Sejarah emas Islam mencatat nama Muadz bin Jabal sebagai salah satu sahabat muda dengan kecerdasan yang sangat luar biasa. Rasulullah SAW menunjuk Muadz untuk mengemban misi diplomatik dan dakwah yang sangat strategis menuju wilayah Yaman. Peristiwa penting ini terjadi pada tahun kesembilan Hijriah, bertepatan dengan suasana bulan suci Ramadhan yang penuh dengan keberkahan. Penunjukan ini bukan tanpa alasan, karena Muadz memiliki pemahaman mendalam mengenai hukum-hukum Islam dibandingkan dengan sahabat lainnya. Rasulullah SAW sangat mempercayai integritas serta kedalaman ilmu fiqih yang dimiliki oleh pemuda dari kaum Ansar tersebut.
Pakar Hukum Halal dan Haram
Muadz bin Jabal tumbuh menjadi sosok ulama di kalangan sahabat sejak usia yang masih sangat muda dan produktif. Ia memiliki kemampuan istimewa dalam menyerap setiap penjelasan hukum yang keluar dari lisan suci Baginda Nabi Muhammad SAW. Ketekunannya dalam belajar membuat Muadz mendapatkan pengakuan langsung dari Rasulullah SAW di depan para sahabat yang lain. Rasulullah SAW pernah memberikan pujian yang sangat tinggi kepada Muadz bin Jabal melalui sebuah sabda yang sangat masyhur:
“Umatku yang paling mengetahui tentang halal dan haram adalah Muadz bin Jabal.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Kutipan tersebut menegaskan bahwa Muadz merupakan rujukan utama dalam urusan syariat dan hukum Islam bagi masyarakat Muslim. Keahlian inilah yang menjadi modal utama bagi Muadz saat ia harus berangkat menuju Yaman untuk mengajar penduduk setempat. Nabi Muhammad SAW ingin memastikan bahwa penduduk Yaman mendapatkan bimbingan dari guru terbaik yang memahami esensi agama secara utuh. Tugas Muadz ke Yaman mencakup peran sebagai hakim, guru agama, serta pengumpul zakat bagi pemerintah pusat di Madinah.
Dialog Legendaris Mengenai Metodologi Hukum
Sebelum Muadz berangkat, Rasulullah SAW melakukan sebuah dialog yang sangat legendaris mengenai metodologi dalam menetapkan sebuah hukum. Dialog ini menjadi fondasi penting bagi perkembangan ilmu usul fiqih dan penggunaan ijtihad dalam sejarah hukum Islam. Rasulullah bertanya kepada Muadz tentang cara ia akan memutuskan perkara jika menghadapi suatu masalah hukum di wilayah Yaman. Muadz menjawab dengan tegas bahwa ia akan merujuk pada Kitabullah sebagai sumber hukum pertama dan yang paling utama.
Jika ia tidak menemukan jawabannya di dalam Al-Qur’an, Muadz akan mencari rujukan melalui Sunnah atau ketetapan Rasulullah SAW. Kemudian Nabi bertanya lagi tentang apa yang akan Muadz lakukan jika tetap tidak menemukan rujukan dalam keduanya. Muadz bin Jabal memberikan jawaban yang sangat memuaskan hati Rasulullah SAW:
“Aku akan berijtihad dengan pendapatku dan aku tidak akan berlebih-lebihan.”
Mendengar jawaban tersebut, Rasulullah SAW menepuk dada Muadz dan mengungkapkan rasa syukur yang sangat mendalam kepada Allah SWT. Nabi merasa tenang karena utusan-Nya memiliki kerangka berpikir yang benar dalam menyikapi permasalahan umat yang terus berkembang. Prinsip ijtihad ini membuktikan bahwa Islam memberikan ruang bagi akal manusia untuk mencari solusi selama tidak bertentangan dengan wahyu.
Perpisahan yang Mengharukan di Bulan Ramadhan
Momen keberangkatan Muadz bin Jabal menuju Yaman diiringi oleh suasana perpisahan yang sangat mengharukan bagi para sahabat. Rasulullah SAW menunjukkan penghormatan yang sangat besar dengan berjalan kaki di samping unta yang Muadz tunggangi saat itu. Sementara itu, Muadz tetap berada di atas untanya karena merasa sangat sungkan melihat pemimpin agung tersebut berjalan kaki. Rasulullah SAW memberikan berbagai nasihat penting mengenai ketakwaan dan cara berinteraksi dengan penduduk Yaman yang merupakan Ahli Kitab.
Nabi Muhammad SAW memberikan isyarat bahwa pertemuan tersebut mungkin merupakan pertemuan terakhir mereka secara fisik di dunia ini. Rasulullah bersabda bahwa mungkin Muadz tidak akan menemui beliau lagi setelah ia kembali dari tugas panjang di Yaman. Muadz bin Jabal menangis tersedu-sedu mendengar perkataan Nabi yang mengisyaratkan wafatnya beliau dalam waktu yang tidak lama lagi. Kesedihan tersebut mewarnai keberangkatan Muadz, namun ia tetap teguh menjalankan amanah dakwah demi kejayaan agama Allah SWT.
Keberhasilan Dakwah di Negeri Yaman
Muadz bin Jabal memulai misinya di Yaman dengan pendekatan dakwah yang sangat santun, bijaksana, dan penuh dengan kelembutan. Ia mengajarkan dasar-dasar tauhid dan tata cara shalat kepada penduduk setempat dengan penuh rasa sabar yang sangat tinggi. Muadz juga mengelola distribusi zakat dengan sangat transparan agar manfaatnya benar-benar terasa oleh kelompok masyarakat yang paling membutuhkan. Kehadiran Muadz membawa perubahan besar bagi tatanan sosial dan keagamaan masyarakat Yaman sehingga mereka memeluk Islam secara sukarela.
Integritas Muadz sebagai hakim membuatnya sangat dihormati oleh penduduk Yaman karena ia selalu memberikan keputusan yang sangat adil. Ia tidak pernah membeda-bedakan status sosial seseorang dalam menegakkan kebenaran di bawah naungan hukum-hukum Allah yang suci. Muadz bin Jabal berhasil membangun pondasi masyarakat Muslim yang kuat di Yaman sebelum ia akhirnya kembali ke Madinah. Warisan keilmuan Muadz tetap menjadi rujukan penting bagi para ulama dan pencari ilmu di seluruh dunia hingga saat ini.
Kesimpulan
Kisah Muadz bin Jabal sebagai utusan ke Yaman memberikan inspirasi tentang pentingnya penguasaan ilmu bagi seorang pemuda Muslim. Al-Qur’an dan Sunnah menjadi kompas utama dalam menjalankan setiap amanah besar yang negara dan agama berikan kepada kita. Kita harus meneladani kemandirian berpikir Muadz yang tetap berpijak pada nilai-nilai wahyu yang sangat luhur dan abadi. Mari kita jadikan Ramadhan sebagai momentum untuk memperdalam pemahaman agama dan menyebarkan kebaikan kepada seluruh umat manusia. Semoga Allah melahirkan banyak “Muadz-Muadz” baru di era modern yang siap membawa cahaya kebenaran bagi peradaban dunia
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
