Sejarah
Beranda » Berita » Tragedi Moro di Filipina: Mengenang Perjuangan Panjang Rakyat Bangsamoro

Tragedi Moro di Filipina: Mengenang Perjuangan Panjang Rakyat Bangsamoro

Tragedi Moro di Filipina merupakan luka sejarah yang sangat dalam bagi umat Islam di kawasan Asia Tenggara. Rakyat Bangsamoro di Mindanao telah memperjuangkan hak-hak dasar mereka selama lebih dari empat ratus tahun yang sangat melelahkan. Konflik bersenjata antara pemerintah pusat dan kelompok pejuang Moro telah merenggut ratusan ribu nyawa manusia yang tidak berdosa. Perjuangan ini bukan sekadar masalah agama, melainkan upaya mempertahankan identitas, tanah ulayat, dan kedaulatan politik bangsa Moro. Hingga saat ini, memori penderitaan tersebut masih melekat kuat dalam sanubari setiap warga Muslim di wilayah Filipina Selatan.

Akar Sejarah dan Marjinalisasi Bangsa Moro

Konflik di Mindanao berakar dari masa kolonialisme Spanyol yang berusaha menaklukkan kerajaan-kerajaan Islam di wilayah selatan Filipina. Bangsa Moro menunjukkan perlawanan yang sangat gigih dan tidak pernah menyerah sepenuhnya kepada penjajah asing selama berabad-abad. Namun, integrasi paksa wilayah mereka ke dalam negara Filipina modern memicu ketegangan sosial dan politik yang sangat hebat. Pemerintah pusat seringkali mengabaikan kepentingan ekonomi dan budaya masyarakat Muslim sehingga memunculkan rasa ketidakadilan yang sangat mendalam. Masyarakat Moro merasa menjadi warga negara kelas dua di tanah kelahiran mereka sendiri akibat kebijakan diskriminatif pihak penguasa.

Migrasi penduduk dari wilayah utara ke Mindanao secara masif memperburuk situasi sengketa lahan yang sudah sangat rumit sebelumnya. Warga lokal kehilangan akses terhadap sumber daya alam dan hutan yang selama ini menjadi tumpuan hidup nenek moyang mereka. Ketidakadilan ekonomi ini kemudian bertransformasi menjadi gerakan politik terorganisir yang menuntut otonomi luas hingga kemerdekaan penuh bagi Bangsamoro. Suasana panas ini meledak menjadi tragedi berdarah ketika kekerasan militer mulai menyasar warga sipil Muslim secara membabi buta.

Titik Balik Pembantaian Jabidah

Peristiwa yang paling membekas dalam memori kolektif bangsa Moro adalah Pembantaian Jabidah yang terjadi pada bulan Maret 1968. Pemerintah saat itu melatih para pemuda Muslim untuk sebuah misi rahasia guna merebut wilayah Sabah dari negara Malaysia. Namun, rencana tersebut berantakan ketika para rekrutan menolak untuk menembak saudara sesama Muslim di wilayah perbatasan tersebut. Militer kemudian mengeksekusi puluhan pemuda tersebut di Pulau Corregidor untuk menutupi kegagalan operasi rahasia yang sangat memalukan ini.

Seorang saksi kunci bernama Jibin Arula berhasil lolos dari maut dan menceritakan kekejaman tersebut kepada khalayak luas dunia. Jibin Arula memberikan kesaksian yang sangat mengharukan mengenai detik-detik pelariannya dari berondongan peluru tentara pemerintah yang sangat keji:

Nasib Muslim Patani: Mengenang Tragedi Tak Bai yang Memilukan

“I was the only one who survived the massacre by swimming across the sea to Cavite.”

Kutipan tersebut menjelaskan betapa mengerikannya upaya pembersihan saksi mata yang pemerintah lakukan terhadap warga mereka sendiri yang tidak berdosa. Berita pembantaian ini segera memicu kemarahan luar biasa di seluruh Mindanao dan menjadi bahan bakar berdirinya Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF). Sejak saat itu, perang saudara skala besar pecah dan mengubah wilayah Filipina Selatan menjadi medan pertempuran yang sangat mematikan. Tragedi Jabidah menjadi simbol pengkhianatan negara terhadap rakyatnya sendiri yang telah bersedia mengabdi sebagai tentara nasional.

Dampak Kemanusiaan yang Memilukan

Perang yang berlangsung selama puluhan tahun telah menghancurkan infrastruktur dasar dan perekonomian masyarakat di wilayah otonomi khusus tersebut. Jutaan orang harus mengungsi dari rumah mereka dan menetap di kamp-kamp pengungsian yang serba terbatas dan juga memprihatinkan. Anak-anak kehilangan akses pendidikan yang layak dan harus hidup dalam bayang-bayang trauma akibat ledakan bom dan tembakan. Tragedi Moro di Filipina telah menciptakan lubang kemiskinan yang sangat dalam dibandingkan dengan wilayah-wilayah lain di negara tersebut.

Umat Islam di seluruh dunia terus memberikan perhatian dan bantuan kemanusiaan guna meringankan penderitaan saudara-saudara mereka di Mindanao. Kehilangan anggota keluarga dan harta benda menjadi pemandangan harian yang sangat biasa bagi masyarakat Bangsamoro selama masa konflik. Namun, penderitaan fisik tersebut justru semakin memperkuat solidaritas dan juga semangat untuk meraih kedamaian yang bermartabat dan hakiki. Mereka tidak pernah berhenti menuntut keadilan atas berbagai pelanggaran hak asasi manusia yang mereka alami selama masa peperangan.

Menuju Perdamaian dan Otonomi Bangsamoro

Setelah melewati proses negosiasi yang sangat panjang dan penuh dengan liku-liku, harapan baru mulai muncul di wilayah Mindanao. Pembentukan Wilayah Otonomi Bangsamoro di Muslim Mindanao (BARMM) menjadi tonggak penting dalam sejarah perdamaian di Filipina Selatan saat ini. Pemerintah pusat dan Front Pembebasan Islam Moro (MILF) sepakat untuk mengakhiri kekerasan dan membangun masa depan bersama. Kesepakatan ini memberikan kewenangan yang lebih luas bagi masyarakat Moro untuk mengelola pemerintahan dan sumber daya alam mereka sendiri.

Sejarah Kelam Muslim India: Mengingat Kerusuhan Berdarah di Bulan Suci

Masyarakat kini sedang berupaya memulihkan luka batin dan membangun kembali tatanan sosial yang sempat hancur akibat konflik panjang. Pendidikan dan pemberdayaan ekonomi menjadi prioritas utama guna menghapus kemiskinan dan mencegah munculnya bibit-bibit kekerasan baru di masa depan. Meskipun tantangan masih sangat besar, semangat perdamaian tetap menyala kuat di hati para pemimpin dan rakyat Bangsamoro sekarang. Mereka ingin membuktikan bahwa Islam dapat hidup harmonis dalam bingkai negara kesatuan dengan jaminan keadilan bagi semua pihak.

Kesimpulan

Tragedi Moro di Filipina mengajarkan kita bahwa perdamaian sejati hanya dapat tercapai melalui pengakuan atas hak dan identitas. Perjuangan panjang bangsa Moro telah memberikan pelajaran berharga mengenai ketabahan dalam menghadapi penindasan yang berlangsung selama ratusan tahun. Al-Qur’an memerintahkan kita untuk selalu menjunjung tinggi keadilan dan mengutamakan jalan perdamaian jika pihak lain juga menginginkannya. Mari kita dukung upaya pemulihan di Mindanao agar masyarakat Bangsamoro dapat hidup dengan penuh ketenangan, keamanan, dan kesejahteraan. Semoga cahaya kedamaian abadi selalu menyinari bumi Filipina Selatan dan menghapuskan segala bentuk memori kelam masa lalu.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.