Baghdad merupakan permata peradaban Islam pada abad ke-13. Kota ini menyimpan ribuan karya ilmiah berharga di perpustakaan Bayt al-Hikmah. Namun, awan gelap datang membawa kehancuran besar pada tahun 1258. Hulagu Khan memimpin pasukan Mongol yang sangat haus darah menuju pusat kekuasaan Abbasiyah. Sejarah mencatat kekejaman Hulagu Khan sebagai tragedi paling kelam bagi dunia literasi.
Pengepungan Kota yang Tak Terhindarkan
Pasukan Mongol mengepung kota Baghdad dengan persenjataan yang sangat lengkap. Hulagu Khan mengirimkan ancaman yang sangat mengerikan kepada Khalifah Al-Musta’sim. Ia menuntut sang Khalifah untuk segera menyerahkan diri tanpa syarat. Namun, pemimpin Abbasiyah tersebut justru meremehkan kekuatan militer pasukan Mongol. Akibatnya, benteng kota Baghdad runtuh hanya dalam waktu beberapa hari saja.
Tentara Mongol kemudian merangsek masuk ke dalam jantung kota dengan penuh amarah. Mereka melakukan pembantaian massal terhadap penduduk sipil tanpa mengenal rasa belas kasihan. Sejarawan memperkirakan korban jiwa mencapai ratusan ribu hingga jutaan orang. Kekejaman Hulagu Khan ini melumpuhkan seluruh tatanan sosial yang telah berdiri lama.
Penghancuran Bayt al-Hikmah: Tragedi Intelektual Dunia
Target utama kemurkaan tentara Mongol bukan hanya harta benda dan nyawa manusia. Mereka juga mengincar kekayaan intelektual yang berada di perpustakaan Bayt al-Hikmah. Perpustakaan ini merupakan pusat ilmu pengetahuan terbesar pada masa keemasan Islam. Di sana tersimpan manuskrip penting tentang kedokteran, astronomi, dan juga filsafat kuno. Tentara Mongol mengambil buku-buku tersebut dan membuangnya ke Sungai Tigris.
Peristiwa ini meninggalkan luka yang sangat mendalam bagi sejarah ilmu pengetahuan dunia. Tinta dari ratusan ribu buku tersebut melunturi air sungai yang jernih. Saksi sejarah menggambarkan pemandangan yang sangat memilukan mengenai kondisi air sungai saat itu. Seorang penulis sejarah mencatat sebuah kutipan legendaris mengenai kejadian tersebut:
“Air Sungai Tigris berubah menjadi hitam karena tinta dari buku-buku yang dibuang ke dalamnya.” (Catatan Sejarah Klasik).
Kekejaman Hulagu Khan ini menghapus ribuan tahun kemajuan intelektual dalam sekejap saja. Dunia kehilangan banyak sekali teori sains orisinal yang tidak akan pernah kembali lagi. Air sungai berubah warna menjadi hitam pekat sekaligus merah karena darah para syuhada. Fenomena ini melambangkan matinya sebuah peradaban besar akibat kekerasan militer yang membabi buta.
Akhir Tragis Sang Khalifah
Hulagu Khan tidak hanya menghancurkan bangunan dan buku-buku berharga milik negara. Ia juga menyiapkan kematian yang sangat menghina bagi Khalifah Al-Musta’sim. Pemimpin Mongol tersebut merasa takut akan mitos darah bangsawan yang menyentuh tanah. Oleh karena itu, ia memiliki cara yang sangat unik sekaligus kejam untuk membunuh Khalifah. Hulagu memerintahkan pasukannya untuk menggulung tubuh sang Khalifah ke dalam sebuah karpet tebal.
Pasukan berkuda Mongol kemudian menginjak-injak karpet tersebut hingga sang pemimpin tewas mengenaskan. Cara ini bertujuan agar tidak ada satu tetes pun darah Khalifah yang membasahi bumi. Kekejaman Hulagu Khan ini menandai berakhirnya dinasti Abbasiyah yang telah berkuasa selama berabad-abad. Sejarah Islam mengalami titik terendah setelah jatuhnya kota Baghdad ke tangan Mongol.
Dampak Jangka Panjang bagi Peradaban
Kehancuran Baghdad menyebabkan kemunduran sains yang sangat signifikan di wilayah Timur Tengah. Banyak ilmuwan hebat yang tewas atau terpaksa melarikan diri ke wilayah lain. Tradisi literasi yang kuat perlahan mulai memudar karena pusat belajarnya telah musnah terbakar. Kekejaman Hulagu Khan menciptakan trauma sejarah yang terus diingat oleh umat Islam hingga sekarang. Dunia memerlukan waktu ratusan tahun untuk memulihkan kembali sisa-sisa kejayaan intelektual tersebut.
Meskipun begitu, beberapa naskah sempat terselamatkan oleh para ulama yang gigih bersembunyi. Mereka membawa buku-buku tersebut keluar dari Baghdad sebelum tentara Mongol membakarnya habis. Namun, jumlah karya yang selamat jauh lebih sedikit daripada yang hancur di sungai. Kita hanya bisa membayangkan betapa majunya dunia jika perpustakaan itu tetap berdiri utuh.
Kesimpulan
Kekejaman Hulagu Khan merupakan peringatan nyata tentang bahaya kekuasaan yang tanpa kendali moral. Penghancuran perpustakaan Baghdad adalah kerugian besar bagi seluruh umat manusia di planet bumi ini. Kita harus menghargai setiap lembar buku sebagai warisan berharga dari masa lalu kita semua. Jangan biarkan kebencian menghancurkan cahaya ilmu pengetahuan yang telah dibangun dengan susah payah. Semoga sejarah kelam ini tidak pernah terulang kembali pada masa depan yang akan datang.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
