Sejarah
Beranda » Berita » Syahidnya Ruqayyah Putri Rasulullah: Duka di Tengah Kemenangan Besar Badr

Syahidnya Ruqayyah Putri Rasulullah: Duka di Tengah Kemenangan Besar Badr

Kemenangan besar umat Islam dalam Perang Badr membawa kegembiraan luar biasa pada bulan Ramadhan tahun kedua Hijriah. Namun, berita bahagia tersebut bersanding dengan kabar duka yang sangat menyayat hati dari kota Madinah. Ruqayyah, putri tercinta Nabi Muhammad SAW, mengembuskan napas terakhirnya tepat saat pasukan Muslim meraih kejayaan. Peristiwa syahidnya Ruqayyah putri Rasulullah ini menjadi catatan sejarah tentang pengorbanan besar keluarga Nabi demi dakwah Islam.

Sosok Putri Nabi yang Tangguh

Ruqayyah binti Muhammad merupakan putri kedua Rasulullah dari pernikahannya dengan Ummul Mukminin Sayyidah Khadijah binti Khuwaylid. Beliau tumbuh menjadi wanita yang sangat teguh memegang prinsip tauhid sejak masa awal kenabian ayahnya. Ruqayyah bersama suaminya, Utsman bin Affan, termasuk dalam golongan orang-orang pertama yang memeluk agama Islam. Mereka berdua melakukan hijrah dua kali, yakni menuju negeri Habasyah (Ethiopia) dan kemudian menetap di Madinah.

Ketabahan Ruqayyah dalam menghadapi tekanan kaum kafir Quraisy mencerminkan kekuatan iman yang sangat luar biasa. Beliau rela meninggalkan kenyamanan kota Makkah demi menjaga akidah dan mengikuti instruksi dari sang ayah. Gelar “Dzatul Hijratain” atau pemilik dua hijrah pun melekat erat pada sosok mulia yang sangat lembut ini. Kehidupannya penuh dengan ujian fisik maupun mental yang beliau hadapi dengan penuh rasa kesabaran yang tinggi.

Ujian Sakit Menjelang Perang Badr

Saat Rasulullah SAW sedang mempersiapkan pasukan untuk berangkat menuju lembah Badr, kondisi kesehatan Ruqayyah menurun secara drastis. Beliau menderita penyakit campak atau cacar yang membuat tubuhnya sangat lemah dan membutuhkan perawatan intensif. Kondisi ini membuat Utsman bin Affan merasa sangat bimbang antara mengikuti perang atau mendampingi istrinya tercinta. Rasulullah SAW kemudian memberikan perintah khusus kepada menantunya tersebut untuk tetap tinggal di Madinah demi menjaga Ruqayyah.

Nabi Muhammad SAW memberikan kepastian hukum bahwa pengabdian Utsman merawat istrinya setara dengan jihad di medan perang. Beliau menjamin bahwa Utsman akan mendapatkan pahala yang sama dengan para pejuang Badr lainnya di sisi Allah. Sejarah mencatat sabda Rasulullah SAW kepada Utsman bin Affan terkait perintah penting untuk tetap berada di rumah:

Tragedi Pembantaian di Masjidil Aqsa: Luka Kelam Sejarah Selama Perang Salib

“Sesungguhnya bagimu pahala seorang laki-laki yang ikut serta dalam perang Badar dan juga bagiannya (dari harta rampasan perang).” (HR. Bukhari).

Kutipan tersebut menjelaskan bahwa Islam sangat menghargai tugas kemanusiaan dan bakti seorang suami kepada istrinya yang sakit. Utsman bin Affan pun mematuhi perintah tersebut dengan penuh ketaatan dan kesetiaan mendampingi sang istri di Madinah. Beliau merawat Ruqayyah dengan penuh ketulusan di saat saudara-saudara Muslim lainnya sedang bertarung melawan musuh-musuh Islam.

Detik-Detik Wafatnya Sang Putri

Kondisi Ruqayyah semakin memburuk dari hari ke hari seiring dengan berkecamuknya pertempuran dahsyat di lembah Badr. Tepat ketika utusan Nabi, Zaid bin Harithah, membawa berita kemenangan ke Madinah, Ruqayyah menutup matanya untuk selamanya. Kegembiraan penduduk Madinah atas runtuhnya kekuatan kafir Quraisy seketika berubah menjadi suasana duka yang sangat mendalam. Sayyidah Ruqayyah wafat tanpa sempat melihat wajah sang ayah yang baru saja memenangkan pertempuran paling bersejarah tersebut.

Utsman bin Affan memakamkan jenazah sang istri di pemakaman Baqi’ dengan penuh rasa sedih yang sangat hebat. Saat Rasulullah SAW kembali ke Madinah, beliau langsung menuju makam putrinya untuk memberikan penghormatan terakhir secara khusus. Nabi Muhammad SAW berdiri di depan makam dengan air mata yang menetes membasahi jenggot beliau yang mulia. Pahitnya kehilangan anak tercinta tidak pernah melunturkan semangat beliau untuk terus menyebarkan cahaya kebenaran kepada manusia.

Hikmah di Balik Peristiwa Syahidnya Ruqayyah

Syahidnya Ruqayyah putri Rasulullah mengajarkan kita tentang arti kepasrahan total kepada segala ketentuan yang Allah tetapkan. Kemenangan besar seringkali hadir bersamaan dengan ujian berat untuk menguji kualitas kesabaran seorang hamba yang beriman. Keluarga Rasulullah tidak pernah luput dari cobaan hidup yang sangat pedih demi kepentingan agama yang lebih luas. Kita belajar bahwa keberhasilan dakwah memerlukan pengorbanan jiwa, harta, hingga perasaan dari setiap individu yang terlibat.

Kekejaman Hulagu Khan: Saat Perpustakaan Baghdad Menjadi Lautan Tinta

Kesetiaan Utsman bin Affan dalam merawat istrinya juga menjadi teladan bagi setiap Muslim dalam membangun rumah tangga. Beliau mengesampingkan keinginan pribadinya untuk berjihad demi memenuhi tugas suci merawat anggota keluarga yang sedang sangat lemah. Utsman membuktikan bahwa kasih sayang merupakan bagian integral dari karakter seorang pejuang Islam yang sejati dan berintegritas. Hikmah ini terus bergema dalam sanubari umat Islam hingga saat ini sebagai bekal dalam menjalani kehidupan.

Kesimpulan

Kisah syahidnya Ruqayyah putri Rasulullah tetap menjadi salah satu bagian paling mengharukan dalam sejarah emas kejayaan Islam. Kita melihat bagaimana duka dan suka bisa datang secara bersamaan dalam kehidupan seorang mukmin yang bertakwa. Al-Qur’an dan Sunnah selalu mengingatkan kita untuk tetap tegar dalam menghadapi segala bentuk skenario dari Sang Pencipta. Mari kita teladani sifat-sifat mulia dari putri Nabi yang penuh dengan kelembutan namun memiliki iman yang kokoh. Semoga kita dapat berkumpul bersama keluarga Rasulullah di dalam surga-Nya yang penuh dengan segala keindahan abadi.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.