Kemenangan besar menyelimuti pasukan Muslim pada Perang Badar yang sangat monumental. Namun, kebahagiaan tersebut bercampur dengan kesedihan mendalam bagi keluarga Nabi Muhammad SAW. Ruqayyah binti Muhammad wafat saat pasukan Muslim sedang merayakan kejayaan mereka atas kafir Quraisy. Peristiwa ini mencatatkan duka yang sangat pekat di tengah sorak-sorai kemenangan di Madinah. Detik-detik wafatnya Ruqayyah menjadi bukti pengorbanan besar keluarga Rasulullah demi tegaknya panji Islam.
Kondisi Ruqayyah Menjelang Perang Badar
Kesehatan Ruqayyah menurun secara drastis saat Rasulullah sedang menyiapkan pasukan menuju Badar. Beliau menderita penyakit campak yang sangat parah hingga melemahkan seluruh kondisi fisiknya. Ruqayyah hanya bisa terbaring lemah di tempat tidurnya saat seluruh Madinah bersiap berperang. Utsman bin Affan merasa sangat berat hati melihat kondisi istrinya yang semakin memprihatinkan tersebut. Beliau sebenarnya sangat ingin ikut berjuang membela Islam di medan tempur Badar.
Rasulullah SAW melihat kebimbangan hati menantunya yang sangat setia tersebut dengan penuh kearifan. Beliau kemudian memerintahkan Utsman bin Affan untuk tetap tinggal dan merawat Ruqayyah. Perintah ini menunjukkan betapa Islam sangat menghargai tugas kemanusiaan dalam keluarga. Rasulullah SAW memberikan jaminan pahala yang sangat luar biasa kepada Utsman bin Affan:
“Sesungguhnya bagimu pahala seorang laki-laki yang ikut serta dalam perang Badar dan juga bagiannya (dari harta rampasan perang).” (HR. Bukhari).
Kesetiaan Utsman bin Affan Merawat Ruqayyah
Utsman bin Affan menjalankan perintah Nabi Muhammad SAW dengan penuh rasa tanggung jawab. Beliau mendampingi Ruqayyah siang dan malam selama masa kritis penyakit yang sangat mematikan tersebut. Utsman memberikan perawatan terbaik dan doa yang tidak pernah putus untuk kesembuhan istrinya. Namun, takdir Allah SWT ternyata memiliki rencana lain bagi putri tercinta Rasulullah tersebut. Ruqayyah terus berjuang melawan rasa sakit hebat saat ayahnya sedang memimpin peperangan.
Seluruh perhatian Utsman tercurah sepenuhnya untuk menjaga kenyamanan Ruqayyah dalam kondisi yang sulit. Beliau tidak pernah meninggalkan sisi tempat tidur Ruqayyah demi memastikan segala kebutuhannya terpenuhi. Keteladanan Utsman dalam merawat istri menjadi pelajaran berharga bagi seluruh umat Islam. Beliau membuktikan bahwa pengabdian dalam rumah tangga memiliki nilai pahala yang setara dengan jihad. Suasana Madinah terasa sangat sunyi karena sebagian besar kaum laki-laki sedang berada di Badar.
Kabar Kemenangan dan Kepergian Sang Putri
Detik-detik wafatnya Ruqayyah terjadi tepat saat utusan Nabi membawa berita kemenangan ke Madinah. Zaid bin Harithah memacu kudanya dengan cepat untuk menyebarkan kabar gembira kemenangan Badar. Namun, ia justru mendapati suasana duka yang sangat mendalam di kediaman Utsman bin Affan. Ruqayyah baru saja mengembuskan napas terakhirnya sebelum sang ayah kembali dari medan pertempuran. Kemenangan besar tersebut harus bersanding dengan tangis kehilangan atas wafatnya putri Nabi.
Warga Madinah segera membantu proses pemakaman Ruqayyah dengan penuh rasa hormat dan kesedihan. Utsman bin Affan memakamkan istri tercintanya di pemakaman Baqi’ yang sangat mulia di Madinah. Beliau menahan air mata saat meletakkan jenazah Ruqayyah ke dalam liang lahat yang sempit. Rakyat Madinah merasakan kehilangan sosok wanita yang sangat sabar dan penuh dengan kelembutan tersebut. Berita kemenangan Badar seolah menjadi penghibur sekaligus penambah rasa duka bagi para sahabat.
Kepulangan Rasulullah ke Madinah
Rasulullah SAW tiba di Madinah setelah menyelesaikan seluruh urusan penting di lembah Badar. Beliau langsung mendengar kabar mengenai wafatnya Ruqayyah yang telah dimakamkan oleh para sahabat. Nabi Muhammad SAW segera menuju makam Ruqayyah untuk memberikan penghormatan terakhir kepada putrinya. Beliau berdiri di depan pusara Ruqayyah dengan wajah yang sangat sedih namun tetap tegar. Air mata membasahi wajah mulia Nabi saat mendoakan kebaikan bagi jiwa sang putri.
Beliau menunjukkan kesabaran yang sangat luar biasa dalam menghadapi ujian kehilangan anak tersebut. Rasulullah menghibur Utsman bin Affan dan seluruh keluarga yang sedang berduka dengan penuh kasih. Beliau mengingatkan bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah kehendak Allah semata. Peristiwa ini semakin mempererat ikatan batin antara Nabi Muhammad SAW dan Utsman bin Affan. Ruqayyah pergi meninggalkan jejak kemuliaan yang akan selalu dikenang oleh sejarah Islam selamanya.
Kesimpulan
Detik-detik wafatnya Ruqayyah mengajarkan kita tentang arti kesabaran di tengah dinamika suka dan duka. Kemenangan duniawi tidak pernah luput dari ujian spiritual yang menguji keteguhan iman seorang mukmin. Kita melihat betapa Rasulullah dan keluarganya senantiasa berada di garis depan dalam memberikan pengorbanan. Al-Qur’an dan Sunnah menjadi pemandu utama dalam menghadapi setiap ketentuan pahit yang datang. Semoga kita mampu meneladani ketabahan Ruqayyah dan kesetiaan Utsman bin Affan dalam kehidupan kita. Mari kita jadikan sejarah ini sebagai motivasi untuk terus meningkatkan kualitas ibadah kita.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
