Sejarah
Beranda » Berita » Sejarah Kiswah (Penutup Ka’bah): Simbol Kemuliaan dan Kehormatan Rumah Allah

Sejarah Kiswah (Penutup Ka’bah): Simbol Kemuliaan dan Kehormatan Rumah Allah

Kiswah bukan sekadar kain penutup bangunan kotak di tengah Masjidil Haram. Ia merupakan simbol penghormatan tertinggi umat Islam terhadap Baitullah. Tradisi menyelimuti Ka’bah telah berlangsung selama ribuan tahun, melewati berbagai peradaban dan kekuasaan.

Asal-Usul Kiswah pada Zaman Pra-Islam

Banyak sejarawan mencatat bahwa tradisi ini bermula jauh sebelum masa kenabian Muhammad SAW. Masyarakat Arab jahiliyah sangat memuliakan Ka’bah sebagai pusat spiritual.

Siapa yang Pertama Kali Memasang Kiswah?

Beberapa literatur menyebutkan bahwa Nabi Ismail AS adalah orang pertama yang memasang penutup Ka’bah. Namun, riwayat yang lebih kuat menunjuk pada Raja Himyar dari Yaman, Abu Karib As’ad, pada abad ke-4 Masehi.

Konon, sang Raja bermimpi menutup Ka’bah. Ia awalnya menggunakan kain kasar, lalu menggantinya dengan kain khasyab yang lebih halus. Setelah itu, para pemuka suku di Mekah melanjutkan tradisi ini secara gotong royong. Setiap kabilah menyumbang kain sesuai kemampuan mereka hingga Ka’bah tertutup sepenuhnya.

Kiswah di Masa Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin

Pada masa awal Islam, Rasulullah SAW tidak mengganti Kiswah peninggalan kaum Quraisy hingga terjadi peristiwa Fathu Makkah.

Jalur Sutra dan Rute Haji Kuno: Bagaimana Haji Menjadi Jantung Koneksi Dunia Islam

  1. Masa Nabi Muhammad SAW: Setelah penaklukan Mekah, seorang wanita tanpa sengaja membakar Kiswah lama saat mencoba mewangikannya. Rasulullah kemudian menggantinya dengan kain putih dari Yaman yang disebut Al-Ma’afir.

  2. Masa Abu Bakar dan Umar bin Khattab: Kedua khalifah ini menggunakan kain putih tipis yang sangat halus bernama Qabati. Mereka memesan kain ini langsung dari pengrajin terbaik di Mesir.

  3. Masa Usman bin Affan: Beliau melakukan inovasi dengan memasang dua lapis Kiswah sekaligus. Lapisan pertama berbahan sutra, sedangkan lapisan kedua berbahan Qabati untuk musim panas.

Evolusi Warna dan Material Kiswah

Kita mengenal Kiswah dengan warna hitam legam saat ini. Namun, sejarah mencatat bahwa warna penutup Baitullah ini sering berganti-ganti tergantung pada kebijakan penguasa saat itu.

  • Warna Putih: Digunakan pada masa Nabi Muhammad SAW dan Kekhalifahan Umayyah.

    Perjuangan Umat Islam Nusantara: Kisah Naik Haji di Zaman Kolonial Belanda

  • Warna Kuning: Pernah digunakan oleh beberapa penguasa untuk menunjukkan kemegahan.

  • Warna Hijau: Khalifah Al-Ma’mun dari Dinasti Abbasiyah sempat memilih warna hijau karena nilai estetika dan religiusnya.

  • Warna Hitam: Tradisi warna hitam dimulai secara permanen pada akhir masa Dinasti Abbasiyah (Khalifah Al-Nasir) dan berlanjut hingga sekarang karena daya tahannya yang kuat.

Masa Keemasan di Mesir dan Pengiriman Mahmal

Selama berabad-abad, Mesir memegang peran utama dalam memproduksi Kiswah. Para penguasa Mamluk dan Ottoman mendirikan pabrik khusus di Kairo.

Setiap tahun, prosesi pengiriman Kiswah dari Kairo ke Mekah menjadi perayaan besar yang dikenal sebagai Mahmal. Ribuan orang mengiringi iring-iringan unta yang membawa kain suci ini melintasi padang pasir. Tradisi pengiriman dari Mesir ini bertahan hingga awal abad ke-20 sebelum akhirnya Arab Saudi mengambil alih seluruh proses produksi.

Kisah Haji Wada’ Rasulullah: Detik-Detik Kesempurnaan Agama Islam

Produksi Mandiri oleh Kerajaan Arab Saudi

Sejak masa Raja Abdulaziz Al Saud, pemerintah Arab Saudi berkomitmen memproduksi Kiswah secara mandiri. Mereka mendirikan pabrik khusus di Distrik Umm Al-Jude, Mekah, yang kini bernama King Abdulaziz Complex for Holy Kaaba Kiswah.

Proses Pembuatan yang Sangat Detail

Pembuatan Kiswah melibatkan lebih dari 200 pengrajin ahli. Mereka menggunakan teknologi modern namun tetap mempertahankan teknik sulam tangan tradisional.

  • Bahan Baku: Pabrik mengimpor sekitar 670 kg sutra alami dari Italia. Sutra ini kemudian melalui proses pewarnaan hitam yang sangat pekat.

  • Benang Emas dan Perak: Pengrajin menggunakan sekitar 120 kg benang emas dan 100 kg benang perak untuk menyulam ayat-ayat Al-Qur’an.

  • Dimensi: Kiswah memiliki tinggi 14 meter dan terdiri dari 47 potongan kain yang disambung secara presisi.

“Sesungguhnya Rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Ali Imran: 96)

Makna Simbolis Kaligrafi pada Kiswah

Setiap inci sulaman pada Kiswah memiliki makna mendalam. Bagian paling mencolok adalah Hizam atau sabuk Kiswah. Sabuk ini melingkari bagian atas Ka’bah dengan panjang 45 meter.

Di atas kain hitam tersebut, pengrajin menyulam ayat-ayat tentang perintah haji, keagungan Allah, dan pengakuan tauhid. Tulisan kaligrafi menggunakan gaya Thuluth yang megah dan rumit. Hal ini melambangkan bahwa Baitullah adalah pusat komunikasi antara hamba dan Sang Pencipta.

Tradisi Penggantian Kiswah

Setiap tahun, otoritas Masjidil Haram mengganti Kiswah pada tanggal 1 Muharram (sebelumnya dilakukan pada 9 Dzulhijjah). Proses penggantian ini melibatkan alat berat khusus dan puluhan petugas agar kain tidak menyentuh tanah.

Kiswah lama kemudian dipotong-potong menjadi bagian kecil. Pemerintah Arab Saudi memberikan potongan tersebut sebagai hadiah diplomatik kepada kepala negara atau museum internasional sebagai bentuk penghormatan.


Kesimpulan

Sejarah Kiswah mencerminkan dedikasi umat Islam dari masa ke masa dalam memuliakan simbol agama mereka. Dari selembar kain kasar di zaman pra-Islam hingga sutra emas yang megah saat ini, Kiswah tetap menjadi identitas kemuliaan Baitullah. Ia bukan sekadar penutup, melainkan wujud cinta dan penghormatan terdalam kepada Allah SWT.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.