Sejarah Islam mencatat sebuah peristiwa kelam yang mengguncang pondasi umat pada abad ke-7 masehi yang sangat memilukan hati. Seorang pria bernama Abdurrahman bin Muljam melakukan tindakan yang sangat keji terhadap pemimpin tertinggi umat Islam saat itu. Peristiwa ini bukan sekadar pembunuhan politik biasa, melainkan puncak dari pemahaman agama yang sangat sempit dan juga ekstrem. Pengkhianatan Ibnu Muljam menyisakan luka sejarah yang tidak pernah benar-benar kering hingga saat ini bagi seluruh kaum Muslimin. Tragedi ini terjadi pada bulan suci Ramadhan, saat umat seharusnya fokus meningkatkan ketaatan dan kasih sayang kepada sesama.
Sosok Ibnu Muljam: Extremisme di Balik Jubah Ketaatan
Ibnu Muljam bukanlah seorang penjahat jalanan yang tidak mengenal ajaran agama sama sekali dalam kehidupan sehari-harinya yang rutin. Sejarah menyebutnya sebagai seorang penghafal Al-Qur’an yang sangat tekun dalam menjalankan ibadah secara lahiriah kepada Tuhan Yang Esa. Namun, ia membiarkan kebencian dan fanatisme buta meracuni hatinya sehingga ia merasa paling benar sendiri di hadapan manusia. Ia menganggap bahwa membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib adalah sebuah bentuk pengabdian tertinggi kepada Allah SWT yang mulia. Pemikiran sesat ini muncul akibat doktrin kelompok Khawarij yang gemar mengafirkan orang lain di luar kelompok mereka sendiri.
Perencanaan Pembunuhan yang Sangat Matang
Kelompok Khawarij menyimpan dendam yang sangat mendalam setelah kekalahan mereka dalam Perang Nahrawan melawan pasukan Ali bin Abi Thalib. Mereka bersepakat untuk melenyapkan tiga tokoh besar Islam sekaligus demi mengakhiri apa yang mereka sebut sebagai fitnah besar. Ibnu Muljam mendapatkan tugas untuk membunuh Ali bin Abi Thalib yang saat itu berkedudukan di kota Kufah, wilayah Irak. Ia menyiapkan pedang yang telah ia lumuri dengan racun mematikan seharga seribu dinar selama empat puluh hari lamanya. Persiapan yang sangat matang ini menunjukkan betapa besarnya tekad jahat yang bersarang dalam dadanya yang penuh dengan kebencian.
Detik-Detik Tragedi Berdarah di Masjid Kufah
Pada malam ke-19 bulan Ramadhan tahun 40 Hijriah, Ibnu Muljam menunggu Ali di depan pintu masuk Masjid Kufah. Saat Ali bin Abi Thalib berjalan menuju masjid untuk mengimami salat Subuh, Ibnu Muljam tiba-tiba menyerang dengan sangat brutal. Ia mengayunkan pedang beracunnya tepat ke arah dahi Ali yang mulia hingga darah segar mengucur deras membasahi janggutnya. Dalam kondisi terluka parah dan bersimbah darah, Ali bin Abi Thalib justru mengeluarkan kalimat yang sangat menggetarkan jiwa manusia:
“Demi Tuhan Pemilik Ka’bah, aku telah menang (beruntung).”
Kalimat tersebut menunjukkan bahwa Ali memandang kematian syahid sebagai pencapaian tertinggi dalam hidupnya yang penuh dengan perjuangan. Para sahabat segera menangkap Ibnu Muljam yang berusaha melarikan diri setelah melakukan aksi kejinya terhadap sang Khalifah tersebut. Meskipun Ali sedang meregang nyawa, beliau tetap memerintahkan anak-anaknya untuk memperlakukan tawanan tersebut dengan cara yang sangat manusiawi. Ali melarang para pengikutnya untuk melakukan penyiksaan yang melampaui batas meskipun pelaku telah melakukan dosa yang sangat besar.
Dampak Panjang bagi Masa Depan Umat Islam
Pengkhianatan Ibnu Muljam mengakhiri era Khulafaur Rasyidin yang penuh dengan keberkahan dan juga nilai-nilai keadilan yang sangat sejati. Peristiwa ini memicu perpecahan yang berkepanjangan di kalangan umat Islam dan melahirkan berbagai kelompok yang saling berselisih paham. Luka sejarah ini menjadi pengingat bagi kita tentang bahaya ekstremisme yang bersembunyi di balik jubah ketaatan beragama seseorang. Ibnu Muljam adalah contoh nyata bagaimana seseorang bisa tersesat justru karena salah dalam memahami teks-teks suci Al-Qur’an. Ia membunuh atas nama Tuhan, padahal tindakannya sangat bertentangan dengan prinsip kasih sayang yang Islam ajarkan selama ini.
Dunia Islam menangisi kepergian Ali bin Abi Thalib yang merupakan pintu gerbang ilmu pengetahuan dan juga teladan keberanian. Kematian beliau akibat tangan seorang Muslim sendiri menjadi tragedi yang sangat paradoks dalam catatan emas sejarah peradaban Islam. Kita harus mengambil pelajaran dari peristiwa ini agar tidak mudah terjebak dalam arus pemikiran yang radikal dan intoleran. Menjaga hati dari kebencian terhadap sesama Muslim adalah kunci untuk mempertahankan persatuan dan kesatuan umat di masa depan.
Kesimpulan
Kita harus belajar dari tragedi kelam ini agar tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan yang akan datang. Pemahaman agama yang moderat dan penuh cinta kasih adalah kunci untuk menjaga persatuan umat yang sangat kita cintai. Pengkhianatan Ibnu Muljam akan selalu menjadi pengingat pahit tentang sisi gelap fanatisme manusia dalam lembaran sejarah Islam dunia. Mari kita jadikan kisah ini sebagai bahan renungan untuk selalu menjaga hati dari penyakit kebencian dan juga permusuhan. Semoga Allah melindungi kita dari pemikiran yang ekstrem dan memberikan kekuatan untuk selalu berada di jalan yang lurus.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
