Sejarah peradaban Islam mencatat sebuah peristiwa kelam yang terjadi pada tahun 18 Hijriah atau sekitar tahun 639 Masehi. Saat itu, sebuah pandemi mematikan melanda wilayah Syam, khususnya di sebuah desa bernama Amwas yang terletak dekat Yerusalem. Peristiwa ini kemudian populer dengan sebutan Wabah Amwas atau Thoun Amwas dalam literatur sejarah klasik para ulama. Pandemi ini tidak hanya menyerang rakyat jelata, tetapi juga merenggut nyawa para sahabat terbaik Rasulullah SAW yang sangat mulia. Kejadian ini memberikan pelajaran berharga mengenai manajemen krisis dan ketabahan iman dalam menghadapi musibah yang sangat besar.
Awal Mula dan Penyebaran Wabah di Wilayah Syam
Wabah ini bermula dari desa Amwas dan menyebar dengan sangat cepat ke seluruh penjuru wilayah Syam atau Suriah. Bakteri mematikan tersebut memicu pembengkakan pada kelenjar getah bening yang mengakibatkan kematian dalam waktu yang sangat singkat. Kondisi sanitasi dan perpindahan pasukan militer pada masa itu mempercepat penyebaran penyakit ke berbagai kota-kota besar sekitarnya. Ribuan orang meninggal dunia setiap harinya sehingga menciptakan suasana mencekam di seluruh wilayah perbatasan kekhalifahan Islam tersebut. Khalifah Umar bin Khattab segera mengambil langkah-langkah strategis untuk melindungi keselamatan seluruh umat Islam dari ancaman maut.
Debat Keputusan Umar bin Khattab di Sargh
Ketika berita wabah sampai ke Madinah, Khalifah Umar bin Khattab sedang melakukan perjalanan dinas menuju wilayah Syam yang luas. Beliau bertemu dengan para komandan pasukan di sebuah tempat bernama Sargh untuk mendiskusikan situasi keamanan yang sedang genting. Umar bin Khattab menghadapi pilihan sulit antara terus melanjutkan perjalanan atau kembali ke Madinah demi keselamatan rombongan kepresidenan. Setelah melakukan musyawarah panjang, Umar akhirnya memutuskan untuk membatalkan rencana masuk ke wilayah yang sedang terjangkit wabah tersebut. Keputusan ini sempat memicu perdebatan sengit dengan panglima Abu Ubaidah bin al-Jarrah mengenai konsep takdir Allah yang hakiki.
Abu Ubaidah bertanya apakah Umar sedang berusaha lari dari takdir Allah SWT yang sudah tertulis di Lauhul Mahfudz. Umar bin Khattab menjawab dengan sangat cerdas bahwa beliau hanya berpindah dari satu takdir Allah ke takdir lainnya. Beliau kemudian merujuk pada tuntunan Rasulullah SAW yang sangat jelas mengenai protokol kesehatan saat terjadi sebuah pandemi mematikan:
“Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka janganlah tinggalkan tempat itu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kutipan hadis tersebut menjadi dasar hukum bagi kebijakan karantina wilayah atau lockdown dalam perspektif ajaran agama Islam. Umar bin Khattab menunjukkan kepemimpinan yang sangat rasional dengan mengutamakan keselamatan jiwa di atas segala urusan protokol kenegaraan. Kebijakan ini membuktikan bahwa Islam sangat menghargai sains dan logika dalam menghadapi fenomena alam yang sangat berbahaya.
Kehilangan Para Sahabat Terbaik Rasulullah
Wabah Amwas merenggut sekitar 25.000 hingga 30.000 nyawa umat Islam, termasuk beberapa sosok pemimpin militer yang sangat jenius. Abu Ubaidah bin al-Jarrah, sang “Kepercayaan Umat”, menjadi salah satu korban pertama yang wafat akibat penyakit mematikan ini. Setelah itu, sahabat Muadh bin Jabal yang sangat alim dalam bidang ilmu fikih juga menyusul wafat di tempat tersebut. Yazid bin Abi Sufyan, seorang gubernur yang sangat cakap, juga mengembuskan napas terakhirnya karena serangan wabah yang sama. Kehilangan para tokoh besar ini merupakan pukulan yang sangat berat bagi stabilitas politik dan militer kekhalifahan Umar bin Khattab.
Umar merasa sangat sedih kehilangan para sahabat yang telah berjuang bersama Rasulullah sejak masa-masa awal dakwah di Makkah. Meskipun demikian, para sahabat yang wafat tersebut mendapatkan kemuliaan sebagai syahid dalam pandangan ajaran agama Islam yang luhur. Mereka menunjukkan ketabahan luar biasa dan tetap menjalankan tugas kepemimpinan hingga titik darah penghabisan di medan tugas mereka. Semangat pengabdian mereka menjadi inspirasi bagi generasi Muslim selanjutnya dalam menghadapi ujian hidup yang sangat berat dan menantang.
Strategi Amr bin al-Aas Mengakhiri Pandemi
Setelah kepemimpinan beralih ke tangan Amr bin al-Aas, sebuah strategi baru mulai diterapkan untuk memutus rantai penularan wabah. Amr bin al-Aas menyadari bahwa kerumunan orang di dalam kota justru mempercepat penyebaran bakteri yang sangat mematikan tersebut. Beliau memerintahkan seluruh penduduk untuk meninggalkan pemukiman dan berpencar menuju daerah pegunungan yang memiliki udara lebih segar. Amr menganalogikan wabah seperti api yang membutuhkan bahan bakar untuk terus berkobar dan membakar segala sesuatu di sekitarnya. Dengan memisahkan jarak antarmanusia, bakteri kehilangan “bahan bakar” untuk berpindah dari satu orang ke orang yang lainnya.
Strategi social distancing ini terbukti sangat efektif dalam menurunkan angka kematian secara signifikan dalam waktu yang relatif singkat. Perlahan tapi pasti, Wabah Amwas mulai mereda dan kehidupan masyarakat di wilayah Syam kembali berjalan secara normal seperti semula. Amr bin al-Aas menunjukkan bahwa inovasi dalam strategi manajemen bencana sangat diperlukan untuk menyelamatkan nyawa banyak orang. Keberhasilan ini mengakhiri salah satu pandemi paling mematikan dalam sejarah awal perkembangan agama Islam di muka bumi.
Kesimpulan
Wabah Amwas memberikan pelajaran abadi mengenai pentingnya kesiapan mental dan kebijakan yang tepat saat menghadapi krisis kesehatan global. Kita belajar dari Umar bin Khattab tentang kearifan dalam mengambil keputusan sulit demi kemaslahatan masyarakat yang lebih luas. Islam telah meletakkan dasar-dasar karantina kesehatan jauh sebelum dunia kedokteran modern berkembang dengan sangat pesat seperti sekarang. Mari kita ambil hikmah dari perjuangan para sahabat dalam menjaga amanah kepemimpinan di tengah situasi yang sangat sulit. Semoga kita selalu mendapatkan perlindungan dari Allah SWT dari segala jenis penyakit dan marabahaya yang mengancam kehidupan kita.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
