Bagi umat Islam di Nusantara, Sejarah Haji Zaman Kolonial Belanda menunaikan ibadah haji bukan sekadar menjalankan rukun Islam kelima. Pada masa penjajahan Belanda, perjalanan ke Tanah Suci adalah simbol perlawanan, identitas, dan perjuangan fisik yang luar biasa. Pemerintah kolonial melihat jamaah haji dengan rasa curiga yang mendalam karena kepulangan mereka sering membawa semangat pembebasan.
Ketakutan Belanda terhadap “Virus” Pan-Islamisme
Pemerintah Hindia Belanda sangat mengawasi gerak-gerik umat Islam yang berangkat ke Makkah. Mereka takut para haji akan membawa ideologi Pan-Islamisme yang dapat meruntuhkan kekuasaan kolonial. Ketakutan ini memuncak setelah pecahnya Perang Jawa (1825-1830) yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro.
Penasihat urusan Arab, Christiaan Snouck Hurgronje, memberikan saran spesifik kepada Belanda. Ia membedakan antara ibadah haji sebagai ritual agama dan haji sebagai kekuatan politik.
“Pemerintah tidak perlu takut terhadap agama Islam, tetapi harus waspada terhadap pengaruh politik yang dibawa oleh para haji dari Mekkah.” — Snouck Hurgronje.
Berdasarkan saran tersebut, Belanda mengeluarkan Ordonansi Haji 1859. Peraturan ini mewajibkan calon haji mengikuti ujian sebelum berangkat dan setelah pulang. Mereka juga harus menggunakan gelar “Haji” agar pemerintah lebih mudah mengawasi aktivitas mereka di masyarakat.
Medan Perjuangan di Samudra: Perjalanan Berbulan-bulan
Keberangkatan haji zaman dahulu menuntut kekuatan fisik yang prima. Jamaah harus mengarungi samudra selama berbulan-bulan menggunakan kapal layar atau kapal uap sederhana. Kondisi di atas kapal sering kali sangat memprihatinkan dan tidak manusiawi.
-
Sanitasi Buruk: Penyakit menular seperti kolera sering menyerang jamaah di tengah laut.
-
Biaya Mahal: Belanda sengaja menetapkan biaya paspor dan administrasi yang sangat tinggi.
-
Keamanan: Risiko perompakan dan badai besar selalu mengintai di sepanjang jalur pelayaran.
Meski menghadapi rintangan berat, semangat umat Islam Nusantara tidak pernah padam. Mereka menabung puluhan tahun demi menginjakkan kaki di Masjidil Haram. Banyak petani menjual tanah dan ternak mereka hanya untuk mendapatkan tiket kapal haji yang dikelola maskapai Belanda, seperti Stoomvaart Maatschappij Nederland.
Peran Haji dalam Pergerakan Nasional
Setelah menyelesaikan ibadah, banyak jamaah haji bermukim sementara di Makkah (kaum Mukimin). Di sana, mereka berinteraksi dengan Muslim dari berbagai penjuru dunia. Mereka mendiskusikan ketidakadilan penjajahan dan pentingnya kemerdekaan bangsa.
Sekembalinya ke tanah air, para haji ini sering menjadi penggerak organisasi perlawanan. Tokoh-tokoh seperti KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan HOS Tjokroaminoto (pemimpin Sarekat Islam) memanfaatkan jaringan haji untuk memperkuat barisan pejuang. Bagi rakyat jelata, sosok haji adalah simbol kewibawaan dan perlawanan terhadap kafir penjajah.
Kebijakan Diskriminatif dan Karantina di Pulau Onrust
Belanda menggunakan dalih kesehatan untuk membatasi ruang gerak jamaah haji. Mereka membangun pusat karantina di Pulau Onrust dan Pulau Rubiah. Jamaah yang baru pulang harus menjalani isolasi ketat dalam kondisi yang sering kali tidak layak.
Pemerintah kolonial memungut pajak haji yang sangat besar untuk mengisi kas negara yang kosong. Namun, kebijakan diskriminatif ini justru memicu solidaritas umat Islam yang semakin kuat. Setiap hambatan yang Belanda buat justru mempertebal keyakinan bahwa penjajahan harus segera berakhir.
Transformasi Ibadah Menjadi Kekuatan Ideologi
Kisah naik haji zaman kolonial membuktikan bahwa agama memiliki kekuatan transformatif yang dahsyat. Tanah Suci menjadi tempat “recharging” spiritual sekaligus intelektual bagi pemuda Nusantara. Di sanalah benih-benih nasionalisme tumbuh subur di bawah naungan ukhuwah Islamiyah.
Banyak ulama Nusantara yang menjadi guru besar di Makkah, seperti Syekh Nawawi al-Bantani. Karya-karyanya menjadi rujukan umat Islam sedunia dan membanggakan bangsa Indonesia di kancah internasional. Keberadaan para ulama ini memberikan kepercayaan diri bahwa bangsa Nusantara setara dengan bangsa lain.
Kesimpulan: Warisan Semangat untuk Masa Kini
Sejarah haji di masa kolonial mengajarkan kita tentang keteguhan iman dan cinta tanah air. Perjuangan tersebut bukan hanya soal jarak tempuh, melainkan soal mempertahankan harga diri bangsa. Kini, meskipun perjalanan haji jauh lebih mudah, semangat perjuangan para pendahulu harus tetap menginspirasi generasi muda.
Kita harus menghargai setiap tetap keringat dan air mata para jamaah haji terdahulu. Mereka bukan sekadar jamaah, melainkan duta-duta kemerdekaan yang membawa cahaya perubahan dari Makkah ke bumi Nusantara.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
