Dunia internasional menyaksikan sebuah peristiwa yang sangat memilukan pada tanggal 25 Februari 1994 di kota Hebron, Palestina. Peristiwa kelam tersebut jatuh tepat pada hari Jumat, saat umat Islam sedang menjalankan ibadah puasa Ramadhan ke-15. Tragedi Masjid Ibrahimi 1994 menjadi luka sejarah yang hingga kini masih menyisakan trauma mendalam bagi warga Palestina. Seorang pemukim ekstremis melakukan serangan brutal terhadap ratusan jamaah yang sedang bersujud menunaikan shalat Subuh. Kejadian ini tidak hanya mengguncang stabilitas politik, tetapi juga menghancurkan rasa kemanusiaan di tanah para nabi.
Detik-Detik Mengerikan di Tengah Kekhusyukan Ibadah
Pagi itu, suasana Masjid Ibrahimi atau Masjid Al-Khalil terlihat sangat damai dan penuh dengan kekhusyukan jamaah. Sekitar 800 warga Palestina berkumpul di dalam ruang shalat utama untuk melaksanakan kewajiban spiritual mereka kepada Allah. Namun, kedamaian tersebut seketika hancur berkeping-keping saat rentetan tembakan senjata otomatis memecah kesunyian fajar tersebut. Baruch Goldstein, seorang pria berkebangsaan Israel-Amerika, merangsek masuk dan melepas tembakan secara membabi buta ke arah jamaah.
Ia berdiri di belakang para jamaah yang sedang berada dalam posisi sujud terakhir pada rakaat kedua. Serangan mendadak ini membuat para jamaah tidak sempat menyelamatkan diri dari terjangan peluru panas yang sangat mematikan. Suasana masjid yang suci berubah menjadi lautan darah dan teriakan pilu dalam waktu yang sangat singkat. Pelaku terus menghujani kerumunan dengan peluru hingga menewaskan 29 orang di tempat kejadian perkara tersebut secara tragis.
Kesaksian dari Saksi Mata yang Bertahan Hidup
Beberapa saksi mata yang berhasil selamat menceritakan bagaimana kebiadaban tersebut berlangsung dengan sangat cepat dan tidak terduga. Mereka menggambarkan situasi saat itu sebagai sebuah pembantaian massal yang sangat terencana dan juga sangat kejam. Seorang survivor menggambarkan kengerian yang ia lihat tepat setelah pelaku melepaskan tembakan beruntun kepada para jamaah:
“Darah ada di mana-mana, di atas sajadah, di dinding, dan di tubuh orang-orang yang sedang bersujud. Itu adalah pemandangan paling mengerikan yang pernah kulihat seumur hidupku.”
Kutipan tersebut mencerminkan betapa besarnya skala kekejaman yang menimpa warga sipil Palestina yang tidak bersenjata sama sekali. Akibat serangan pengecut ini, lebih dari 125 orang lainnya mengalami luka-luka serius hingga cacat permanen. Masyarakat dunia mengecam keras tindakan radikalisme tersebut sebagai bentuk kejahatan perang yang melanggar hukum internasional secara nyata. Tragedi ini segera memicu protes besar-besaran dan kerusuhan di seluruh wilayah Tepi Barat dan juga Jalur Gaza.
Dampak Jangka Panjang bagi Kota Hebron
Pemerintah setempat segera mengambil langkah-langkah keamanan yang sangat ketat setelah tragedi berdarah tersebut terjadi di Hebron. Namun, kebijakan tersebut justru merugikan warga Palestina karena militer membagi ruang Masjid Ibrahimi menjadi dua bagian. Satu bagian tetap untuk umat Islam, sementara bagian lainnya mereka peruntukkan bagi pemukim Yahudi untuk beribadah. Pembagian ini menciptakan ketegangan permanen dan membatasi akses warga Muslim untuk beribadah di tempat suci mereka sendiri.
Selain itu, militer juga menutup Jalan Al-Shuhada yang sebelumnya merupakan pusat ekonomi dan aktivitas sosial warga Hebron. Penutupan jalan utama ini mematikan ratusan bisnis lokal dan mengubah kawasan tersebut menjadi sebuah “kota hantu” yang sepi. Hingga hari ini, kehadiran pos pemeriksaan militer yang sangat banyak terus mempersulit kehidupan harian warga asli Palestina. Tragedi Masjid Ibrahimi 1994 bukan hanya soal hilangnya nyawa, tetapi juga tentang perampasan ruang hidup yang sistematis.
Radikalisme yang Menghancurkan Harapan Perdamaian
Baruch Goldstein sendiri tewas di tangan para jamaah yang marah segera setelah ia kehabisan amunisi peluru senjatanya. Namun, ideologi ekstremis yang ia bawa tetap hidup dan terus mengancam upaya perdamaian di kawasan Timur Tengah. Kelompok-kelompok radikal seringkali menggunakan peristiwa ini sebagai pemicu untuk melakukan tindakan kekerasan balasan yang tidak berkesudahan. Tragedi ini membuktikan bahwa fanatisme buta dapat merusak tatanan sosial dan juga menghancurkan harapan generasi muda akan perdamaian.
Dunia harus terus mengenang peristiwa ini agar kejadian serupa tidak pernah terulang kembali di masa depan nanti. Pendidikan mengenai toleransi dan penghormatan terhadap tempat ibadah harus menjadi prioritas utama bagi semua bangsa di bumi. Masjid Ibrahimi tetap berdiri tegak sebagai simbol ketabahan rakyat Palestina dalam menghadapi penindasan yang sangat luar biasa. Mari kita doakan para syuhada yang telah gugur dalam menjalankan ibadah mereka kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Kesimpulan
Tragedi Masjid Ibrahimi 1994 tetap menjadi peringatan keras bagi kita semua tentang bahaya kebencian yang sangat ekstrem. Kita harus memperjuangkan keadilan bagi seluruh korban pembantaian tersebut tanpa melihat latar belakang ras maupun agama mereka. Perdamaian sejati hanya dapat tumbuh di atas fondasi keadilan dan juga penghormatan terhadap hak asasi manusia universal. Semoga cahaya kedamaian segera menyinari tanah Palestina dan memberikan ketenangan bagi seluruh penduduknya yang sedang berjuang. Kita tidak boleh melupakan sejarah kelam ini agar kita bisa membangun masa depan yang lebih baik lagi.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
