Sejarah
Beranda » Berita » Kisah Wafatnya Sayyidah Fatimah Az-Zahra: Wangi Surga di Awal Ramadhan

Kisah Wafatnya Sayyidah Fatimah Az-Zahra: Wangi Surga di Awal Ramadhan

Sejarah Islam mencatat duka mendalam pada awal bulan Ramadhan tahun ke-11 Hijriah. Sayyidah Fatimah Az-Zahra, putri tercinta Rasulullah SAW, meninggalkan dunia yang fana ini menuju keabadian. Kepergian beliau terjadi hanya beberapa bulan setelah wafatnya sang ayah, Nabi Muhammad SAW. Umat Islam mengenang momen ini sebagai peristiwa yang penuh dengan aroma wangi surga dan ketabahan luar biasa. Kisah wafatnya Sayyidah Fatimah memberikan pelajaran berharga tentang cinta sejati antara seorang anak dan juga ayahnya.

Rahasia di Balik Senyuman Terakhir

Fatimah Az-Zahra merupakan satu-satunya anggota keluarga yang paling cepat menyusul Rasulullah ke alam barzakh. Rasulullah SAW pernah membisikkan rahasia besar ini kepada Fatimah saat beliau sedang dalam keadaan sakit sakaratul maut. Awalnya Fatimah menangis dengan sangat sedih karena mendengar kabar tentang ajal ayahnya yang sudah sangat dekat. Namun, beliau kemudian tersenyum bahagia setelah mendengar bisikan kedua dari lisan suci sang Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah memberikan jaminan kemuliaan bagi putri kesayangannya tersebut di hadapan seluruh wanita di alam semesta. Beliau menegaskan kedudukan istimewa Fatimah melalui sebuah sabda yang sangat terkenal dalam sejarah:

“Fatimah adalah bagian dari dariku, barangsiapa yang membuatnya marah maka ia telah membuatku marah.” (HR. Bukhari).

Kutipan tersebut menunjukkan betapa erat hubungan batin antara sang ayah dan putri bungsunya tersebut. Kabar gembira bahwa Fatimah akan menjadi pemimpin wanita di surga menghapus rasa sedihnya menghadapi kematian. Beliau menyambut ajal dengan penuh kesiapan dan juga rasa rindu yang mendalam untuk bertemu kembali dengan ayahnya.

Tragedi Pembunuhan Ali bin Abi Thalib: Malam Kelam di Masjid Kufah

Persiapan Menuju Pertemuan Abadi

Menjelang hari wafatnya pada tanggal 3 Ramadhan, Fatimah mempersiapkan diri dengan cara yang sangat istimewa. Beliau meminta Asma binti Umais untuk menyiapkan air agar beliau bisa mandi dengan bersih. Fatimah menyucikan tubuhnya dan mengenakan pakaian terbaik yang masih beliau miliki saat itu. Beliau kemudian berbaring di tempat tidurnya dengan wajah yang menghadap langsung ke arah kiblat.

Fatimah berpesan kepada suaminya, Ali bin Abi Thalib, agar memakamkannya pada waktu malam hari secara tersembunyi. Beliau tidak ingin prosesi pemakamannya menarik perhatian yang berlebihan atau merepotkan banyak orang dari khalayak ramai. Ali bin Abi Thalib menjalankan wasiat tersebut dengan penuh kesetiaan dan juga rasa hormat yang sangat tinggi. Perpisahan ini menjadi momen paling berat bagi Ali setelah kehilangan Rasulullah beberapa bulan sebelumnya.

Teladan Kesabaran dan Kesederhanaan

Fatimah Az-Zahra menyandang gelar “Az-Zahra” yang berarti bunga yang cemerlang karena kemilau cahaya kesalehannya. Meskipun hidup dalam kesederhanaan yang sangat ekstrem, beliau tidak pernah mengeluh kepada sang suami tercinta. Tangan beliau bahkan menjadi kasar karena sering menggiling gandum sendiri demi memenuhi kebutuhan makan keluarganya. Beliau adalah teladan sejati bagi seluruh Muslimah di dunia dalam hal kesabaran dan juga pengabdian tulus.

Kemuliaan Fatimah tidak berasal dari harta benda, melainkan dari keteguhan iman dan juga pengorbanannya bagi Islam. Beliau mendidik putra-putrinya, Hasan dan Husain, menjadi pejuang-pejuang yang gagah berani membela kebenaran ilahi. Kasih sayang dan didikan Fatimah membentuk karakter Ahlul Bait yang menjadi panutan bagi umat Islam sepanjang masa. Beliau mengajarkan bahwa kemuliaan seorang wanita terletak pada ketaatannya kepada Allah dan juga rasul-Nya.

Warisan Spiritual untuk Umat

Kisah wafatnya Sayyidah Fatimah pada awal Ramadhan membawa pesan tentang keikhlasan dalam menerima ketentuan takdir Allah. Beliau meninggalkan dunia ini dalam keadaan rida dan juga diridai oleh Sang Pencipta alam semesta. Kepergiannya meninggalkan wangi surga yang terus tercium melalui catatan sejarah dan juga riwayat para sahabat Nabi. Kita harus mengambil hikmah dari setiap detik kehidupan yang Fatimah jalani dengan penuh perjuangan dan doa.

Syahidnya Para Pejuang Badr: Air Mata di Balik Kemenangan Besar

Bulan Ramadhan seharusnya menjadi momentum bagi kita untuk meningkatkan kecintaan kepada keluarga Rasulullah SAW. Mengenang perjalanan hidup Fatimah akan menguatkan mentalitas kita dalam menghadapi berbagai ujian hidup yang berat. Kita belajar untuk mengutamakan akhirat daripada mengejar kemewahan dunia yang bersifat hanya sementara saja. Semoga kita mampu meneladani kesucian hati Fatimah Az-Zahra dalam setiap langkah ketaatan kita kepada Allah.

Kesimpulan

Wafatnya Sayyidah Fatimah Az-Zahra adalah peristiwa agung yang mewarnai sejarah awal bulan suci Ramadhan. Beliau pergi memenuhi panggilan Tuhannya dengan senyuman kemenangan sebagai wanita penghuni surga yang paling utama. Ketulusan cinta dan kesetiaannya kepada Rasulullah menjadi inspirasi abadi bagi seluruh generasi umat Islam. Mari kita jadikan kisah ini sebagai pengingat untuk terus memperbaiki akhlak dan juga kualitas ibadah kita. Semoga Allah mengumpulkan kita bersama keluarga suci Rasulullah di dalam surga-Nya yang penuh kedamaian.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.