Kisah
Beranda » Berita » Al-Aqsa Membara: Menelusuri Sejarah Panjang Penyerangan terhadap Jamaah Tarawih

Al-Aqsa Membara: Menelusuri Sejarah Panjang Penyerangan terhadap Jamaah Tarawih

Bulan suci Ramadhan seharusnya menjadi momentum penuh kedamaian bagi seluruh umat Muslim di dunia. Namun, bagi masyarakat Palestina di Yerusalem Timur, suasana spiritual seringkali berubah menjadi ketegangan yang mencekam. Fenomena “Al-Aqsa Membara” seolah menjadi siklus tahunan yang melukai perasaan umat Islam secara global. Penyerangan terhadap jamaah yang sedang melaksanakan salat Tarawih terus berulang dalam beberapa tahun terakhir. Kompleks Masjidil Aqsa yang suci seringkali menjadi saksi bisu kekerasan aparat keamanan di tengah kekhusyukan ibadah.

Pola Kekerasan yang Berulang Setiap Ramadhan

Aparat keamanan seringkali menerapkan pembatasan akses yang sangat ketat menuju kompleks Masjid Al-Aqsa selama bulan puasa. Mereka memasang barikade di gerbang utama dan memeriksa identitas setiap warga yang ingin masuk beribadah. Ketegangan biasanya memuncak ketika polisi memasuki area dalam masjid dengan menggunakan sepatu bot dan perlengkapan tempur lengkap. Tindakan provokatif ini memicu reaksi keras dari para jamaah yang sedang menjalankan salat Tarawih dan Itikaf.

Konflik fisik seringkali meletus di pelataran masjid saat polisi melepaskan gas air mata dan peluru karet. Suasana doa yang tenang seketika pecah oleh suara ledakan granat kejut dan teriakan ketakutan para jamaah. Penyerangan ini tidak hanya melukai fisik, tetapi juga mencederai hak dasar manusia untuk beribadah dengan tenang. Dunia internasional seringkali hanya mampu menyaksikan tragedi ini melalui layar kaca tanpa memberikan solusi yang nyata.

Kilas Balik Tragedi Mei 2021 dan 2023

Salah satu peristiwa paling kelam terjadi pada akhir Ramadhan tahun 2021 yang lalu. Saat itu, penyerangan besar-besaran di Al-Aqsa memicu perang terbuka selama sebelas hari di wilayah Jalur Gaza. Ribuan jamaah Tarawih harus berlarian menyelamatkan diri dari kepulan asap gas air mata di dalam ruang salat. PBB dan berbagai organisasi HAM dunia mengecam keras tindakan tersebut karena dianggap melanggar hukum internasional.

Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia pernah memberikan pernyataan resmi mengenai situasi yang sangat mengkhawatirkan tersebut:

Agresi Militer di Jalur Gaza: Kisah Ketabahan Berbuka Puasa di Balik Puing Bangunan

“Kami menyerukan kepada semua pihak untuk meredakan ketegangan dan menghentikan kekerasan, terutama di tempat-tempat suci yang harus dihormati.”

Namun, peringatan tersebut seolah menguap begitu saja tanpa memberikan dampak perubahan yang signifikan di lapangan. Pada tahun 2023, polisi kembali melakukan penggerebekan serupa di dalam Masjid Al-Qibli saat jamaah sedang berdoa. Mereka memukul jamaah dengan tongkat kayu dan menahan ratusan orang di dalam kompleks tersebut. Kejadian ini membuktikan bahwa Al-Aqsa membara bukan sekadar insiden tunggal, melainkan kebijakan represif yang sistematis.

Dampak Psikologis bagi Umat Islam Yerusalem

Kekerasan yang terjadi secara terus-menerus ini meninggalkan trauma mendalam bagi anak-anak dan wanita di Yerusalem. Mereka harus menghadapi rasa takut yang luar biasa setiap kali hendak berangkat menuju masjid untuk salat berjamaah. Namun, rasa takut tersebut tidak pernah menyurutkan langkah mereka untuk tetap menjaga dan memakmurkan Masjid Al-Aqsa. Kehadiran ribuan jamaah setiap malam menjadi simbol keteguhan iman dan perlawanan terhadap upaya pengusiran.

Bagi warga Palestina, Masjid Al-Aqsa adalah identitas nasional dan spiritual yang sangat tidak ternilai harganya. Mereka rela mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan kesucian masjid dari segala bentuk penistaan oleh pihak mana pun. Semangat ini justru semakin menguat setiap kali ada upaya untuk menghalangi mereka dalam beribadah kepada Allah. Al-Aqsa tetap menjadi pusat gravitasi bagi perjuangan rakyat Palestina dalam meraih kemerdekaan mereka yang sejati.

Solidaritas Global Menghadapi Penindasan

Isu Al-Aqsa membara selalu berhasil menyatukan jutaan umat Islam dari berbagai belahan benua di seluruh dunia. Gelombang protes besar seringkali muncul di London, Jakarta, hingga Istanbul untuk menuntut perlindungan bagi warga Palestina. Kampanye digital melalui media sosial menjadi alat yang sangat efektif untuk menyebarkan fakta mengenai kondisi terkini di Yerusalem. Tekanan publik ini sangat penting agar pemerintah dunia tidak abai terhadap pelanggaran hak asasi manusia yang nyata.

Memori Kelam Sabra dan Shatila: Luka yang Menganga di Bulan Suci

Umat Islam di seluruh dunia juga terus mengirimkan bantuan kemanusiaan dan doa untuk keselamatan para penjaga Al-Aqsa. Solidaritas ini memberikan kekuatan moral bagi mereka yang sedang berjuang di garis depan demi menjaga kiblat pertama. Kita harus terus menyuarakan kebenaran agar dunia tidak melupakan penderitaan saudara-saudara kita di sana. Keadilan harus tegak di atas bumi Yerusalem agar kedamaian yang hakiki dapat segera terwujud.

Kesimpulan

Sejarah panjang penyerangan jamaah Tarawih menunjukkan bahwa Masjid Al-Aqsa masih berada dalam kondisi yang sangat terancam. Fenomena Al-Aqsa membara merupakan pengingat bagi kita semua untuk terus meningkatkan kepedulian sosial dan politik. Mari kita dukung setiap upaya damai untuk mengembalikan fungsi masjid sebagai tempat ibadah yang aman bagi semua. Semoga Ramadhan di masa depan tidak lagi diwarnai dengan kepulan asap dan suara ledakan senjata. Kebebasan beribadah adalah hak setiap manusia yang harus kita perjuangkan bersama sampai akhir hayat.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.