Kepindahan Rasulullah SAW dan para sahabat dari Makkah ke Madinah menyisakan kerinduan yang sangat mendalam terhadap Baitullah. Selama bertahun-tahun, kaum Muhajirin harus menahan keinginan kuat untuk menyentuh dinding Ka’bah yang penuh dengan keberkahan tersebut. Mereka terpaksa meninggalkan tanah kelahiran demi menjaga akidah dari penindasan kaum musyrik Quraisy yang sangat kejam pada saat itu. Momen pertemuan kembali dengan Ka’bah setelah masa hijrah menjadi salah satu peristiwa paling emosional dalam sejarah perjalanan Islam.
Kerinduan yang Memuncak di Kota Madinah
Para sahabat seringkali duduk berkumpul sambil menceritakan kenangan indah mereka saat masih berada di sekitar Masjidil Haram. Bilal bin Rabah, sang muazin Rasulullah, sering melantunkan syair-syair kerinduan terhadap lembah Makkah yang gersang namun penuh cinta. Mereka memimpikan hari di mana mereka bisa melakukan tawaf dengan tenang tanpa rasa takut akan serangan musuh. Allah SWT kemudian mengabulkan kerinduan tersebut melalui peristiwa Umrah Qadha yang terjadi pada tahun ketujuh setelah hijrah.
Kegembiraan luar biasa menyelimuti hati para sahabat saat Rasulullah mengumumkan keberangkatan mereka menuju Makkah untuk melaksanakan ibadah umrah. Mereka menyiapkan diri dengan penuh semangat, meskipun tetap harus waspada terhadap potensi gangguan dari pihak musuh di perjalanan. Perasaan haru mulai membuncah saat rombongan besar tersebut mulai mendekati perbatasan tanah suci yang sangat mereka cintai sejak kecil. Setiap langkah kaki terasa sangat ringan karena bayangan keindahan Ka’bah sudah mulai tampak jelas di depan mata.
Momen Haru di Depan Baitullah
Saat rombongan memasuki gerbang Masjidil Haram, air mata tidak terbendung lagi membasahi pipi para sahabat yang sangat mulia. Mereka melihat bangunan Ka’bah berdiri tegak dengan segala keagungannya di tengah lembah Makkah yang penuh dengan cahaya ilahi. Rasulullah SAW memimpin rombongan dengan penuh wibawa sambil terus melantunkan kalimat talbiyah yang menggetarkan seluruh isi alam semesta. Hal ini sesuai dengan gambaran dalam Al-Qur’an mengenai janji Allah tentang kemenangan dan keamanan di tanah suci:
“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman.” (QS. Al-Fath: 27).
Kutipan ayat tersebut menjadi nyata saat para sahabat bersujud dengan penuh syukur di hadapan bangunan suci peninggalan Nabi Ibrahim. Mereka melakukan tawaf dengan penuh khusyuk sembari merasakan kehadiran rahmat Allah yang turun membasahi hati yang sedang rindu. Rasa lelah akibat perjalanan jauh dan penderitaan selama masa pengasingan di Madinah seketika sirna begitu saja. Inilah momen kemenangan spiritual yang sangat dinantikan oleh setiap jiwa yang beriman kepada kebenaran ajaran Islam.
Bilal bin Rabah dan Azan Kemenangan
Puncak dari keharuan tersebut terjadi saat penaklukan Makkah atau Fathu Makkah beberapa tahun kemudian setelah Umrah Qadha. Rasulullah SAW memerintahkan Bilal bin Rabah untuk naik ke atas atap Ka’bah dan mengumandangkan azan dengan suara lantang. Peristiwa ini sangat monumental karena menandai berakhirnya masa penyembahan berhala di sekitar Baitullah yang suci tersebut. Para sahabat menangis tersedu-sedu saat mendengar suara Bilal yang merdu memecah keheningan kota Makkah yang penuh sejarah.
Suara azan tersebut menjadi simbol kebebasan dan kemenangan bagi umat Islam setelah melewati perjuangan panjang yang sangat melelahkan. Para sahabat menyadari bahwa kesabaran mereka selama masa hijrah telah membuahkan hasil yang sangat manis dan penuh berkah. Mereka kini bisa beribadah di Ka’bah dengan penuh kedamaian tanpa ada lagi gangguan dari kaum kafir Quraisy. Cinta mereka kepada Baitullah semakin bertambah kuat karena perjuangan untuk mencapainya membutuhkan pengorbanan jiwa dan harta yang besar.
Kesimpulan
Kisah para sahabat saat pertama kali melihat Ka’bah kembali mengajarkan kita tentang arti kesabaran dan cinta kepada tanah suci. Hijrah bukan berarti melupakan rumah, melainkan strategi untuk kembali dengan cara yang lebih mulia dan terhormat. Kita harus meneladani semangat para sahabat dalam menjaga kerinduan spiritual kepada Allah dan simbol-simbol kebesaran agama-Nya. Semoga kita juga bisa merasakan getaran keimanan yang sama saat berkesempatan memandang Ka’bah secara langsung suatu saat nanti.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
