Sejarah peradaban Islam menyimpan banyak catatan gemilang mengenai kemajuan ilmu pengetahuan yang sangat luar biasa. Namun, lembaran sejarah tersebut juga memuat kisah-kisah memilukan tentang penganiayaan terhadap para pemikir besar. Tragedi pembunuhan cendekiawan Muslim seringkali terjadi akibat pusaran fitnah politik yang sangat kejam dan sistematis. Para politisi masa lalu terkadang menggunakan tuduhan agama untuk menyingkirkan lawan-lawan intelektual yang berpengaruh. Fitnah ini tidak hanya merenggut nyawa individu, tetapi juga menghancurkan aset berharga bagi masa depan peradaban.
Alat Politik di Balik Tuduhan Sesat
Kekuasaan seringkali merasa terancam oleh pemikiran kritis para cendekiawan yang memiliki integritas tinggi. Para penguasa yang zalim biasanya menggunakan tangan-tangan ulama istana untuk menciptakan fitnah yang mematikan. Tuduhan bid’ah atau keluar dari ajaran agama menjadi senjata paling ampuh untuk menghancurkan reputasi seseorang. Ketika masyarakat sudah terhasut, penguasa dengan mudah mengeksekusi cendekiawan tersebut atas nama membela kesucian agama.
Al-Qur’an sendiri telah memberikan peringatan yang sangat tegas mengenai bahaya dari perilaku fitnah ini. Allah SWT berfirman dalam kitab suci mengenai kekejaman tindakan tersebut:
“Dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan.” (QS. Al-Baqarah: 191).
Kutipan tersebut menjelaskan bahwa fitnah dapat menghancurkan tatanan sosial dan merusak kebenaran secara luas. Dalam sejarah, fitnah politik telah membuat banyak perpustakaan kehilangan guru-guru terbaiknya secara tragis. Ilmu pengetahuan mengalami kemunduran ketika ketakutan mulai menghantui pikiran para cendekiawan yang ingin bersuara jujur. Intrik kekuasaan seringkali menutup pintu dialog dan menggantinya dengan tajamnya mata pedang yang sangat mematikan.
Kisah Tragis Suhrawardi al-Maqtul
Salah satu tokoh yang menjadi korban keganasan fitnah politik adalah Syihabuddin al-Suhrawardi atau Suhrawardi al-Maqtul. Para ulama di Aleppo merasa terancam oleh kedalaman pemikiran filsafat cahaya yang beliau ajarkan saat itu. Mereka menghasut Sultan Salahuddin Al-Ayyubi agar menjatuhkan hukuman mati kepada cendekiawan muda yang sangat brilian tersebut. Tuduhan menyebarkan ajaran sesat menjadi alat politik untuk melegitimasi pembunuhan terhadap pemikir yang sangat kritis.
Suhrawardi akhirnya mengembuskan napas terakhirnya di penjara karena intrik politik yang sangat kotor dan penuh kebencian. Kepergiannya merupakan kehilangan besar bagi khazanah filsafat Islam yang sedang tumbuh pesat pada masa itu. Penguasa lebih memilih stabilitas politik jangka pendek daripada kemajuan ilmu pengetahuan jangka panjang yang bermanfaat. Tragedi ini menjadi pengingat pahit tentang bagaimana kekuasaan dapat meredupkan cahaya kebenaran dengan sangat mudah.
Peristiwa Mihna: Penganiayaan atas Nama Ideologi
Masa pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun juga memunculkan tragedi intelektual besar yang sangat terkenal dengan sebutan Mihna. Penguasa memaksa para ulama untuk mengikuti doktrin teologi tertentu demi kepentingan stabilitas politik negara semata. Imam Ahmad bin Hanbal merupakan salah satu tokoh utama yang menolak tunduk pada tekanan penguasa tersebut. Beliau mengalami siksaan fisik yang sangat hebat karena mempertahankan integritas keilmuan dan juga keyakinan aslinya.
Meskipun Imam Ahmad selamat dari pembunuhan, banyak cendekiawan lain yang harus kehilangan nyawa dalam periode kelam tersebut. Penguasa memenjarakan dan menyiksa siapa saja yang berani berbeda pendapat dengan ideologi resmi negara yang berlaku. Fitnah politik dalam peristiwa Mihna telah memecah belah persatuan umat dan melemahkan kekuatan intelektual Islam. Hal ini membuktikan bahwa campur tangan politik yang terlalu jauh dalam urusan ilmu selalu berujung bencana.
Dampak Penghancuran Intelektual bagi Peradaban
Pembunuhan cendekiawan Muslim mengakibatkan terputusnya rantai transmisi ilmu pengetahuan yang sangat penting bagi generasi mendatang. Setiap satu nyawa cendekiawan yang melayang, ribuan gagasan cemerlang ikut terkubur bersama jasad mereka ke liang lahat. Masyarakat kehilangan sosok teladan yang mampu memberikan bimbingan moral dan intelektual di tengah kekacauan zaman. Hal ini memberikan celah bagi munculnya kebodohan dan radikalisme yang merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa.
Sejarah mengajarkan kita bahwa kemajuan sebuah bangsa sangat bergantung pada cara mereka menghargai para pemikirnya. Bangsa yang membiarkan fitnah politik menghancurkan intelektualnya akan segera mengalami kebangkrutan peradaban yang sangat parah. Kita harus belajar dari masa lalu agar tidak mengulangi kesalahan yang sama di era modern. Melindungi kebebasan berpikir merupakan tugas suci untuk menjaga keberlangsungan ilmu pengetahuan dan juga nilai kemanusiaan.
Kesimpulan
Tragedi pembunuhan cendekiawan Muslim akibat fitnah politik adalah noktah hitam yang harus kita renungkan bersama. Kita harus terus memperjuangkan iklim intelektual yang sehat dan bebas dari intimidasi kekuasaan mana pun. Al-Qur’an dan Sunnah menuntut kita untuk selalu menjunjung tinggi kebenaran meskipun terasa sangat pahit. Mari kita jaga para pemikir dan ulama kita dari segala bentuk fitnah yang dapat merugikan umat. Semoga cahaya ilmu pengetahuan selalu bersinar terang tanpa terhalangi oleh gelapnya intrik politik yang kotor.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
