Sejarah dakwah Islam di Makkah penuh dengan berbagai ujian fisik dan mental yang sangat berat bagi kaum Muslimin. Salah satu peristiwa yang paling menyayat hati adalah aksi pemboikotan Syi’ib Abi Thalib oleh kaum kafir Quraysh. Para pemimpin Quraysh merasa sangat gerah dengan perkembangan agama Islam yang semakin meluas di kalangan penduduk kota Makkah. Mereka kemudian merancang sebuah strategi kejam untuk menghentikan dakwah Nabi Muhammad SAW dengan cara mengisolasi total pengikutnya. Pemboikotan ini bertujuan untuk menghancurkan kekuatan ekonomi dan mental Bani Hasyim serta Bani Muthalib secara perlahan.
Piagam Kezaliman di Dinding Ka’bah
Kaum Quraysh merumuskan sebuah piagam perjanjian yang berisi sanksi sosial dan ekonomi yang sangat tidak manusiawi. Mereka sepakat untuk tidak melakukan transaksi jual beli dengan siapa pun yang melindungi Nabi Muhammad SAW. Mereka juga mengharamkan hubungan pernikahan, pergaulan sosial, maupun pembicaraan dengan anggota kabilah yang terkena boikot tersebut. Seluruh pemuka Quraysh menandatangani piagam itu dan menggantungkannya di dalam Ka’bah agar menjadi kesepakatan yang mengikat.
Tindakan ini memaksa Rasulullah SAW, keluarga besar beliau, dan para sahabat mengungsi ke celah gunung Syi’ib Abi Thalib. Di tempat yang sempit dan gersang tersebut, mereka harus bertahan hidup dengan segala keterbatasan yang sangat menyiksa. Penderitaan ini berlangsung selama tiga tahun penuh, mulai dari tahun ketujuh hingga tahun kesepuluh masa kenabian.
Bertahan Hidup dengan Memakan Dedaunan
Kelaparan ekstrem menjadi pemandangan sehari-hari yang menghiasi kehidupan para sahabat di dalam lembah sunyi tersebut. Suara tangisan bayi yang kelaparan terdengar sangat jelas hingga ke luar lembah dan menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Kaum Quraysh secara sengaja memblokir setiap akses bantuan makanan yang akan masuk ke wilayah Syi’ib Abi Thalib tersebut. Para sahabat terpaksa memakan dedaunan kering dan kulit binatang yang keras hanya demi menyambung nyawa mereka masing-masing.
Kondisi ini menunjukkan betapa mahalnya harga sebuah keimanan pada masa awal perjuangan Islam di jazirah Arab. Allah SWT berfirman mengenai ujian berat yang menimpa orang-orang beriman sebagai bentuk pembersihan jiwa dan karakter:
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155).
Kutipan tersebut menjelaskan bahwa kelaparan merupakan instrumen Tuhan untuk menguji kualitas kesabaran seorang hamba yang mengaku beriman. Rasulullah SAW tetap berdiri tegak memimpin umatnya dengan penuh keteladanan meskipun perut beliau sendiri seringkali terganjal batu. Beliau tidak pernah menyerah sedikit pun untuk terus menyampaikan risalah kebenaran meskipun tekanan ekonomi menghimpit kehidupan keluarganya.
Keteguhan di Tengah Bulan Suci Ramadhan
Selama masa pemboikotan tiga tahun tersebut, umat Islam melewati beberapa kali bulan suci Ramadhan dalam kondisi sangat memprihatinkan. Mereka menjalankan ibadah puasa di tengah terik matahari yang menyengat tanpa ketersediaan makanan untuk berbuka yang layak. Namun, penderitaan fisik tersebut justru semakin memperkuat hubungan spiritual antara para sahabat dengan Allah SWT yang Maha Kuat. Ramadhan di Syi’ib Abi Thalib menjadi saksi bisu betapa kuatnya mentalitas para pejuang Islam terdahulu menghadapi kezaliman.
Keadaan ini menempa karakter para sahabat agar menjadi pribadi yang tangguh dan tidak mudah goyah oleh urusan duniawi. Mereka belajar bahwa kekuatan sejati manusia tidak terletak pada kekayaan harta, melainkan pada keteguhan prinsip dan keyakinan. Pemboikotan ini justru gagal mematahkan semangat dakwah karena para sahabat semakin solid dan saling menguatkan satu sama lain. Solidaritas sosial muncul secara alami melalui rasa senasib sepenanggungan dalam menghadapi penindasan kaum kafir Quraysh yang kejam.
Mukjizat Rayap dan Berakhirnya Penderitaan
Penderitaan panjang tersebut akhirnya berakhir melalui jalan yang sangat tidak terduga bagi akal sehat manusia pada umumnya. Beberapa tokoh Quraysh yang masih memiliki rasa kemanusiaan mulai merasa risi melihat saudara mereka menderita kelaparan yang hebat. Mereka berencana untuk merobek piagam kezaliman tersebut demi mengakhiri pemboikotan yang sudah berlangsung selama tiga tahun lamanya.
Namun, sebelum mereka melakukannya, Nabi Muhammad SAW telah mengabarkan sebuah informasi penting kepada pamannya, Abi Thalib. Beliau memberitahu bahwa rayap telah memakan seluruh teks piagam kezaliman tersebut atas izin Allah SWT yang Maha Adil. Ternyata, rayap menyisakan satu bagian kecil saja yang bertuliskan kalimat “Bismika Allahumma” atau “Dengan nama-Mu, ya Allah”. Ketika para pemimpin Quraysh melihat kenyataan tersebut, mereka terkejut dan tidak memiliki alasan lagi untuk melanjutkan aksi pemboikotan.
Kesimpulan
Kisah pemboikotan Syi’ib Abi Thalib memberikan pelajaran berharga tentang arti sebuah kesabaran dan juga totalitas dalam berjuang. Kita harus meneladani sikap pantang menyerah Rasulullah SAW meskipun menghadapi tekanan ekonomi dan sosial yang sangat luar biasa. Sejarah ini membuktikan bahwa pertolongan Allah akan selalu datang kepada hamba-hamba-Nya yang bersedia bersabar dalam kebenaran. Mari kita ambil hikmah dari kelaparan ekstrem para sahabat untuk memperkuat rasa syukur atas segala nikmat-Nya. Semoga keteguhan iman mereka menjadi inspirasi bagi kita semua dalam menghadapi tantangan hidup di zaman modern ini.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
