SURAU.CO. Alhamdulillah, kita kembali menyambut bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan. Ramadhan datang layaknya tamu agung yang membawa cahaya terang. Kehadirannya bukan sekadar penanda pergantian kalender Hijriah semata. Bulan ini menggetarkan batin kita. Ia mengetuk kesadaran terdalam manusia. Ramadhan mengajak jiwa kita untuk pulang kembali kepada fitrah yang suci.
Saat ini, kita hidup dalam hiruk-pikuk dunia yang melelahkan. Harga kebutuhan pokok terus merangkak naik. Arus informasi membanjiri ruang digital kita tanpa henti. Media sosial sering kali riuh dengan kegaduhan yang tidak perlu. Kompetisi hidup juga terasa semakin keras dan menekan. Di tengah kondisi ini, Ramadhan hadir sebagai ruang hening yang menenangkan jiwa.
Makna Takwa sebagai Inti Ibadah Puasa
Menggapai kemuliaan Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar. Ibadah ini juga bukan sekadar menahan dahaga sejak terbit fajar. Puasa adalah perjalanan panjang untuk menata ulang hati manusia. Allah Swt. menegaskan tujuan ini dalam firman-Nya.
Dalam QS. Al-Baqarah: 183, Allah berfirman, “… La‘allakum tattaqūn”—agar kamu bertakwa. Takwa bukanlah sekadar rasa takut kepada Sang Pencipta. Takwa adalah kesadaran utuh bahwa Allah Swt selalu hadir. Dia mengawasi setiap detik dalam kehidupan kita.
Seseorang menahan diri dari makan meskipun sedang sendirian. Tidak ada manusia lain yang melihat tindakan tersebut. Pada momen itulah lahir sebuah kejujuran yang sangat murni. Kita memastikan Allah Swt. melihat seluruh tingkah dan perilaku kita.
Perubahan Perilaku dalam Kehidupan Sehari-hari
Kita bisa menemukan contoh sederhana di lingkungan rumah sendiri. Seorang kakak biasanya mudah marah kepada adiknya. Namun, saat Ramadhan, ia belajar menahan emosi dengan sabar. Ia sadar bahwa dirinya sedang menjalankan ibadah puasa.
Contoh lain hadir dari dunia perdagangan yang kompetitif. Seorang pedagang memiliki kesempatan untuk mengurangi timbangan barangnya. Namun, ia memilih untuk tetap jujur dan amanah. Ia merasa Allah Swt selalu mengawasi setiap transaksi tersebut.
Seorang pegawai juga menunjukkan semangat yang sama di kantor. Ia tidak lagi menunda-nunda pekerjaan kantornya. Ia berusaha menyelesaikan semua tugas dengan tepat waktu. Ia ingin puasanya memiliki nilai ibadah yang sempurna di mata Allah Swt.
Menghidupkan Al-Qur’an dalam Setiap Langkah
Kemuliaan Ramadhan sangat berkaitan erat dengan Kitab Suci Al-Qur’an. Kita mengenal bulan ini dengan sebutan Syahrul Qur’an. Suara tadarus Al-Qur’an menggema indah di berbagai sudut negeri. Kita mendengarnya dari masjid hingga ke rumah-rumah sederhana.
Anak-anak mulai belajar mengeja huruf-huruf hijaiyah dengan tekun. Orang tua mengisi waktu dengan mengulang hafalan mereka. Para santri juga mempercepat proses murajaah hafalan Al-Qur’an mereka. Namun, kita tidak boleh hanya sekadar membaca Al-Qur’an. Kita harus menghidupkan nilai-nilainya dalam sikap dan keputusan hidup.
Misalnya, kita membaca ayat tentang pentingnya menjaga lisan. Maka, kita berhenti menyebarkan berita bohong di grup WhatsApp. Kita juga tidak lagi berkomentar buruk di media sosial. Saat membaca ayat tentang sedekah, kita langsung beraksi nyata. Kita menyisihkan uang jajan untuk mengisi kotak infak masjid.
Menumbuhkan Empati dan Kepedulian Sosial
Ramadhan mendidik kita semua untuk memiliki empati sosial. Rasa lapar yang kita rasakan harus membuka mata hati. Kita menjadi lebih peduli terhadap mereka yang berkekurangan. Zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar kewajiban formal belaka. Ibadah tersebut merupakan jembatan kasih sayang antarmanusia.
Di tengah ketimpangan ekonomi, Ramadhan membawa pesan penting. Keberkahan hidup tidak lahir dari tindakan menumpuk harta. Sebaliknya, keberkahan sejati muncul dari keikhlasan kita dalam berbagi.
Kita melihat ibu rumah tangga menambah porsi masakannya. Ia kemudian mengantarkan makanan itu kepada tetangga yang lansia. Seorang pelajar menyisihkan tabungannya untuk membeli paket takjil. Ia membagikan takjil tersebut kepada pekerja di pinggir jalan. Pengusaha juga membagikan sembako kepada karyawan sebagai bentuk syukur.
Meraih Transformasi Diri yang Berkelanjutan
Kita tidak akan meraih kemuliaan Ramadhan tanpa kesungguhan hati. Banyak orang menjalankan puasa setiap tahunnya. Namun, tidak semua orang berhasil mendapatkan nilai ketakwaan. Ada orang yang rajin menjalankan shalat tarawih berjamaah. Namun, lisan mereka masih sering melukai perasaan orang lain.
Ada pula yang berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an berkali-kali. Namun, sikap dan hatinya belum mengalami perubahan positif. Oleh karena itu, Ramadhan menuntut kita untuk melakukan muhasabah. Kita perlu bertanya, sejauh mana puasa membentuk akhlak kita?
Ukurannya sebenarnya sangat sederhana untuk kita nilai sendiri. Apakah kita tetap menjaga shalat tepat waktu setelah Ramadhan, lisan kita tetap terjaga meski tidak lagi berpuasa, dan kepedulian sosial kita tetap hidup sepanjang tahun?
Pada akhirnya, meraih kemuliaan Ramadhan adalah tentang transformasi diri. Ini bukan sekadar ritual tahunan yang berulang-ulang. Ramadhan adalah madrasah ruhani yang harus membekas dalam keseharian. Ramadhan harus melahirkan pribadi yang lebih sabar di rumah. Kita harus menjadi lebih jujur di lingkungan tempat kerja.
Semoga Ramadhan 1447 H menjadi momentum perbaikan diri kita. Mari kita kuatkan iman dan tebarkan kebaikan nyata. Mulailah dari hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari. Dengan begitu, kemuliaan Ramadhan akan benar-benar terasa dalam hidup kita. (kareemustofa)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
