Kemenangan besar Fathu Makkah pada tahun kedelapan Hijriah membuka jalan baru bagi penyebaran cahaya tauhid di tanah Arab. Setelah menguasai kota suci, Rasulullah SAW segera mengambil tindakan tegas untuk menghapus segala bentuk simbol kemusyrikan yang tersisa. Salah satu misi paling krusial adalah penghancuran kuil Al-Uzza, berhala paling agung bagi kaum Quraisy dan suku sekitarnya. Rasulullah SAW secara khusus menunjuk pasukan berkuda Khalid bin Walid untuk menjalankan tugas suci di wilayah Nakhlah tersebut. Peristiwa heroik ini berlangsung pada bulan Ramadhan, saat umat Islam sedang berada dalam puncak kekuatan spiritual dan militernya.
Perintah Rasulullah SAW untuk Menegakkan Tauhid
Rasulullah SAW memandang bahwa keberadaan Al-Uzza merupakan penghalang besar bagi kemurnian akidah umat manusia di masa depan nanti. Beliau mengutus Khalid bin Walid bersama tiga puluh ksatria pilihan untuk meruntuhkan bangunan dan pohon suci di Nakhlah. Al-Uzza saat itu memiliki kedudukan spiritual yang sangat tinggi bagi orang-orang jahiliyah karena mereka menganggapnya sebagai putri Tuhan. Rasulullah ingin membuktikan bahwa berhala tersebut tidak memiliki kekuatan sedikit pun untuk membela dirinya sendiri dari kehancuran fisik. Mandat ini mencerminkan kepercayaan besar Nabi Muhammad SAW terhadap keberanian dan ketegasan strategi perang yang Khalid bin Walid miliki.
Ekspedisi Pertama ke Wilayah Nakhlah
Pasukan berkuda Khalid bin Walid segera bergerak cepat menuju lokasi kuil tersebut yang berada di sebuah lembah bernama Nakhlah. Tanpa ragu, Khalid langsung menebas tiga pohon samurah yang menjadi tempat bersemayamnya kepercayaan syirik penduduk setempat selama ini. Beliau juga meruntuhkan bangunan kuil yang sangat megah dan menghancurkan seluruh ornamen yang berada di dalam lokasi tersebut. Setelah menyelesaikan tugasnya, Khalid segera kembali ke Makkah untuk melaporkan hasil misi tersebut secara langsung kepada Rasulullah SAW.
Namun, Rasulullah SAW memberikan sebuah pertanyaan yang sangat mengejutkan bagi Khalid bin Walid saat laporan tersebut beliau terima. Beliau bertanya kepada Khalid mengenai apa yang sang panglima lihat selama proses penghancuran kuil yang agung tersebut berlangsung. Khalid menjawab bahwa beliau tidak melihat sesuatu yang aneh atau luar biasa selama menjalankan tugas militernya di Nakhlah. Rasulullah SAW kemudian memberikan perintah yang sangat tegas untuk kembali ke lokasi tersebut karena misi sebenarnya belum benar-benar tuntas.
Pertempuran Spiritual dan Kematian Syaitan Uzza
Pasukan berkuda Khalid bin Walid segera memacu tunggangan mereka kembali menuju Nakhlah dengan perasaan waspada yang sangat tinggi sekali. Saat tiba di reruntuhan kuil, Khalid melihat sesosok wanita berkulit hitam dengan rambut terurai yang tampak sangat menakutkan sekali. Wanita tersebut adalah perwujudan syaitan yang selama ini menyesatkan manusia melalui media penyembahan terhadap berhala kuno Al-Uzza tersebut. Penjaga kuil berteriak memanggil nama Uzza agar berhala itu menunjukkan kekuatan dan juga melakukan pembalasan terhadap Khalid bin Walid.
Khalid bin Walid tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun dan segera menghunus pedangnya untuk menebas sosok syaitan tersebut. Beliau membelah tubuh makhluk tersebut dengan sekali tebasan yang sangat kuat hingga ia tewas bersimbah darah di hadapannya. Setelah memastikan syaitan tersebut benar-benar binasa, Khalid kembali menghancurkan sisa-sisa bangunan yang masih berdiri tegak di lokasi tersebut. Khalid kemudian kembali menemui Rasulullah SAW dan menceritakan kejadian luar biasa yang baru saja beliau alami di Nakhlah.
Mendengar laporan lengkap tersebut, Rasulullah SAW memberikan konfirmasi spiritual mengenai hakikat dari berhala yang sangat mereka agungkan tersebut:
“Itulah Al-Uzza, dan dia tidak akan pernah disembah lagi selamanya.”
Kutipan tersebut menegaskan bahwa akar kemusyrikan di wilayah tersebut telah tumbang sepenuhnya melalui ketegasan iman pasukan Muslim sejati. Berhala hanyalah media bagi syaitan untuk memperdaya manusia agar berpaling dari menyembah Allah SWT yang Maha Esa dan Agung.
Makna Penting bagi Dakwah Islam
Peran pasukan berkuda Khalid bin Walid memberikan pelajaran berharga mengenai pentingnya keberanian dalam membela prinsip kebenaran dan juga tauhid. Bulan Ramadhan menjadi saksi bagaimana kekuatan fisik dan kekuatan iman bersatu untuk menghancurkan kebatilan yang sudah berakar sangat lama. Peristiwa ini juga menandai runtuhnya dominasi spiritual berhala-berhala besar lainnya di seluruh jazirah Arab setelah jatuhnya kota Makkah. Masyarakat akhirnya menyadari bahwa berhala-berhala tersebut sama sekali tidak bisa memberikan manfaat atau mudarat bagi kehidupan manusia secara nyata.
Dakwah Islam kemudian berkembang sangat pesat karena masyarakat melihat bukti nyata dari ketidakberdayaan tuhan-tuhan palsu yang selama ini mereka sembah. Khalid bin Walid membuktikan dirinya sebagai “Pedang Allah” yang selalu siap memotong setiap akar kesesatan yang menghalangi dakwah. Semangat penghancuran berhala ini juga bermakna menghancurkan berhala-berhala dalam hati seperti kesombongan, ketamakan, dan juga sifat iri hati. Ramadhan mengajarkan kita untuk selalu membersihkan diri dari segala bentuk noda hitam yang merusak kemurnian jiwa kita masing-masing.
Kesimpulan
Penghancuran kuil Uzza oleh pasukan berkuda Khalid bin Walid merupakan tonggak sejarah penting dalam perjuangan menegakkan kalimat tauhid di bumi. Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk bersikap tegas terhadap segala bentuk penyimpangan akidah yang dapat merusak tatanan sosial masyarakat luas. Peristiwa di bulan Ramadhan ini menjadi pengingat bahwa kemenangan sejati berasal dari bantuan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya. Mari kita ambil pelajaran dari keberanian Khalid bin Walid untuk menjaga kesucian iman kita dari segala pengaruh negatif zaman. Semoga cahaya tauhid selalu menyinari setiap langkah kehidupan kita menuju rida Allah SWT yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
