Sejarah perjalanan umat Islam menyimpan catatan kelam mengenai penindasan terhadap para pemikir yang sangat menjunjung tinggi nilai keadilan. Salah satu peristiwa yang paling menyayat hati adalah kisah tragis eksekusi ulama besar bernama Sa’id bin Jubayr. Beliau menghadapi ajal di tangan penguasa zalim, Al-Hajjaj bin Yusuf Al-Thaqafi, pada pengujung bulan suci Ramadhan. Peristiwa ini menjadi pengingat abadi tentang betapa mahalnya harga sebuah kebenaran di depan penguasa yang sangat tiran. Meskipun maut berada di depan mata, sang ulama tidak pernah sedikit pun menunjukkan rasa takut kepada sang algojo.
Sosok Ulama yang Menjadi Pelita Ilmu
Sa’id bin Jubayr merupakan salah satu tokoh tabi’in paling cerdas dan juga sangat dihormati pada masanya. Beliau merupakan murid kesayangan dari sahabat Nabi, Abdullah bin Abbas, sehingga memiliki kedalaman ilmu tafsir yang luar biasa. Penduduk Kufah sangat mencintai beliau karena akhlaknya yang mulia dan keberaniannya dalam menyuarakan kebenaran kepada siapa pun. Namun, integritas moralnya yang tinggi justru membuatnya menjadi target utama pengejaran oleh penguasa yang merasa sangat terancam. Al-Hajjaj menganggap kritik pedas dari Sa’id sebagai bentuk pemberontakan yang harus segera ia padamkan dengan cara kekerasan.
Selama bertahun-tahun, Sa’id harus hidup dalam persembunyian demi menghindari kejaran pasukan pengawal Al-Hajjaj yang sangat kejam. Namun, takdir akhirnya mempertemukan sang ulama dengan penguasa yang haus darah tersebut di sebuah penjara yang sangat gelap. Meskipun tubuhnya sudah renta, semangat juang dalam jiwanya tetap membara seperti api yang tidak pernah padam. Sa’id tetap teguh memegang prinsip bahwa ketaatan kepada makhluk tidak boleh melampaui ketaatan kepada Sang Pencipta.
Dialog Terakhir yang Menggetarkan Singgasana
Pertemuan antara Sa’id bin Jubayr dan Al-Hajjaj menjadi salah satu dialog yang paling legendaris dalam catatan sejarah Islam. Al-Hajjaj berusaha mengintimidasi sang ulama dengan berbagai ancaman siksaan yang sangat pedih dan juga sangat mengerikan. Namun, Sa’id justru menanggapi setiap ancaman tersebut dengan ketenangan batin yang luar biasa dan kata-kata yang tajam. Keteguhan hati sang ulama membuat sang penguasa semakin murka dan kehilangan kendali atas emosi dirinya yang meledak.
Saat Al-Hajjaj memerintahkan pasukannya untuk menyembelih Sa’id, sang ulama justru tersenyum dan membacakan ayat suci Al-Qur’an. Beliau melontarkan kutipan doa yang sangat masyhur sebelum pedang tajam mencabut nyawanya dari raga yang sudah sangat lemah:
“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar.” (QS. Al-An’am: 79).
Kutipan tersebut menunjukkan kepasrahan total seorang hamba kepada Allah SWT saat menghadapi ketidakadilan yang dilakukan oleh sesama manusia. Sa’id bin Jubayr membuktikan bahwa kekuatan iman jauh lebih besar daripada kekuatan militer mana pun di atas dunia. Kematian bagi beliau adalah gerbang menuju kebahagiaan abadi di sisi Allah yang Maha Adil dan Maha Penyayang. Kisah tragis eksekusi ulama ini tetap hidup dalam ingatan setiap generasi Muslim yang mencintai nilai-nilai kebenaran.
Doa Terakhir dan Nasib Sang Penguasa Zalim
Sebelum algojo mengayunkan pedangnya, Sa’id bin Jubayr sempat memanjatkan sebuah doa yang sangat menggetarkan hati seluruh orang. Beliau memohon kepada Allah agar Al-Hajjaj tidak diberikan kekuasaan untuk membunuh siapa pun lagi setelah kematian dirinya. Doa tersebut ternyata dikabulkan oleh Allah SWT dalam waktu yang sangat singkat dan dengan cara yang sangat tragis. Hanya beberapa hari setelah mengeksekusi Sa’id, Al-Hajjaj menderita sakit parah yang membuat seluruh tubuhnya merasa terbakar hebat.
Masyarakat menyaksikan sang penguasa berteriak histeris karena merasa selalu melihat bayangan Sa’id bin Jubayr yang datang menuntut balas. Al-Hajjaj akhirnya meninggal dalam kondisi yang sangat mengenaskan dan membawa beban dosa yang sangat besar di pundaknya. Kekuasaan yang ia bangun dengan darah rakyat jelata ternyata runtuh seketika setelah ia membunuh kekasih Allah tersebut. Kematian sang ulama justru menjadi awal dari kehancuran sang penguasa zalim yang selama ini sangat ditakuti.
Pelajaran Berharga bagi Pejuang Keadilan
Kisah tragis eksekusi ulama Sa’id bin Jubayr memberikan pelajaran penting tentang arti konsistensi dalam memegang teguh sebuah prinsip. Kita harus berani mengatakan yang benar meskipun dunia sedang menentang kita dengan segala macam ancaman dan rayuan. Ramadhan adalah bulan pendidikan bagi setiap Muslim untuk memperkuat daya tahan mental terhadap segala bentuk godaan hawa nafsu. Sosok Sa’id adalah teladan nyata tentang bagaimana puasa mampu membentuk pribadi yang sangat tangguh dan juga sangat berintegritas.
Keberanian beliau menjadi inspirasi bagi para aktivis kemanusiaan di seluruh penjuru dunia untuk tetap melawan setiap bentuk penindasan. Kita tidak boleh diam melihat kezaliman terjadi di depan mata hanya karena kita merasa takut akan risiko fisik. Kematian seorang ulama yang mempertahankan kebenaran adalah sebuah kemenangan spiritual yang akan selalu abadi sepanjang masa. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari ketabahan Sa’id bin Jubayr dalam menjalani sisa usianya yang penuh berkah.
Kesimpulan
Kisah tragis eksekusi ulama di bulan puasa ini mengajarkan kita bahwa kebenaran akan selalu menang pada akhirnya nanti. Al-Hajjaj bin Yusuf mungkin memiliki kekuasaan duniawi, namun Sa’id bin Jubayr memiliki kemuliaan yang kekal di akhirat kelak. Mari kita jadikan kisah ini sebagai cermin untuk mengevaluasi kualitas iman dan juga keberanian kita masing-masing. Al-Qur’an dan Sunnah selalu memerintahkan kita untuk berdiri di barisan orang-orang yang jujur dan juga yang bertakwa. Semoga Allah SWT merahmati ruh suci Sa’id bin Jubayr dan mengumpulkan kita bersama para syuhada yang sangat setia.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
