Beranda » Berita » Perjalanan Isra Mi’raj dan Kaitannya dengan Persiapan Syariat Puasa

Perjalanan Isra Mi’raj dan Kaitannya dengan Persiapan Syariat Puasa

Perjalanan Isra Mi’raj merupakan peristiwa yang sangat luar biasa dalam sejarah besar umat Islam. Allah SWT memperjalankan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa dalam semalam. Kemudian, Nabi naik menuju Sidratul Muntaha untuk menerima perintah shalat lima waktu. Peristiwa ini terjadi pada masa sulit saat Nabi mengalami banyak tekanan di Makkah. Perjalanan Isra Mi’raj memberikan kekuatan spiritual yang sangat besar bagi diri Rasulullah SAW. Kekuatan batin ini menjadi pondasi penting sebelum syariat puasa turun secara resmi nantinya.

Dasar Kemuliaan Perjalanan Malam

Allah SWT menjelaskan kemuliaan peristiwa agung ini dalam Al-Qur’an surat Al-Isra ayat pertama. Allah SWT berfirman dalam kitab suci tersebut dengan kalimat yang sangat indah:

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha.” (QS. Al-Isra: 1).

Kutipan tersebut menegaskan bahwa Allah sendiri yang mengatur perjalanan suci hamba pilihan-Nya tersebut. Perjalanan Isra Mi’raj dan ibadah puasa memiliki kaitan erat dalam aspek penyucian jiwa manusia. Sebelum menempuh perjalanan langit, Malaikat Jibril membelah dada Nabi Muhammad SAW untuk dibersihkan. Jibril menggunakan air zamzam untuk menghilangkan segala kotoran dari dalam hati sang Nabi. Proses penyucian ini sangat mirip dengan tujuan utama dari ibadah puasa Ramadhan setiap tahun.

Puasa sebagai Bentuk Mikraj Ruhani

Puasa bekerja secara efektif membersihkan batin manusia dari pengaruh negatif hawa nafsu yang liar. Kita mempersiapkan diri lahir dan batin untuk mendekat kepada Sang Pencipta alam semesta. Ibadah shalat hasil Perjalanan Isra Mi’raj merupakan bentuk “Mi’raj” bagi setiap orang beriman. Melalui shalat, seorang hamba menjalin komunikasi langsung dengan Allah yang Maha Kuasa secara khusyuk. Begitu juga dengan ibadah puasa yang Allah wajibkan kepada umat Muslim di Madinah.

Detik-Detik Wafatnya Ruqayyah: Duka Menyelimuti Kemenangan Besar Badar

Ibadah puasa mengangkat derajat spiritual manusia melampaui kebutuhan fisik yang bersifat sangat sementara. Perjalanan Isra Mi’raj memberikan pelajaran berharga tentang kedisiplinan dan juga keteguhan iman yang kokoh. Nilai-nilai inilah yang menjadi modal utama dalam menjalankan ibadah puasa seharian penuh. Seorang Muslim yang disiplin shalat pasti akan lebih mudah menjalankan kewajiban puasa dengan benar. Shalat melatih kesabaran, sementara puasa menguji konsistensi kita dalam mempertahankan kesabaran tersebut sepanjang hari.

Urutan Syariat dan Penguatan Mental

Allah menurunkan perintah puasa Ramadhan pada tahun kedua setelah Nabi Muhammad SAW berhijrah. Namun, persiapan mental umat Islam sebenarnya sudah bermula sejak peristiwa Perjalanan Isra Mi’raj berlangsung. Penguatan akidah melalui ibadah shalat lima waktu membentuk karakter Muslim yang sangat disiplin. Tanpa pondasi shalat yang kuat, seseorang akan kesulitan menghadapi tantangan berat ibadah puasa. Shalat dan puasa saling mendukung untuk membentuk pribadi yang bertakwa secara utuh dan sempurna.

Kedua ibadah ini merupakan rukun Islam yang sangat vital bagi setiap orang beriman. Perjalanan Isra Mi’raj mengajarkan kita untuk melampaui batas-batas logika manusia yang sangat terbatas. Ibadah puasa juga menuntut kita meyakini janji pahala ghaib yang Allah SWT berikan. Kita belajar sabar menghadapi rasa lapar demi mendapatkan kedekatan dengan Tuhan semesta alam. Rasulullah SAW memberikan teladan sempurna dalam menggabungkan dimensi shalat dan dimensi puasa secara harmonis.

Hikmah Isra Mi’raj Menjelang Ramadhan

Perjalanan langit tersebut membuka cakrawala pemikiran manusia tentang kekuasaan Allah yang tiada batas. Spiritualitas Perjalanan Isra Mi’raj harus terus hidup dalam setiap detik ibadah puasa yang kita jalani. Kita harus memahami bahwa shalat adalah tiang agama dan puasa adalah perisai bagi mukmin. Keduanya berfungsi sebagai sarana untuk membersihkan diri dari noda dosa dan kesalahan masa lalu. Umat Islam biasanya memperingati Isra Mi’raj pada bulan Rajab sebagai pintu awal menuju Ramadhan.

Jarak waktu antara bulan Rajab dan Ramadhan memberikan kesempatan bagi kita untuk bersiap diri. Kita mulai mengatur pola pikir dan aktivitas agar lebih fokus pada urusan ibadah akhirat. Perjalanan Isra Mi’raj mengingatkan kita bahwa ada tujuan mulia di balik setiap kesulitan hidup manusia. Puasa melatih kita untuk meninggalkan kesenangan sesaat demi meraih kebahagiaan abadi di sisi Allah. Mari kita sambut bulan puasa dengan semangat spiritual yang kita petik dari peristiwa Mi’raj.

Sahabat Menahan Lapar Perang Khandaq: Ketabahan Luar Biasa di Balik Parit Madinah

Kesimpulan

Perjalanan Isra Mi’raj dan syariat puasa adalah dua elemen penting yang membangun integritas seorang Muslim. Al-Qur’an dan Sunnah memberikan panduan lengkap bagi kita untuk meraih keberhasilan dalam kedua ibadah tersebut. Kita harus menjadikan shalat sebagai sarana untuk menguatkan ketahanan puasa kita setiap hari. Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah dan mengampuni segala dosa yang pernah kita lakukan. Selamat menempuh perjalanan spiritual menuju derajat takwa yang paling mulia dan juga sangat tinggi. Dengan memahami sejarah ini, puasa kita akan terasa lebih bermakna dan penuh dengan keberkahan.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.