Ramadan
Beranda » Berita » Kisah Pengungsi Suriah di Eropa: Merindukan Suasana Ramadhan yang Hilang

Kisah Pengungsi Suriah di Eropa: Merindukan Suasana Ramadhan yang Hilang

Arbeitsbesuch von Bundesminister Sebastian Kurz in Mazedonien. Besuch der FlŸchtlingsstršme am GrenzŸbergang Gevgelija. Mazedonien, 24.08.2015, Foto: Dragan Tatic

Ramadhan di Eropa menghadirkan tantangan emosional yang sangat mendalam bagi ribuan pengungsi asal Suriah yang tinggal di sana saat ini. Mereka harus menjalani ibadah puasa di tengah lingkungan budaya yang sangat berbeda jauh dengan kampung halaman mereka yang tercinta. Rasa rindu terhadap suasana hangat dan penuh kebersamaan di Suriah seringkali menyelimuti hati para pengungsi setiap kali matahari terbenam. Bagi mereka, Ramadhan bukan sekadar menahan lapar, melainkan tentang memori manis yang kini telah hilang akibat konflik bersenjata berkepanjangan. Perjuangan batin ini seringkali terasa jauh lebih berat daripada rasa haus yang mereka rasakan selama menjalankan ibadah puasa tersebut.

Suara Masa Lalu yang Tidak Terdengar Lagi

Salah satu hal yang paling mereka rindukan adalah suara tabuhan gendang dari Musaharati yang membangunkan warga untuk makan sahur. Di kota-kota besar Eropa yang sangat sibuk, suasana sahur terasa sangat sepi dan juga hampa tanpa adanya sentuhan tradisi. Tidak ada suara azan yang berkumandang merdu dari menara masjid untuk menandai waktu berbuka puasa bagi para pemeluk Islam. Suasana jalanan yang sunyi tanpa hiasan lampu warna-warni menambah rasa kesepian bagi para pengungsi yang merindukan rumah mereka. Seorang pengungsi di Jerman mengungkapkan kerinduannya yang sangat mendalam terhadap suasana Ramadhan di Suriah dalam sebuah sesi wawancara:

“Ramadhan di sini sangat berbeda; kami merindukan suara azan, keluarga, dan aroma masakan ibu yang memenuhi seluruh ruangan rumah.”

Kutipan tersebut menjelaskan betapa berartinya kehangatan keluarga dalam menjalani bulan suci yang penuh dengan berkah ini bagi mereka. Kehilangan kontak sosial dengan kerabat dekat menjadi beban mental yang sangat besar saat momen hari raya mulai mendekat perlahan. Mereka hanya bisa menatap layar gawai untuk melihat kondisi keluarga yang masih terjebak di zona konflik yang sangat berbahaya. Memori tentang makan bersama di halaman rumah kini hanya menjadi fragmen mimpi yang sulit untuk mereka wujudkan kembali sekarang.

Tantangan Fisik dan Isolasi Sosial di Negeri Orang

Durasi waktu puasa di belahan bumi utara seringkali terasa jauh lebih lama jika kita bandingkan dengan waktu di Timur Tengah. Para pengungsi harus menahan lapar dan haus selama lebih dari enam belas jam di bawah terik matahari musim panas Eropa. Selain faktor fisik, mereka juga berjuang melawan rasa kesepian karena harus berbuka puasa tanpa kehadiran keluarga besar yang lengkap. Suasana pasar Ramadhan yang sangat ramai dengan berbagai hidangan khas seperti Maamoul kini hanya menjadi kenangan indah masa lalu. Mereka mencoba memasak hidangan tradisional sendiri, namun rasanya tetap saja berbeda tanpa bumbu kebahagiaan dari tanah kelahiran yang damai.

Muslim Kashmir: Menjalankan Ibadah Ramadhan di Bawah Bayang-Bayang Senjata

Ketidaktahuan masyarakat lokal mengenai ibadah puasa terkadang membuat para pengungsi merasa terasing secara sosial di lingkungan tempat tinggal mereka. Mereka harus tetap bekerja secara profesional meskipun energi mereka mulai terkuras habis akibat durasi puasa yang sangat panjang tersebut. Minimnya fasilitas tempat ibadah di beberapa wilayah terpencil di Eropa juga menjadi kendala tersendiri bagi mereka untuk berjamaah. Namun, kesulitan ini tidak melunturkan semangat mereka untuk tetap menjalankan kewajiban agama sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Perjuangan ini membuktikan bahwa iman tetap bisa tumbuh subur meskipun berada di tengah lingkungan yang asing dan penuh tantangan.

Menjaga Identitas Budaya di Tengah Perantauan

Meskipun menghadapi banyak kesulitan, para pengungsi tetap berusaha menjaga identitas keagamaan dan budaya mereka dengan sangat kuat dan teguh. Mereka sering berkumpul di pusat-pusat komunitas atau masjid lokal untuk berbagi makanan dan cerita tentang kehidupan di masa lalu. Kegiatan ini bertujuan untuk mengobati rasa rindu sekaligus memperkenalkan tradisi luhur Suriah kepada anak-anak mereka yang lahir di pengungsian. Mereka ingin generasi mendatang tetap mengenal akar budaya mereka meskipun tumbuh besar di tengah masyarakat Barat yang sangat modern. Menjaga semangat Ramadhan di tanah perantauan merupakan bentuk perlawanan terhadap rasa putus asa yang seringkali menghampiri jiwa mereka.

Solidaritas antar sesama pengungsi menjadi sumber kekuatan utama bagi mereka untuk bertahan melewati hari-hari yang penuh dengan ujian ini. Mereka saling membantu dalam menyediakan menu berbuka puasa yang sederhana namun penuh dengan rasa persaudaraan yang sangat kental sekali. Setiap tegukan air saat berbuka menjadi pengingat akan syukur atas nikmat kehidupan yang Allah berikan meskipun dalam pengasingan. Mereka berharap bahwa suatu saat nanti kedamaian akan kembali menyinari bumi Suriah dan mengakhiri segala bentuk penderitaan panjang ini. Ramadhan menjadi momen paling krusial bagi mereka untuk memanjatkan doa-doa terbaik demi keselamatan bangsa dan keluarga tercinta mereka.

Kesimpulan

Kisah pengungsi Suriah di Eropa merupakan pengingat bagi dunia mengenai dampak kemanusiaan yang sangat luas dari sebuah konflik militer. Mereka kehilangan suasana Ramadhan yang penuh kehangatan, namun mereka tidak pernah kehilangan harapan akan hari esok yang lebih cerah. Mari kita tunjukkan empati dan solidaritas nyata kepada para pengungsi yang sedang berjuang menjalani ibadah puasa di luar negeri. Semoga kedamaian segera menyinari bumi Suriah agar mereka dapat merayakan Ramadhan kembali di kampung halaman dengan penuh sukacita. Doa dan dukungan kita sangat berarti bagi mereka untuk tetap tegar menghadapi segala cobaan hidup yang sangat berat ini.

Penindasan Muslim Chechnya: Ramadhan yang Perih di Balik Jeruji Besi

Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.