SURAU.CO – Banyak ayat dan hadis tentang anjuran untuk rendah hati, bukan mencari popularitas kelihatan biasa saja sebenarnya sangat ban yak ilmu itulah indahnya tawadhu’ diantara ayat yang menjelaskan itu adalah :
1) QS. Fāṭir (35): 28
> إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
Makna ringkas: Ilmu yang benar melahirkan khashyah (takut dan tunduk) kepada Allah. Rujukan: Qur’an, Surah Fāṭir: 28.
2) QS. Al-Furqān (25): 63
> وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
Makna ringkas: Sifat hamba Allah adalah berjalan di bumi dengan rendah hati.
Rujukan: Qur’an, Surah Al-Furqān: 63.
Hadis-hadis (Arab lengkap + takhrīj)
1) Tawāḍuʿ diangkat derajatnya
> وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
Takhrīj: HR. Muslim no. 2588, Kitāb al-Birr wa al-Ṣilah.
Sumber: Sahih Muslim.
2) Larangan kesombongan
> لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
فَقَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً؟
قَالَ: إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
Takhrīj: HR. Muslim no. 91, Kitāb al-Īmān.
Sumber: Sahih Muslim.
3) Menuntut ilmu dan kemudahan menuju surga
> وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Takhrīj: HR. Muslim no. 2699, Kitāb al-Dhikr wa al-Duʿā’.
Sumber: Sahih Muslim.
Atsar Ulama tentang Ilmu & Tawāḍuʿ
1) Pernyataan Imam al-Syāfiʿī
> كُلَّمَا ازْدَدْتُ عِلْمًا ازْدَدْتُ عِلْمًا بِجَهْلِي
(Dinisbatkan kepada Imam al-Syāfiʿī; maknanya: semakin bertambah ilmuku, semakin aku sadar akan kebodohanku.)
Rujukan biografis: Al-Shafi’i dalam kitab-kitab manāqib dan tarājim.
2) Imam Mālik tentang adab sebelum ilmu
تَعَلَّمِ الْأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ
(Diriwayatkan dalam literatur adab dan tarājim.)
Biografi: Malik ibn Anas.
Footnote (Catatan Kaki)
- Qur’an, Fāṭir (35): 28.
-
Qur’an, Al-Furqān (25): 63.
-
Sahih Muslim, no. 2588.
-
Sahih Muslim, no. 91.
-
Sahih Muslim, no. 2699.
-
Lihat biografi Al-Shafi’i dalam Manāqib al-Shāfiʿī.
- Lihat biografi Malik ibn Anas dalam Tartīb al-Madārik karya Qāḍī ʿIyāḍ.
E. Marājiʿ (Daftar Referensi)
Qur’an
Sahih Muslim
Riyad as-Salihin – Bab Tawāḍuʿ
Al-Nawawi, Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim
Qāḍī ʿIyāḍ, Tartīb al-Madārik
Ramadhan: Momentum Meninggalkan Rokok
Ramadhan adalah bulan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dan latihan pengendalian diri. Jika seorang muslim mampu menahan diri dari makan, minum, dan merokok sejak fajar hingga maghrib, maka itu bukti bahwa ia juga mampu meninggalkannya secara total.
Allah ﷻ berfirman:
> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”¹
Tujuan puasa adalah taqwa—meninggalkan hal yang membahayakan dan mendekatkan diri pada kebaikan.
Larangan Membahayakan Diri
Allah ﷻ berfirman:
> وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan.”²
> وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sungguh Allah Maha Penyayang kepadamu.”³
Rasulullah ﷺ bersabda:
> لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.”⁴
Rokok tidak hanya membahayakan diri sendiri, tetapi juga keluarga dan orang-orang di sekitar melalui asapnya.
Puasa adalah Perisai
Rasulullah ﷺ bersabda:
> الصِّيَامُ جُنَّةٌ
“Puasa itu adalah perisai.”⁵
Perisai dari hawa nafsu dan kebiasaan buruk. Jika selama siang Ramadhan seseorang mampu meninggalkan rokok, maka jadikan itu sebagai titik awal berhenti selamanya.
Penutup
Ramadhan bukan sekadar menunda rokok hingga waktu berbuka, tetapi momentum hijrah menuju hidup yang lebih sehat dan lebih taat. Menjaga tubuh adalah bagian dari amanah dan bentuk syukur atas nikmat Allah.
Ramadhan: latihan terbaik untuk meninggalkan rokok.
Catatan Kaki (Marāji‘)
- Al-Qur’an, Al-Baqarah (2): 183.
- Al-Qur’an, Al-Baqarah (2): 195.
- Al-Qur’an, An-Nisā’ (4): 29.
- HR. Ibnu Mājah no. 2341; Mālik dalam Al-Muwaṭṭa’; dinilai hasan/sahih oleh para ulama.
- HR. Al-Bukhārī no. 1894; Muslim no. 1151. (Penulis:
Tengku Iskandar, M.Pd
Duta Literasi Pena Da’i Nusantara
Provinsi Sumatera Barat)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
