Ramadan
Beranda » Berita » Wafatnya Sayyidah Khadijah: Duka Terbesar Rasulullah di Bulan Ramadhan

Wafatnya Sayyidah Khadijah: Duka Terbesar Rasulullah di Bulan Ramadhan

Sejarah Islam mencatat satu peristiwa yang sangat menyayat hati pada bulan suci Ramadhan tahun kesepuluh kenabian. Rasulullah SAW kehilangan sosok pendukung paling setia dalam perjuangan menyebarkan risalah dakwah di kota Makkah. Wafatnya Sayyidah Khadijah bint Khuwaylid menandai berakhirnya sebuah era cinta sejati yang penuh dengan pengorbanan luar biasa. Kepergian sang Ummul Mukminin ini menyisakan kesedihan mendalam yang mengubah suasana batin Rasulullah secara signifikan.

Pilar Utama Pendukung Dakwah Nabi

Khadijah bint Khuwaylid bukan sekadar seorang istri, melainkan pilar utama yang menyokong dakwah Islam pada masa sulit. Beliau memberikan seluruh harta kekayaannya untuk membiayai perjuangan umat Islam yang saat itu sedang mengalami penindasan hebat. Beliau juga menjadi orang pertama yang mengimani kerasulan Muhammad SAW saat penduduk Makkah lainnya melontarkan ejekan tajam. Kehadiran Khadijah memberikan ketenangan batin yang sangat Rasulullah butuhkan ketika menghadapi berbagai tekanan fisik maupun mental.

Rasulullah SAW terus mengenang jasa dan kebaikan sang istri tercinta bahkan setelah bertahun-tahun beliau tiada. Nabi Muhammad SAW pernah memberikan pengakuan yang sangat jujur mengenai kemuliaan hati Sayyidah Khadijah dalam sebuah kesempatan:

“Demi Allah, Dia tidak menggantiku dengan seorang istri pun yang lebih baik darinya. Dia telah beriman kepadaku saat orang-orang kafir kepadaku. Dia membenarkanku saat orang-orang mendustakanku. Dia membantuku dengan hartanya saat orang-orang menahan hartanya dariku.” (HR. Ahmad).

Kutipan tersebut menjelaskan bahwa posisi Khadijah tidak akan pernah tergantikan oleh siapa pun dalam hati Rasulullah SAW. Beliau adalah wanita yang sangat cerdas, mandiri, dan memiliki integritas moral yang sangat tinggi di mata masyarakat. Pengorbanannya menjadi fondasi yang memperkuat tegaknya panji Islam di tengah kegelapan masa jahiliyah yang penuh dengan kesesatan.

Amul Huzni: Tahun Kesedihan dan Perginya Dua Pelindung Utama Dakwah

Amul Huzni: Tahun Duka Cita yang Memilukan

Umat Islam mengenang wafatnya Sayyidah Khadijah tepat pada tanggal sepuluh Ramadhan dalam suasana keprihatinan yang sangat mendalam. Kepergian beliau terjadi hanya selang waktu singkat setelah paman Nabi yang bernama Abu Thalib meninggal dunia. Peristiwa beruntun ini membuat tahun tersebut mendapatkan julukan sebagai Amul Huzni atau Tahun Duka Cita dalam sejarah Islam. Rasulullah kehilangan dua pelindung utama yang selama ini membentengi beliau dari ancaman keji para pembesar kafir Quraisy.

Abu Thalib memberikan perlindungan politik dan fisik di luar rumah, sementara Khadijah memberikan dukungan emosional di dalam rumah. Tanpa kehadiran keduanya, kaum kafir Quraisy semakin berani melakukan tindakan kekerasan terhadap diri Rasulullah SAW secara terbuka. Kesedihan Nabi Muhammad SAW begitu hebat hingga Allah SWT menghibur beliau melalui peristiwa agung Isra Mi’raj. Peristiwa ini menunjukkan bahwa duka manusiawi merupakan hal yang wajar bagi setiap hamba Allah yang beriman.

Meneladani Karakter Khadijah di Era Modern

Kita harus meneladani keteguhan iman dan keikhlasan Sayyidah Khadijah dalam membantu perjuangan agama Allah SWT saat ini. Beliau tidak pernah mengeluh sedikit pun meski harus melepaskan status sosialnya yang sangat tinggi demi membela kebenaran. Muslimah masa kini perlu menjadikan Khadijah sebagai model peran utama dalam membangun keluarga yang penuh dengan keberkahan. Ketulusan dalam mencintai dan mendukung kebaikan merupakan warisan spiritual yang harus kita jaga bersama secara terus-menerus.

Sayyidah Khadijah mengajarkan kita cara mengelola kekayaan untuk kepentingan sosial dan kemanusiaan yang lebih luas. Beliau menggunakan bisnisnya untuk mengangkat derajat kaum dhuafa dan membebaskan para budak yang tertindas di kota Makkah. Semangat inilah yang seharusnya menginspirasi para pengusaha Muslim untuk selalu peduli terhadap kondisi ekonomi umat di sekitarnya. Kejayaan Islam bukan hanya berasal dari kekuatan pedang, melainkan juga dari kekuatan kedermawanan hati para pemeluknya.

Mengenang Warisan Sang Ummul Mukminin

Wafatnya Sayyidah Khadijah di bulan Ramadhan memberikan pesan bahwa setiap pertemuan pasti akan berakhir dengan sebuah perpisahan. Namun, amal saleh dan kebaikan yang kita tanam akan terus memberikan manfaat meskipun raga sudah berada di liang lahat. Sayyidah Khadijah mendapatkan jaminan rumah di surga yang terbuat dari mutiara tanpa ada kegaduhan di dalamnya. Hal ini merupakan balasan setimpal atas ketenangan yang selalu beliau berikan kepada Rasulullah selama hidup di dunia.

Haji Sebagai Jihad bagi Kaum Wanita: Memahami Kedudukan Agung dalam Syariat

Mari kita jadikan bulan suci Ramadhan sebagai momentum untuk mendoakan dan mengenang jasa besar ibu seluruh umat Islam. Kita bisa mengambil hikmah dari kesabaran beliau saat menghadapi boikot dari kaum kafir di Syi’ib Abi Thalib. Semoga kisah hidup Khadijah mampu memperkuat tekad kita untuk selalu setia di jalan ketaatan kepada Allah SWT. Wafatnya Sayyidah Khadijah tetap menjadi duka yang menginspirasi setiap jiwa untuk mencintai Nabi Muhammad SAW lebih dalam.

Kesimpulan

Wafatnya Sayyidah Khadijah merupakan kehilangan besar yang pernah mengubah sejarah perjalanan hidup manusia paling mulia di bumi ini. Al-Qur’an dan Sunnah telah mencatat kemuliaan beliau sebagai salah satu wanita penghuni surga yang paling utama. Kita harus menjaga warisan ketaatan dan pengabdiannya agar tetap hidup dalam sanubari setiap generasi Muslim mendatang. Semoga Allah SWT mengumpulkan kita bersama Sayyidah Khadijah di dalam surga-Nya yang penuh dengan kenikmatan abadi. Selamat merenungi makna cinta sejati dari kisah hidup sang Ummul Mukminin yang sangat luar biasa ini.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.