Sejarah Islam mencatat sebuah peristiwa kelam pada bulan Ramadhan tahun 40 Hijriah. Khalifah keempat, Ali bin Abi Thalib, mengalami serangan fatal saat memimpin umat di Kufah. Abdurrahman bin Muljam, seorang penganut paham ekstremis, menebaskan pedang beracun ke dahi Ali. Peristiwa tragis ini terjadi saat Sang Singa Allah sedang bersujud dalam salat Subuh. Meskipun luka tersebut sangat parah, Ali tetap menunjukkan ketenangan jiwa yang luar biasa. Beliau tidak mengkhawatirkan nyawanya sendiri, melainkan memikirkan nasib masa depan umat Islam.
Keteguhan Jiwa Menghadapi Kematian
Ali bin Abi Thalib menyadari bahwa ajalnya telah sangat dekat. Racun dari pedang Ibnu Muljam mulai menjalar ke seluruh aliran darahnya. Dalam kondisi lemah tersebut, beliau memanggil kedua putranya, Hasan dan Husain. Beliau ingin menyampaikan pesan terakhir yang mengandung hikmah spiritual sangat mendalam. Wasiat Ali bin Abi Thalib bukan sekadar warisan harta, melainkan tuntunan hidup yang abadi. Beliau menitipkan nilai-nilai ketakwaan sebagai fondasi utama bagi setiap Muslim.
Beliau mendiktekan wasiat tersebut dengan suara yang tenang namun penuh wibawa. Ali bin Abi Thalib berpesan:
“Aku wasiatkan kepada kalian berdua untuk bertakwa kepada Allah. Janganlah kalian mengejar dunia meskipun dunia mengejar kalian. Janganlah kalian menyesali sesuatu dari dunia yang luput dari kalian. Ucapkanlah kebenaran dan beramalah untuk mendapatkan pahala. Jadilah penentang bagi orang yang zalim dan penolong bagi orang yang dizalimi.”
Kutipan tersebut menunjukkan integritas moral Ali yang tidak pernah goyah sedikit pun. Beliau mengajarkan kita untuk selalu berpihak pada kebenaran tanpa rasa takut. Dunia hanyalah tempat persinggahan sementara yang tidak boleh mengendalikan hati manusia. Pesan ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk menjaga kejujuran di tengah godaan zaman.
Prioritas Persaudaraan dan Kedamaian Umat
Dalam wasiatnya, Ali menekankan pentingnya menjaga tali silaturahmi antar sesama Muslim. Beliau sangat mengkhawatirkan perpecahan yang dapat menghancurkan kekuatan umat dari dalam. Ali meminta anak-anaknya untuk selalu memperbaiki hubungan di antara manusia yang sedang berselisih. Perdamaian bagi beliau memiliki nilai yang jauh lebih tinggi daripada ibadah-ibadah sunnah lainnya. Beliau menginginkan umat Islam tetap bersatu di bawah bendera tauhid yang kokoh.
Ali juga memberikan perhatian khusus kepada kelompok masyarakat yang sering terlupakan. Beliau mengingatkan umatnya untuk selalu menyayangi anak yatim dan juga tetangga. Beliau berpesan agar jangan sampai anak-anak yatim menderita kelaparan di tengah masyarakat. Perlakuan baik kepada tetangga merupakan bagian dari wasiat langsung Rasulullah SAW yang Ali pegang teguh. Kasih sayang sosial menjadi poin krusial dalam membangun tatanan masyarakat yang harmonis dan adil.
Adab terhadap Musuh dan Keadilan Hukum
Keteladanan Ali bin Abi Thalib terpancar nyata saat beliau menyikapi pembunuhnya sendiri. Beliau memerintahkan keluarganya untuk memberikan makanan yang layak kepada Ibnu Muljam selama dalam tawanan. Ali melarang tindakan penyiksaan yang melampaui batas terhadap orang yang telah melukainya tersebut. Beliau meminta agar hukuman diberikan secara adil dan tidak berdasarkan dendam pribadi yang buta. Jika beliau hidup, beliau akan memutuskan hukumannya sendiri dengan penuh pertimbangan bijaksana.
Namun, jika beliau wafat, maka hukuman harus setimpal sesuai dengan syariat Islam. Beliau menekankan agar tidak ada pertumpahan darah massal hanya karena kematiannya sebagai pemimpin. Sikap ini menunjukkan bahwa keadilan hukum harus berdiri di atas kepentingan pribadi maupun golongan. Ali menjunjung tinggi martabat manusia, bahkan kepada musuh yang paling kejam sekalipun. Inilah akhlak mulia yang menjadikannya sebagai pintu ilmu dan teladan bagi seluruh umat.
Menjaga Salat dan Al-Qur’an hingga Akhir Hayat
Menjelang hembusan napas terakhirnya, Ali bin Abi Thalib memberikan penekanan luar biasa pada salat. Beliau menyebut salat sebagai tiang agama yang tidak boleh goyah dalam kondisi apa pun. Salat adalah jembatan penghubung yang paling utama antara seorang hamba dengan Sang Pencipta. Beliau juga berpesan agar umat Islam tidak pernah meninggalkan ajaran suci Al-Qur’an. Kita harus selalu menjadi yang terdepan dalam mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan nyata.
Beliau mengingatkan agar jangan sampai orang lain mendahului umat Islam dalam mengamalkan isi kitab suci. Al-Qur’an harus menjadi kompas moral dalam setiap pengambilan keputusan penting di masyarakat. Ali wafat pada tanggal 21 Ramadhan dengan lisan yang terus berzikir menyebut nama Allah. Wafatnya Sang Singa Allah meninggalkan duka yang sangat mendalam bagi seluruh dunia Islam saat itu. Namun, semangat dan wasiatnya tetap hidup serta menerangi jalan bagi generasi setelahnya.
Kesimpulan
Wasiat Ali bin Abi Thalib merupakan khazanah berharga bagi pembentukan karakter seorang Muslim yang ideal. Kita belajar tentang arti ketakwaan, keberanian membela keadilan, dan kasih sayang kepada sesama manusia. Ali mengajarkan kita untuk tetap berdiri tegak di atas kebenaran meskipun nyawa menjadi taruhannya. Mari kita amalkan pesan-pesan terakhir beliau untuk memperkuat integritas diri dan persatuan umat. Semoga kita mampu meneladani kemuliaan akhlak sang khalifah yang sangat dicintai oleh Rasulullah SAW ini.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
