno yang telah runtuh akibat gempa bumi besar. Selama berabad-abad, reruntuhan logam tersebut tergeletak begitu saja di pelabuhan tanpa ada yang berani memindahkan atau memanfaatkannya kembali. Pasukan Muslim menemukan sisa-sisa perunggu tersebut saat mereka melakukan pembersihan dan penataan ulang infrastruktur kota yang telah mereka kuasai. Junada bin Abi Umayya kemudian memutuskan untuk mengumpulkan seluruh kepingan logam tersebut untuk diproses kembali menjadi barang yang bermanfaat.
Muawiyah memberikan instruksi agar sisa logam perunggu tersebut dijual kepada pedagang dari wilayah Edessa yang memiliki banyak unta. Menurut catatan sejarah, para pedagang tersebut membutuhkan sembilan ratus ekor unta hanya untuk mengangkut seluruh kepingan logam perunggu tersebut. Tindakan ini mencerminkan sikap pragmatis dan bijaksana para pemimpin Muslim dalam mengelola peninggalan sejarah yang sudah tidak berfungsi lagi. Rhodes kemudian bertransformasi menjadi pusat pemukiman Muslim yang makmur di tengah perairan Laut Mediterania yang sangat luas. Kehadiran komunitas Muslim di pulau ini memberikan kontribusi besar bagi penyebaran ajaran Islam melalui jalur perdagangan laut.
Dampak Strategis bagi Kekhalifahan Islam
Pembukaan kota Rhodes memberikan dampak strategis yang sangat besar bagi keamanan nasional kekhalifahan Islam pada masa dinasti Umayyah. Pulau ini berfungsi sebagai mata-mata yang mengawasi setiap pergerakan armada laut Bizantium yang keluar dari pelabuhan Konstantinopel menuju selatan. Keberhasilan ini juga membuka jalan bagi ekspedisi militer Islam selanjutnya menuju pulau-pulau lain di wilayah Laut Mediterania. Para pedagang Muslim merasa lebih aman saat melintasi jalur laut tersebut karena perlindungan armada perang Islam semakin kuat. Rhodes menjadi simbol kebangkitan teknologi maritim umat Islam yang mampu menandingi kemajuan peradaban bangsa-bangsa Barat saat itu.
Keberhasilan ini membuktikan bahwa umat Islam memiliki kemampuan adaptasi yang sangat tinggi terhadap medan pertempuran yang baru dan asing. Muawiyah bin Abu Sufyan telah meletakkan fondasi yang sangat kokoh bagi sejarah angkatan laut Islam yang gemilang di masa depan. Semangat perjuangan Junada bin Abi Umayya juga memberikan inspirasi bagi generasi pelaut Muslim berikutnya untuk terus menjaga kedaulatan perairan. Meskipun Rhodes nantinya berpindah tangan kembali, namun pembukaan kota ini tetap menjadi catatan emas yang sangat membanggakan sejarah. Umat Islam menunjukkan bahwa mereka mampu menguasai daratan maupun lautan dengan nilai-nilai keadilan dan juga integritas yang tinggi.
Kesimpulan
Pembukaan kota Rhodes merupakan pencapaian militer yang sangat brilian hasil dari kombinasi visi pemimpin dan keberanian prajurit di lapangan. Muawiyah bin Abu Sufyan berhasil mewujudkan impian umat Islam untuk memiliki armada laut yang tangguh, mandiri, dan juga disegani. Sejarah ini mengajarkan kita tentang pentingnya persiapan yang matang dan inovasi dalam menghadapi tantangan zaman yang terus berubah. Mari kita ambil hikmah dari kegigihan para pendahulu kita dalam menjaga martabat dan juga kedaulatan peradaban Islam sejagat. Semoga semangat kejayaan maritim masa lalu menginspirasi kita untuk terus berkarya bagi kemajuan bangsa dan agama di masa depan.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
