Bulan Ramadhan biasanya membawa suasana kedamaian dan kekhusyukan bagi seluruh umat Islam di berbagai belahan dunia manapun. Namun, catatan sejarah menunjukkan bahwa bulan suci ini juga menjadi saksi bisu berbagai peristiwa militer yang sangat besar. Salah satu peristiwa paling kelam dan berdarah adalah penaklukan kota Delhi oleh penguasa Asia Tengah, Timur Lenk. Penaklukan ini terjadi pada akhir abad ke-14 dan mengubah peta politik di daratan India untuk selamanya secara drastis. Timur Lenk membawa pasukan berkuda yang sangat kuat untuk menghancurkan kekuasaan Kesultanan Delhi yang sedang mengalami masa pelemahan.
Ambisi Sang Penakluk dari Asia Tengah
Timur Lenk merupakan seorang panglima perang yang sangat ambisius dan memiliki strategi militer yang sangat jenius namun kejam. Ia memimpin pasukan Mongol-Turki melintasi sungai Indus untuk menyerang wilayah India yang kaya akan sumber daya alam. Timur menggunakan alasan pemurnian agama untuk melegitimasi serangannya terhadap para penguasa Muslim di wilayah Kesultanan Delhi tersebut. Ia menganggap bahwa Sultan Delhi terlalu toleran terhadap praktik-praktik yang tidak sesuai dengan ajaran Islam yang murni. Pasukannya bergerak sangat cepat melewati wilayah Punjab dan menghancurkan setiap perlawanan yang mereka temui di sepanjang jalur perjalanan.
Kedatangan pasukan Timur Lenk menimbulkan ketakutan yang sangat luar biasa bagi penduduk lokal di sekitar wilayah perbatasan India. Ribuan tawanan perang kehilangan nyawa bahkan sebelum pasukan utama mencapai gerbang kota Delhi yang megah dan sangat kokoh. Timur tidak memberikan ampun bagi siapa pun yang mencoba menghalangi ambisinya untuk menundukkan seluruh daratan Asia di bawah kakinya. Sejarah mencatat bahwa bulan Ramadhan tahun 801 Hijriah menjadi saksi dimulainya pengepungan yang sangat mematikan di ibu kota.
Pertempuran Gajah yang Sangat Menakutkan
Sultan Nasir-ud-din Mahmud Shah Tughluq menghadapi pasukan Timur Lenk dengan membawa barisan gajah perang yang sangat besar. Gajah-gajah tersebut memiliki baju besi yang tebal serta pedang tajam yang terpasang pada bagian gadingnya yang sangat kuat. Pasukan Timur sempat merasa gentar melihat makhluk raksasa tersebut bergerak maju untuk menginjak-injak barisan infanteri mereka di lapangan. Namun, Timur Lenk menunjukkan kecerdikan taktisnya dengan menggunakan unta yang membawa jerami terbakar di atas punggung mereka masing-masing.
Jerami yang terbakar menciptakan api yang sangat besar dan mengeluarkan asap tebal yang membuat gajah-gajah musuh menjadi panik. Gajah-gajah tersebut kemudian berbalik arah dan menginjak pasukan mereka sendiri dengan sangat brutal di tengah medan pertempuran. Timur Lenk mencatat kemenangan telak ini dalam biografinya dengan nada penuh kebanggaan atas keberhasilan strategi militernya tersebut. Seorang sejarawan kontemporer, Sharaf ad-Din Ali Yazdi, menggambarkan peristiwa tersebut dalam kitab Zafarnama dengan kalimat yang sangat jelas:
“Pasukan Islam yang perkasa menyerang dengan keberanian luar biasa, dan musuh-musuh itu binasa di bawah pedang para pejuang.” (Sharaf ad-Din Ali Yazdi, Zafarnama).
Kutipan tersebut menunjukkan betapa kerasnya benturan dua kekuatan besar ini dalam memperebutkan takhta kekuasaan di wilayah India Utara. Setelah menghancurkan barisan gajah, pasukan Timur Lenk tidak lagi menemui hambatan berarti untuk masuk ke dalam kota Delhi. Kekalahan Sultan Tughluq menandai berakhirnya masa kejayaan dinasti tersebut yang sudah memerintah Delhi selama puluhan tahun lamanya.
Tragedi Pembantaian di Ibu Kota Delhi
Kejadian yang paling memilukan terjadi segera setelah pasukan Timur Lenk berhasil menembus pertahanan utama kota Delhi yang strategis. Meskipun awalnya ia menjanjikan perlindungan, kekacauan besar justru meledak di dalam kota karena perilaku pasukannya yang sangat liar. Prajurit Timur melakukan penjarahan massal dan pembantaian terhadap ratusan ribu penduduk sipil yang sama sekali tidak memiliki senjata. Jalan-jalan di kota Delhi yang indah seketika berubah menjadi aliran darah yang sangat mengerikan dan memilukan hati.
Para sejarawan memperkirakan bahwa jumlah korban jiwa dalam peristiwa penaklukan ini mencapai lebih dari seratus ribu orang manusia. Timur Lenk membiarkan pasukannya mengamuk selama beberapa hari hingga kota Delhi menjadi benar-benar lumpuh dan hancur berantakan. Ia kemudian memerintahkan pembangunan menara dari tengkorak manusia sebagai simbol kemenangannya yang sangat mengerikan dan juga absolut. Penaklukan ini menjadi salah satu noda hitam dalam sejarah peradaban manusia yang terjadi tepat pada bulan Ramadhan.
Dampak Jangka Panjang bagi Kesultanan Delhi
Setelah merasa cukup melakukan penghancuran, Timur Lenk meninggalkan Delhi dengan membawa ribuan tawanan yang memiliki keahlian khusus. Ia membawa para arsitek dan pengrajin batu terbaik dari India untuk membangun ibu kotanya sendiri di Samarkand. Kota Delhi yang dahulunya sangat makmur kini tinggal menjadi puing-puing yang penuh dengan bau mayat dan juga penyakit. Perlu waktu puluhan tahun bagi kota ini untuk bisa pulih kembali dari trauma penaklukan yang sangat dahsyat tersebut.
Invasi Timur Lenk secara efektif mengakhiri dominasi Kesultanan Tughluq dan membuka jalan bagi munculnya dinasti-dinasti baru nantinya. Meskipun ia mengaku sebagai pejuang agama, tindakannya justru meninggalkan luka mendalam bagi umat Islam di wilayah daratan India. Peristiwa ini memberikan pelajaran berharga tentang betapa tipisnya batas antara ambisi kekuasaan dan kekejaman dalam sejarah militer. Kita harus memahami sejarah ini agar tidak mengulangi kesalahan yang sama dalam membangun peradaban masa depan yang damai.
Kesimpulan
Sejarah berdarah penaklukan Delhi di bulan Ramadhan merupakan pengingat akan sisi gelap dari ambisi penaklukan seorang penguasa besar. Timur Lenk berhasil menunjukkan kekuatan militernya namun ia juga meninggalkan warisan kehancuran yang sangat sulit untuk terlupakan. Tragedi ini mengajarkan kita untuk selalu menjaga nilai-nilai kemanusiaan bahkan dalam situasi konflik yang paling berat sekalipun. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari setiap peristiwa sejarah untuk menciptakan dunia yang lebih harmonis dan penuh cinta. Penaklukan Delhi tetap menjadi salah satu babak paling dramatis dalam catatan panjang sejarah dunia Islam di tanah India.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
