Sejarah
Beranda » Berita » Tragedi Pembunuhan Ali bin Abi Thalib: Malam Kelam di Masjid Kufah

Tragedi Pembunuhan Ali bin Abi Thalib: Malam Kelam di Masjid Kufah

Sejarah Islam mencatat sebuah peristiwa yang sangat memilukan pada pertengahan abad ketujuh. Tragedi pembunuhan Ali bin Abi Thalib mengguncang seluruh umat Muslim di berbagai penjuru dunia. Peristiwa berdarah ini terjadi di jantung kekuasaan Islam saat itu, yakni Kota Kufah. Malam itu menjadi titik balik yang mengubah peta politik dan sejarah peradaban Islam selamanya.

Ketegangan Politik dan Munculnya Kelompok Ekstrem

Situasi politik saat itu sedang berada dalam ketegangan yang sangat hebat. Kelompok Khawarij merasa kecewa dengan kebijakan politik Khalifah Ali bin Abi Thalib. Mereka merencanakan sebuah aksi kekerasan terhadap tiga pemimpin besar Islam sekaligus. Namun, hanya rencana terhadap Ali bin Abi Thalib yang berhasil mereka laksanakan dengan sempurna.

Abdurrahman bin Muljam merupakan eksekutor utama dalam rencana jahat yang sangat keji tersebut. Ia mengasah pedangnya selama empat puluh hari dengan racun yang sangat mematikan. Muljam berniat membunuh menantu Rasulullah SAW tersebut demi ambisi politik yang sangat sempit. Ia menunggu momentum yang tepat saat Ali sedang menjalankan ibadah kepada Allah SWT.

Detik-Detik Peristiwa Berdarah di Fajar Ramadhan

Pada tanggal 19 Ramadhan tahun 40 Hijriah, Ali bin Abi Thalib berangkat menuju Masjid Kufah. Beliau hendak memimpin salat Subuh secara berjamaah bersama penduduk kota tersebut. Suasana masjid masih gelap saat sang Khalifah masuk untuk memulai ibadah. Abdurrahman bin Muljam sudah bersembunyi di dalam masjid dengan pedang terhunus.

Saat Ali sedang mengimami salat atau baru masuk masjid, Muljam menebas kepalanya dengan keras. Pedang beracun itu mengenai dahi Ali hingga menembus ke bagian otak beliau. Darah suci membasahi lantai masjid dan janggut sang Khalifah yang sangat mulia tersebut. Ali bin Abi Thalib tidak membalas serangan tersebut dengan kemarahan yang membabi buta.

Detik-Detik Terakhir Sang Singa Allah: Wasiat Ali bin Abi Thalib Sebelum Syahid

Sejarah mencatat kalimat terakhir beliau yang penuh dengan kedalaman makna spiritual:

“Demi Tuhan Ka’bah, aku telah menang.”

Kutipan ini menunjukkan betapa Ali sangat merindukan pertemuan dengan Allah melalui jalan syahadat. Beliau memandang kematian sebagai sebuah kemenangan hakiki bagi seorang hamba yang beriman. Para sahabat segera menangkap Abdurrahman bin Muljam yang berusaha melarikan diri dari lokasi kejadian.

Wasiat Terakhir Sang Singa Allah

Meskipun sedang terluka parah, Ali tetap memberikan wasiat yang sangat bijaksana kepada keluarganya. Beliau melarang anak-anaknya untuk melakukan balas dendam secara berlebihan kepada sang pembunuh. Ali meminta mereka untuk memberikan makanan dan minuman yang layak kepada Abdurrahman bin Muljam. Keteladanan Ali menunjukkan akhlak yang luar biasa bahkan di ambang pintu kematiannya sendiri.

Beliau memanggil Hasan dan Husain untuk memberikan nasihat terakhir mengenai persatuan umat. Ali menekankan pentingnya menjaga ketakwaan dan memperbaiki hubungan antar sesama Muslim di mana pun. Beliau tidak ingin kematiannya memicu perang saudara yang lebih besar di masa depan. Wasiat ini mencerminkan integritas Ali sebagai pemimpin yang sangat mencintai kedamaian dan keadilan.

Kisah Wafatnya Sayyidah Fatimah Az-Zahra: Wangi Surga di Awal Ramadhan

Kepergian Sosok Pemimpin yang Adil

Setelah bertahan selama dua hari, Ali bin Abi Thalib akhirnya mengembuskan napas terakhirnya. Beliau wafat pada tanggal 21 Ramadhan dalam suasana duka yang sangat mendalam. Kepergian beliau menandai berakhirnya era Khulafaur Rasyidin yang sangat agung dalam sejarah. Dunia kehilangan sosok pemimpin yang sangat cerdas, adil, dan juga berani membela kebenaran.

Umat Islam memakamkan jenazah beliau secara rahasia untuk menghindari gangguan dari musuh-musuhnya. Hingga saat ini, makam beliau di Najaf menjadi simbol perjuangan dan keadilan bagi jutaan orang. Tragedi di Masjid Kufah tersebut mengajarkan kita tentang bahaya pemahaman agama yang ekstrem. Abdurrahman bin Muljam merasa tindakannya adalah sebuah ibadah meskipun ia membunuh sosok mulia.

Refleksi Sejarah bagi Generasi Modern

Kita harus mengambil pelajaran berharga dari peristiwa kelam yang menimpa Khalifah Ali tersebut. Fanatisme buta seringkali menutup mata hati manusia dari kebenaran yang nyata dan jelas. Islam selalu mengajarkan dialog dan kedamaian daripada menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan sebuah perbedaan. Sosok Ali bin Abi Thalib tetap menjadi inspirasi bagi setiap pejuang keadilan di seluruh dunia.

Generasi muda Muslim perlu mempelajari sejarah ini agar tidak terjebak dalam lubang yang sama. Warisan keilmuan dan keberanian Ali bin Abi Thalib harus terus kita lestarikan dalam kehidupan. Mari kita teladani kesabaran beliau dalam menghadapi fitnah dan juga cobaan hidup yang berat. Semoga Allah meridhai perjuangan sang Khalifah keempat dan menempatkannya di tempat yang mulia.

Kesimpulan

Pembunuhan Ali bin Abi Thalib adalah tragedi besar yang menyisakan luka mendalam bagi sejarah Islam. Peristiwa ini menunjukkan bahwa kejatahan seringkali bersembunyi di balik topeng kebenaran yang semu. Namun, cahaya kebenaran Ali bin Abi Thalib tidak akan pernah padam oleh tebasan pedang mana pun. Beliau tetap hidup dalam setiap hati manusia yang merindukan keadilan dan kebenaran sejati.

Syahidnya Para Pejuang Badr: Air Mata di Balik Kemenangan Besar


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.