Abdullah bin Mubarak merupakan seorang ulama besar yang terkenal karena keluasan ilmu dan kesalehannya. Beliau selalu rutin melaksanakan ibadah haji ke tanah suci Makkah hampir setiap tahunnya. Namun, ada satu kisah mengharukan yang melegenda tentang kegagalannya berangkat haji pada suatu tahun. Kisah ini memberikan pelajaran berharga mengenai skala prioritas dalam menjalankan perintah agama Allah SWT.
Perjumpaan yang Menggetarkan Hati
Suatu ketika, saat sedang bersiap untuk berangkat haji, Abdullah bin Mubarak melihat kejadian aneh. Beliau memperhatikan seorang wanita yang sedang memungut bangkai burung di sebuah tempat pembuangan sampah. Beliau merasa penasaran lalu mengikuti wanita tersebut hingga sampai ke sebuah rumah yang sangat sederhana. Dengan rasa penuh hormat, Abdullah bin Mubarak kemudian bertanya tentang alasan wanita tersebut mengambil bangkai.
Wanita itu menjawab dengan suara lirih yang menunjukkan penderitaan hidupnya yang sangat berat:
“Aku dan anak-anakku sudah beberapa hari tidak makan, dan bangkai ini halal bagi kami karena keadaan darurat.”
Mendengar pengakuan tersebut, hati Abdullah bin Mubarak merasa sangat hancur dan sangat sedih sekali. Beliau seketika menangis karena melihat penderitaan saudaranya yang tinggal tidak jauh dari keberadaannya. Beliau menyadari bahwa ada kewajiban kemanusiaan yang lebih mendesak daripada sekadar melaksanakan ibadah haji sunnah.
Memilih Sedekah Daripada Keberangkatan Haji
Tanpa berpikir panjang, Abdullah bin Mubarak memberikan seluruh uang perbekalan hajinya kepada janda miskin tersebut. Beliau berpesan agar wanita itu menggunakan uang tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya yang sulit. Setelah memberikan uangnya, Abdullah bin Mubarak kembali ke rumah dan membatalkan niatnya untuk pergi ke Makkah. Beliau menghabiskan waktu di rumah dengan beribadah sambil merasakan kesedihan karena tidak bisa berhaji.
Namun, kejadian ajaib muncul saat teman-temannya pulang dari tanah suci beberapa bulan kemudian. Teman-temannya bercerita bahwa mereka melihat Abdullah bin Mubarak melakukan manasik haji di sana dengan sangat jelas. Mereka memberikan selamat kepadanya karena telah melaksanakan ibadah haji bersama-sama dengan mereka di Arafah. Abdullah bin Mubarak tentu saja merasa sangat terkejut karena beliau sebenarnya hanya berada di rumah.
Rahasia di Balik Haji yang Mabrur
Kisah ini mengandung pesan bahwa Allah menerima amal seseorang melalui ketulusan hatinya dalam membantu sesama. Para ulama berpendapat bahwa Allah mengirim malaikat yang menyerupai Abdullah bin Mubarak untuk melaksanakan haji baginya. Hal ini merupakan penghargaan atas pengorbanan beliau yang lebih mendahulukan keselamatan nyawa seorang janda dan anak-anaknya. Sedekah yang tulus ternyata memiliki nilai yang sangat tinggi bahkan setara dengan ibadah haji.
Kisah ini tidak bertujuan untuk meremehkan ibadah haji sebagai rukun Islam yang sangat penting. Namun, cerita ini mengingatkan kita untuk selalu peka terhadap kondisi sosial di sekitar lingkungan tempat tinggal. Jangan sampai kita mengejar ibadah vertikal namun mengabaikan tanggung jawab horizontal terhadap sesama manusia yang menderita. Keseimbangan antara hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan manusia adalah kunci kesempurnaan iman kita.
Kesimpulan
Kisah Abdullah bin Mubarak menjadi inspirasi bagi seluruh umat Islam tentang arti kedermawanan yang sesungguhnya. Kita belajar bahwa keberkahan bisa datang dari arah yang tidak pernah kita duga sebelumnya melalui sedekah. Mari kita buka mata hati untuk melihat penderitaan orang-orang di sekitar kita yang sedang membutuhkan. Semoga kita bisa meneladani sifat ulama besar ini dalam mengelola prioritas amal ibadah kita. Kebahagiaan sejati akan kita raih saat kita mampu menjadi jalan keluar bagi kesulitan orang lain.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
