SURAU.CO – Puasa pertama adalah belajar menahan. Puasa kedua adalah belajar memahami. Puasa ketiga adalah belajar mencintai. Serta Puasa Pertama Menahan
Hari pertama terasa panjang seperti jalan tanpa ujung.
Jam dinding seperti berdetak lebih keras dari biasanya.
Perut berontak, tenggorokan kering, pikiran mudah goyah.
Aku berpuasa karena kewajiban.
Karena semua orang melakukannya.
Karena itu adalah perintah.
Iman di hari pertama masih seperti benih
ditanam, namun belum berakar kuat.
Ketika magrib tiba, kebahagiaan hadir sederhana.
Seteguk air terasa seperti anugerah.
Aku menang, kataku dalam hati menang melawan lapar.
Namun aku belum sadar, perjuangan sebenarnya bukan pada perut, melainkan pada hati.
Puasa Kedua Memahami Hari kedua terasa berbeda.
Tubuh mulai mengenal ritme.
Lidah mulai berhati-hati.
Mata mulai belajar menunduk.
Aku mulai bertanya:
Mengapa harus lapar?
Mengapa harus haus?
Dan dalam diam, jawabannya muncul:
Agar kita tahu rasanya menjadi yang kekurangan.
Agar kita belajar bahwa nikmat itu sering tak disadari.
Puasa kedua bukan hanya tentang menahan makan,
tetapi menahan amarah.
Menahan ego yang ingin selalu benar.
Menahan keluhan yang ingin diucapkan.
Iman mulai berakar.
Pelan, namun terasa.
Puasa Ketiga Mencintai
Hari ketiga membawa suasana lain.
Kerinduan yang Tumbuh
Bukan lagi sekadar kewajiban,
bukan lagi sekadar latihan.
Ada kerinduan yang tumbuh.
Rindu pada sahur yang sunyi.
Rindu pada azan magrib yang menggetarkan.
>Rindu pada malam yang dipenuhi doa.
Puasa ketiga mengajarkan bahwa
menahan diri adalah bentuk cinta.
Cinta kepada Tuhan yang memerintah.
Cinta kepada jiwa yang ingin bersih.
Dan Cinta kepada sesama yang merasakan lapar yang sama.
Kini aku mengerti
puasa bukan sekadar ritual tahunan.
Ia adalah perjalanan iman dari luar ke dalam.
Dari menahan tubuh,
menuju memahami makna,
hingga mencintai perintah-Nya.
Dan mungkin,
setiap hari dalam Ramadhan
adalah jenjang kecil menuju kedewasaan jiwa.
Karena dalam puasa pertama aku belajar kuat.
Dalam puasa kedua aku belajar sadar.
Dalam puasa ketiga aku belajar ikhlas.
Dan perjalanan iman itu
masih terus berjalan.
Sikap Diri Saat Melihat atau Mendengar Penutur yang Menjelekkan Orang Lain dengan Berbagai Dalil di Forum
Di sebuah forum diskusi, seorang penutur berdiri dengan lantang. Ia menyampaikan kritik tajam kepada seseorang yang tidak hadir. Anehnya, setiap kalimatnya dibalut dengan dalil, ayat, dan kata-kata ilmiah.
Seolah-olah kebenaran ada di tangannya.
Sebagian peserta mengangguk. Sebagian lagi terdiam.
Di sudut ruangan, seorang murid muda bertanya dalam hati:
“Apakah semua yang dibungkus dalil itu pasti benar?”
Hikmah Pertama:
Dalil Tanpa Akhlak Kehilangan Cahaya
Dalil adalah cahaya.
Tetapi cahaya yang dipakai untuk menyilaukan orang lain bukan lagi penerang, melainkan alat pembenaran.
Ilmu bukan sekadar benar secara teks, tetapi juga benar secara sikap.
Jika tujuan bicara adalah merendahkan, maka dalil yang dibacakan bisa berubah menjadi pembungkus ego.
Orang bijak berkata:
“Kebenaran yang disampaikan tanpa kasih sayang, sering kali lebih dekat kepada kesombongan daripada hikmah.”
Hikmah Kedua:
Sikap Pendengar Menentukan Martabatnya
Dalam kondisi seperti itu, ada tiga pilihan sikap:
Ikut membenarkan tanpa menimbang.
Menyanggah dengan emosi.
Menjaga hati, menahan lisan, dan menilai dengan adil.
Sikap ketiga adalah jalan hikmah.
Mendengar keburukan orang lain tanpa kehadirannya adalah ujian hati.
Jika hati menikmati cerita itu, berarti kita sedang dilatih dan mungkin sedang gagal.
Hikmah Ketiga:
Tidak Semua Kritik adalah Ghibah, Tidak Semua Dalil adalah Hikmah
Ada kritik yang perlu disampaikan demi perbaikan.
Tetapi ada pula yang hanya menjadi legitimasi untuk menjatuhkan.
Perbedaannya terletak pada:
1. Niat
2. Cara penyampaian
3. Manfaat yang dihasilkan
Apakah dilakukan di tempat yang tepat.
Jika forum berubah menjadi panggung menjatuhkan, maka bijaklah untuk:
Mengalihkan pembicaraan ke solusi
Mengingatkan dengan lembut
Atau memilih diam yang bermartabat
Karena diam dalam menjaga kehormatan orang lain adalah bagian dari akhlak mulia.
Hikmah Keempat: Ilmu yang Tinggi Melahirkan Kerendahan Hati
Semakin dalam seseorang memahami agama dan ilmu, seharusnya semakin ia berhati-hati dalam berbicara tentang orang lain.
Memahami Keseluruhan Keadaan
Orang yang benar-benar berilmu lebih sering berkata:
“Wallahu a’lam.”
Karena ia sadar, ia mungkin benar tetapi belum tentu sepenuhnya memahami keseluruhan keadaan.
Akhir kata Hikmah
Wahai diri.
Jika engkau mendengar seseorang menjelekkan orang lain dengan berbagai dalil:
Jangan langsung membenarkan.
Jangan pula langsung membenci.
Tanyakan pada hati: Apakah ini membawa perbaikan, atau hanya memperbesar perpecahan?
Ilmu seharusnya menyatukan, bukan memecah. Dalil seharusnya menenangkan, bukan memanaskan.
Dan kemuliaan seseorang bukan diukur dari kepiawaiannya menyebut dalil,
tetapi dari kemampuannya menjaga kehormatan sesama. (Bambang JB)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
