Ramadan
Beranda » Berita » Kisah Penghancuran Berhala Latta, Uzza, dan Manat di Pertengahan Ramadhan

Kisah Penghancuran Berhala Latta, Uzza, dan Manat di Pertengahan Ramadhan

Peristiwa Fathu Makkah pada tahun ke-8 Hijriah menjadi tonggak sejarah kemenangan iman yang sangat luar biasa bagi umat Islam. Kemenangan agung ini terjadi pada bulan suci Ramadhan saat Rasulullah SAW berhasil menguasai kembali kota suci Makkah tanpa peperangan besar. Namun, pembebasan kota tersebut belum lengkap tanpa pembersihan total dari sisa-sisa praktik kesyirikan yang telah berakar sangat lama. Rasulullah SAW segera memerintahkan penghancuran tiga berhala paling utama milik kaum musyrikin Arab, yaitu Latta, Uzza, dan Manat. Misi suci ini bertujuan untuk menegakkan kalimat tauhid dan menghapus segala bentuk penyembahan kepada selain Allah SWT.

Kemenangan Cahaya Tauhid dalam Al-Qur’an

Saat memasuki kawasan Ka’bah, Rasulullah SAW langsung menghancurkan ratusan berhala kecil yang mengelilingi rumah suci tersebut. Beliau menusuk berhala-berhala itu menggunakan tongkatnya hingga jatuh tersungkur dan hancur berkeping-keping di atas tanah. Pada momen yang sangat bersejarah tersebut, Rasulullah SAW membacakan sebuah ayat suci Al-Qur’an sebagai pernyataan kemenangan kebenaran. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Isra ayat 81 yang berbunyi:

“Dan katakanlah: ‘Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap’. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. Al-Isra: 81).

Kutipan tersebut menjelaskan bahwa kebatilan tidak akan pernah bisa bertahan lama saat cahaya kebenaran telah datang menyinari bumi. Penghancuran berhala-berhala ini menjadi simbol runtuhnya dominasi kegelapan jahiliyah yang selama ini membelenggu akal pikiran masyarakat Makkah. Rasulullah SAW ingin memastikan bahwa kota Makkah benar-benar bersih dari noda syirik sebelum beliau meninggalkan tempat tersebut. Misi pembersihan ini kemudian berlanjut ke wilayah-wilayah di luar kota Makkah untuk merobohkan berhala-berhala besar lainnya.

Khalid bin Walid Meruntuhkan Uzza

Berhala Uzza merupakan salah satu dewi utama yang mendapatkan penghormatan sangat tinggi dari suku Quraisy dan suku Ghathafan. Uzza terletak di daerah Nakhlah dan memiliki pelayan-pelayan khusus yang menjaganya dengan sangat ketat selama bertahun-tahun. Lima hari sebelum bulan Ramadhan berakhir, Rasulullah SAW mengirim Khalid bin Walid untuk menghancurkan berhala yang sangat populer ini. Khalid berangkat membawa pasukan berkuda dan langsung menebas pohon-pohon keramat serta meruntuhkan bangunan tempat tinggal Uzza tersebut.

Konsep Halalan Ṭayyiban dalam Konsumsi Makanan

Ia tidak merasakan keraguan sedikit pun saat melakukan tugas berat untuk menghapus simbol kesyirikan yang sangat diagungkan itu. Khalid membuktikan bahwa kekuatan iman jauh lebih besar daripada rasa takut terhadap mitos-mitos kuno buatan manusia. Penghancuran Uzza menandai berakhirnya era penyembahan makhluk yang seringkali meminta tumbal dan penghormatan secara berlebihan dari masyarakat. Berita keruntuhan Uzza menyebar sangat cepat ke seluruh penjuru jazirah Arab dan mengguncang mental kaum musyrikin lainnya.

Penghancuran Manat di Tepi Laut

Manat adalah berhala tertua yang disembah oleh suku Aus, Khazraj, dan beberapa suku lainnya di wilayah sekitar Madinah. Lokasi berhala ini berada di Al-Mushallal, sebuah tempat yang terletak di tepi laut merah antara Makkah dan Madinah. Rasulullah SAW menugaskan Sa’d bin Zaid al-Ashhali bersama dua puluh pasukan penunggang kuda untuk mendatangi dan menghancurkannya. Sa’d menjalankan perintah tersebut dengan penuh keteguhan hati saat bulan suci Ramadhan masih berlangsung dengan penuh keberkahan.

Penghancuran Manat membebaskan penduduk Madinah dari sisa-sisa tradisi jahiliyah yang masih melekat dalam ingatan kolektif mereka selama ini. Tindakan tegas ini menunjukkan bahwa Islam tidak memberikan ruang sedikit pun bagi praktik penyembahan kepada benda-benda mati. Masyarakat mulai menyadari bahwa berhala-berhala tersebut tidak memiliki kekuatan apa pun untuk memberikan manfaat atau mendatangkan bahaya. Kejatuhan Manat melengkapi rangkaian kemenangan tauhid atas dewa-dewa palsu yang selama ini menghalangi hidayah bagi umat manusia.

Al-Lat dan Berakhirnya Era Kegelapan di Taif

Latta atau Al-Lat merupakan berhala besar berbentuk batu persegi yang sangat disembah oleh penduduk kota Taif. Meskipun penghancuran fisiknya terjadi sedikit setelah Fathu Makkah, rencana pembersihan ini sudah Rasulullah SAW canangkan sejak bulan Ramadhan. Berhala ini memiliki sejarah panjang sebagai tempat orang-orang mencari keberkahan semu melalui cara-cara yang sangat keliru. Rasulullah SAW mengirim rombongan yang dipimpin oleh Al-Mughirah bin Shu’bah dan Abu Sufyan bin Harb untuk meruntuhkan Latta.

Penduduk Taif hanya bisa terdiam melihat berhala kebanggaan mereka hancur berkeping-keping tanpa ada pembelaan dari kekuatan gaib mana pun. Peristiwa ini membuka mata hati mereka untuk segera memeluk agama Islam secara tulus dan tanpa adanya rasa paksaan. Penghancuran Latta menutup babak terakhir dari sejarah penyembahan berhala-berhala besar di wilayah jazirah Arab pada masa kenabian. Cahaya tauhid kini bersinar terang tanpa ada lagi penghalang berupa patung atau batu yang disembah manusia.

Fathu Makkah: Penaklukan Damai Tanpa Tetesan Darah di Bulan Suci

Kesimpulan

Kisah penghancuran berhala Latta, Uzza, dan Manat mengajarkan kita tentang pentingnya menjaga kemurnian akidah dalam setiap aspek kehidupan. Rasulullah SAW memanfaatkan momentum Ramadhan untuk melakukan transformasi spiritual yang sangat mendasar bagi seluruh umat manusia di bumi. Al-Qur’an dan Sunnah menjadi panduan utama dalam menghapus segala bentuk kesyirikan modern yang mungkin masih ada saat ini. Mari kita bersihkan hati kita dari “berhala-berhala” batiniah seperti kesombongan, ketamakan, dan juga rasa cinta dunia yang berlebihan. Semoga kita selalu berada di jalan tauhid yang lurus dan mendapatkan rida Allah SWT selamanya di dunia dan akhirat.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.