Sejarah peradaban Islam di daratan Eropa mencatat sebuah peristiwa memilukan pada awal tahun 1492 Masehi. Kota Granada yang megah akhirnya menyerah kepada pasukan gabungan Kerajaan Kastila dan Aragon. Peristiwa jatuhnya Granada menandai berakhirnya kekuasaan Muslim selama tujuh abad di wilayah Al-Andalus. Sultan Muhammad XII atau Boabdil menyerahkan kunci istana Alhambra dengan penuh rasa duka yang sangat mendalam. Kejatuhan ini terjadi pada periode yang berdekatan dengan akhir bulan suci Ramadhan tahun 897 Hijriah.
Benteng Terakhir Peradaban Islam di Spanyol
Selama berabad-abad, Granada berdiri sebagai pusat ilmu pengetahuan, seni, dan arsitektur yang sangat luar biasa di Eropa. Ketika kota-kota Islam lainnya jatuh satu per satu ke tangan penguasa Kristen, Granada tetap bertahan dengan gigih. Kesultanan Nasrid berhasil mempertahankan kemandiriannya melalui diplomasi yang cerdik serta pertahanan militer yang sangat kuat. Namun, konflik internal di dalam istana perlahan-lahan mulai melemahkan struktur pemerintahan dari dalam. Hal ini memberikan celah bagi musuh untuk melakukan pengepungan total dalam waktu yang cukup lama.
Pasukan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella mengepung kota Granada dengan sangat ketat selama hampir satu tahun penuh. Penduduk kota mengalami kelaparan hebat karena jalur pasokan makanan terputus total oleh pasukan lawan. Dalam kondisi terdesak, Sultan Boabdil akhirnya memilih jalan perundingan demi menyelamatkan nyawa jutaan rakyatnya dari pembantaian. Ia menandatangani perjanjian penyerahan kota yang secara resmi mengakhiri supremasi Islam di tanah Spanyol selamanya.
Isak Tangis di Bukit El Ultimo Suspiro del Moro
Setelah menyerahkan kunci istana, Sultan Boabdil pergi meninggalkan Granada bersama keluarga dan para pengikut setianya. Saat berada di atas bukit, ia menghentikan langkah kudanya untuk menatap Alhambra untuk terakhir kalinya. Boabdil tidak kuasa menahan air matanya melihat kejayaan leluhurnya kini telah berpindah tangan ke pihak musuh. Tempat bersejarah tersebut kini terkenal dengan sebutan “El Ultimo Suspiro del Moro” atau Desahan Terakhir Orang Moor.
Melihat putranya menangis, sang ibu yang bernama Aisyah Al-Hurra melontarkan kalimat teguran yang sangat tajam dan legendaris. Kalimat ini terus bergema dalam catatan sejarah sebagai pengingat pahit atas hilangnya sebuah kedaulatan besar:
“Janganlah engkau menangis seperti seorang wanita untuk sesuatu yang tidak bisa kau pertahankan sebagai seorang laki-laki.” (Aisyah Al-Hurra).
Kutipan tersebut menggambarkan rasa kecewa sang ibu terhadap ketidakmampuan Boabdil dalam mempertahankan benteng terakhir umat Islam. Penyesalan sultan yang datang terlambat tidak lagi mampu mengubah takdir pahit yang menimpa peradaban Al-Andalus tersebut. Kejadian ini memberikan pelajaran berharga mengenai pentingnya persatuan internal dalam menjaga keutuhan sebuah bangsa dan negara.
Dampak Besar Bagi Dunia Islam dan Eropa
Jatuhnya Granada mengubah peta politik dan sosial secara drastis di wilayah Mediterania serta benua Eropa secara keseluruhan. Umat Islam dan Yahudi di wilayah tersebut segera menghadapi pilihan sulit antara pindah agama atau pergi meninggalkan tanah air. Kekuasaan baru menerapkan kebijakan inkuisisi yang sangat ketat untuk memastikan kesetiaan rakyat terhadap keyakinan penguasa yang baru. Ribuan buku ilmu pengetahuan dari perpustakaan Granada lenyap terbakar dalam api kebencian yang berkobar sangat hebat.
Peristiwa ini juga memicu gelombang pengungsian besar-besaran warga Muslim menuju wilayah Afrika Utara dan Kesultanan Utsmaniyah. Mereka membawa serta keahlian seni, musik, dan teknik pertanian maju yang memperkaya kebudayaan di tempat tinggal baru. Meskipun secara politik kekuasaan Islam hilang, jejak budaya Granada tetap hidup dan mempesona dunia hingga saat ini. Keindahan arsitektur Alhambra menjadi saksi bisu betapa tingginya pencapaian peradaban manusia yang pernah ada di sana.
Hikmah dari Runtuhnya Al-Andalus
Kita harus mengambil hikmah dari peristiwa jatuhnya Granada agar kesalahan masa lalu tidak terulang kembali pada masa kini. Perpecahan antar faksi di dalam pemerintahan merupakan racun yang paling mematikan bagi eksistensi sebuah peradaban yang besar. Kekuatan militer yang hebat tidak akan berarti jika para pemimpinnya sibuk bertikai demi kepentingan pribadi dan kelompok. Ramadhan seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat tali persaudaraan dan keimanan demi menghadapi segala tantangan global yang ada.
Sejarah mencatat bahwa kemajuan ilmu pengetahuan merupakan modal utama dalam membangun pengaruh positif bagi seluruh umat manusia. Umat Islam perlu merefleksikan kembali semangat intelektual yang pernah mekar di kota Granada pada masa kejayaannya dahulu. Jangan sampai kita hanya menangisi masa lalu tanpa melakukan upaya nyata untuk membangun masa depan yang lebih baik. Granada tetap menjadi pengingat tentang kejayaan yang hilang serta harapan untuk terus bangkit mengejar ketertinggalan zaman.
Kesimpulan
Jatuhnya Granada adalah tragedi besar yang menutup lembaran sejarah emas peradaban Islam di wilayah Eropa bagian barat. Air mata Sultan Boabdil menjadi simbol duka bagi seluruh umat manusia atas hilangnya pusat ilmu yang sangat megah. Al-Qur’an dan sejarah memberikan panduan agar kita selalu menjaga amanah kepemimpinan dengan penuh tanggung jawab dan integritas. Mari kita jadikan kisah memilukan ini sebagai motivasi untuk terus berkarya dan menjaga persatuan bangsa di masa depan. Semoga cahaya kedamaian dan ilmu pengetahuan senantiasa menyinari langkah kita dalam membangun peradaban yang bermartabat.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
