Suasana kota Makkah pada tahun kedelapan Hijriah mendadak berubah menjadi sangat tenang dan penuh dengan getaran spiritual yang luar biasa. Rasulullah SAW bersama sepuluh ribu pasukan Muslim baru saja memasuki kota suci tersebut tanpa menumpahkan setetes darah pun ke tanah. Beliau segera menghancurkan ratusan berhala yang selama ini mengotori kesucian Ka’bah sebagai pusat peribadatan monoteistik umat manusia sejak lama. Di tengah kerumunan massa yang tertegun, sebuah perintah agung keluar dari lisan mulia Nabi Muhammad SAW yang sangat berwibawa. Beliau menunjuk Bilal bin Rabah, seorang mantan budak Abisinia, untuk mengumandangkan panggilan shalat dari atas atap bangunan Ka’bah.
Momentum Kemenangan Tauhid yang Mengharukan
Peristiwa Fathu Makkah merupakan titik balik sejarah yang menandai runtuhnya dominasi kemusyrikan di seluruh wilayah jazirah Arab secara total. Rasulullah SAW ingin menunjukkan bahwa kebenaran telah datang untuk menghapus segala bentuk kebatilan yang selama ini menyesatkan hati manusia. Saat berhala-berhala jatuh berantakan, Nabi Muhammad SAW membacakan ayat suci Al-Qur’an untuk menegaskan kemenangan cahaya Islam yang abadi ini. Allah SWT berfirman dalam kitab suci-Nya mengenai momen bersejarah yang sangat penting dan juga penuh berkah tersebut:
“Dan katakanlah: ‘Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap’. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. Al-Isra: 81).
Kutipan tersebut menjadi latar belakang yang sangat kuat bagi berkumandangnya adzan pertama Bilal bin Rabah di jantung kota Makkah. Nabi Muhammad SAW sengaja memilih Bilal sebagai orang yang pertama kali menyerukan nama Allah dari tempat yang paling suci. Pilihan ini mengandung pesan simbolis yang sangat dalam mengenai runtuhnya struktur kasta sosial yang selama ini membelenggu masyarakat. Bilal yang dahulu pernah mengalami penyiksaan kejam di padang pasir kini berdiri tegak di atas simbol kemuliaan agama Islam.
Bilal bin Rabah: Simbol Kesetaraan dalam Islam
Keputusan Rasulullah menunjuk Bilal bin Rabah sempat mengejutkan beberapa pembesar Quraisy yang saat itu baru saja menyatakan masuk Islam. Mereka masih memiliki sisa-sisa pemikiran jahiliyah yang memandang rendah seseorang berdasarkan warna kulit maupun latar belakang status sosialnya. Namun, Islam datang dengan misi utama untuk memuliakan setiap manusia berdasarkan tingkat ketakwaan mereka kepada Allah semesta alam. Bilal membuktikan bahwa kedekatan dengan Allah tidak mengenal batasan etnis, harta kekayaan, maupun garis keturunan yang bersifat duniawi.
Langkah kaki Bilal saat menaiki tangga menuju atap Ka’bah menjadi saksi bisu atas perubahan peradaban yang sangat revolusioner ini. Setiap langkahnya mewakili jutaan orang tertindas yang akhirnya mendapatkan kemerdekaan jiwa melalui risalah dakwah Nabi Muhammad yang mulia. Bilal membawa suara kebenaran yang pernah ia pertahankan dengan nyawanya saat disiksa di bawah terik matahari Makkah dahulu kala. Kini, suara “Ahad! Ahad!” yang penuh penderitaan itu berubah menjadi seruan “Allahu Akbar!” yang sangat merdu dan berwibawa.
Gemuruh Adzan yang Membelah Langit Makkah
Suara Bilal bin Rabah mulai mengalun merdu memenuhi setiap sudut kota Makkah dan menyentuh hati setiap insan yang mendengarnya. Kalimat-kalimat takbir yang ia ucapkan memberikan rasa tenang sekaligus rasa haru yang luar biasa bagi para sahabat Nabi. Penduduk Makkah terdiam seribu bahasa saat mendengar asma Allah dan Muhammad Rasulullah berkumandang dengan sangat lantang dan jelas. Ini adalah pertama kalinya adzan terdengar secara terbuka dari pusat kesucian umat Islam setelah sekian lama berada dalam kegelapan.
Gemuruh adzan tersebut menandai dimulainya era baru di mana hanya Allah yang berhak mendapatkan penyembahan dari seluruh makhluk ciptaan-Nya. Ribuan orang bersujud bersama mengikuti gerakan Rasulullah SAW setelah Bilal menyelesaikan panggilan suci yang sangat menggetarkan jiwa tersebut. Keheningan kota Makkah pecah oleh isak tangis kebahagiaan para sahabat yang telah lama merindukan momen kemenangan yang sangat agung. Adzan pertama Bilal bin Rabah menjadi lagu kemenangan bagi iman yang telah teruji melalui berbagai macam cobaan yang berat.
Warisan Spiritual Sang Muadzin Rasulullah
Setelah peristiwa besar tersebut, Bilal bin Rabah resmi menjadi muadzin tetap yang selalu mendampingi setiap perjalanan dakwah Rasulullah SAW. Keindahan suaranya bukan terletak pada teknik vokalnya saja, melainkan pada ketulusan iman yang terpancar dari dalam lubuk hatinya. Bilal mengajarkan kepada kita bahwa pengabdian yang tulus akan mengangkat derajat seseorang ke tingkat yang paling tinggi di sisi-Nya. Kisah hidupnya menjadi inspirasi abadi bagi seluruh muadzin di dunia dalam menjaga integritas dan juga kemurnian panggilan shalat.
Hingga saat ini, umat Islam selalu mengenang sosok Bilal bin Rabah setiap kali mereka mendengar suara adzan berkumandang dari masjid. Beliau adalah bukti nyata bahwa Islam menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Nama Bilal akan selalu bersanding dengan sejarah Ka’bah sebagai orang yang paling beruntung karena mendapatkan kehormatan berdiri di atasnya. Warisan spiritual ini mengingatkan kita untuk selalu mengutamakan ketakwaan daripada sekadar membanggakan atribut keduniawian yang bersifat sementara saja.
Kesimpulan
Kisah adzan pertama Bilal bin Rabah di atas Ka’bah adalah sebuah narasi tentang kemenangan cinta atas kebencian yang mendalam. Al-Qur’an dan Sunnah telah memberikan tempat yang sangat terhormat bagi sosok pejuang tauhid yang sangat luar biasa hebat ini. Kita harus mengambil pelajaran dari peristiwa ini untuk selalu bersikap rendah hati dan menghargai setiap saudara sesama Muslim. Semoga kita mampu meneladani keteguhan iman Bilal dalam menjalankan setiap perintah Allah dan Rasul-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Cahaya tauhid yang Bilal serukan dari atas Ka’bah akan terus bersinar menerangi hati orang-orang beriman hingga akhir zaman.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
