Haji dan Umroh
Beranda » Berita » Sejarah Air Zamzam: Mukjizat di Padang Tandus yang Tak Pernah Kering Selama Ribuan Tahun

Sejarah Air Zamzam: Mukjizat di Padang Tandus yang Tak Pernah Kering Selama Ribuan Tahun

Air Zamzam bukan sekadar air pelepas dahaga bagi jutaan jamaah haji dan umrah. Air ini merupakan simbol pertolongan Allah SWT yang sangat nyata bagi hamba-Nya yang bersabar. Sejarah Air Zamzam membuktikan bahwa keajaiban Tuhan hadir di tengah keputusasaan manusia di padang pasir yang sangat gersang.

Awal Mula: Perintah Allah kepada Nabi Ibrahim AS

Kisah luar biasa ini bermula ribuan tahun silam saat Nabi Ibrahim AS menerima perintah berat dari Allah SWT. Beliau harus membawa istrinya, Siti Hajar, dan putranya yang masih bayi, Ismail AS, ke sebuah lembah tak berpenghuni. Lembah tersebut kini kita kenal sebagai Makkah, yang kala itu hanyalah hamparan pasir dan bebatuan tanpa sumber air.

Nabi Ibrahim meninggalkan mereka dengan perbekalan yang sangat terbatas. Saat beliau hendak melangkah pergi, Siti Hajar bertanya dengan penuh keheranan. “Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?” tanya Hajar. Nabi Ibrahim menjawab singkat, “Ya.” Dengan iman yang kokoh, Siti Hajar pun berkata:

“Kalau begitu, Allah tidak akan membiarkan kami telantar.”

Perjuangan Siti Hajar: Safa dan Marwah

Tak lama kemudian, persediaan air dalam kantong kulit Siti Hajar habis total. Air susu Siti Hajar pun kering karena ia mengalami dehidrasi hebat. Bayi Ismail mulai menangis histeris karena rasa haus yang mencekam. Sebagai seorang ibu, Siti Hajar tidak tinggal diam melihat penderitaan sang anak.

Transformasi Transportasi Haji: Dari Karavan Unta Hingga Era Pesawat Supersonik

Ia berlari menuju bukit Safa untuk mencari bantuan, namun ia tidak melihat siapapun. Ia kemudian berlari menuju bukit Marwah. Siti Hajar melakukan prosesi lari kecil ini sebanyak tujuh kali. Peristiwa heroik ini menjadi cikal bakal ibadah Sa’i dalam rangkaian haji dan umrah. Kegigihan Hajar menunjukkan bahwa manusia harus tetap berusaha maksimal sebelum mukjizat benar-benar turun.

Keajaiban di Bawah Kaki Nabi Ismail

Saat Siti Hajar mencapai puncak Marwah untuk ketujuh kalinya, ia mendengar sebuah suara. Malaikat Jibril kemudian memukul tanah dengan sayapnya atau tumitnya tepat di bawah posisi bayi Ismail menangis. Seketika, memancarlah air yang sangat melimpah dari perut bumi yang gersang.

Siti Hajar merasa sangat bahagia sekaligus khawatir air tersebut akan mengalir hilang tertelan pasir. Ia segera membendung air itu dengan tanah sambil berucap, “Zam-zam, zam-zam,” yang berarti “berkumpullah” atau “mengepunglah.” Rasulullah SAW pernah bersabda mengenai momen ini dalam sebuah hadis:

“Semoga Allah merahmati Ummu Ismail (Siti Hajar). Seandainya dia membiarkan Zamzam itu (tanpa membendungnya), niscaya Zamzam akan menjadi mata air yang mengalir di atas permukaan bumi.” (HR. Bukhari).

Zamzam dan Perkembangan Kota Makkah

Kehadiran mata air ini mengubah lanskap Makkah secara drastis. Burung-burung mulai berterbangan di atas area tersebut karena mencium keberadaan air. Fenomena ini menarik perhatian kabilah Jurhum yang sedang melintas di jalur perdagangan tersebut. Mereka meminta izin kepada Siti Hajar untuk menetap di sana dan menggunakan air tersebut.

Peradaban Islam di Mekkah: Menelusuri Jejak Sejarah Perluasan Masjidil Haram

Siti Hajar mengizinkan mereka dengan syarat bahwa air tersebut tetap menjadi miliknya. Perlahan, lembah yang semula sunyi berubah menjadi pemukiman yang ramai. Nabi Ismail kemudian tumbuh besar bersama suku Jurhum dan mempelajari bahasa Arab dari mereka. Kota Makkah pun lahir berkat mukjizat Air Zamzam ini.

Sumur yang Sempat Menghilang dan Penggalian Kembali

Seiring berjalannya waktu, suku Jurhum melakukan banyak kemaksiatan sehingga berkah sumur ini sempat dicabut. Sumur Zamzam tertimbun tanah dan lokasinya terlupakan selama berabad-abad. Hingga pada masa kakek Rasulullah, Abdul Muthalib, Allah memberikan petunjuk melalui mimpi.

Abdul Muthalib mendapatkan perintah untuk menggali kembali sumur suci tersebut. Meskipun awalnya mendapat pertentangan dari kaum Quraisy, ia berhasil menemukan kembali titik koordinat sumur tersebut. Sejak saat itu, keluarga Abdul Muthalib memegang amanah untuk menyediakan air bagi para peziarah Ka’bah.

Kandungan dan Keistimewaan Air Zamzam

Secara ilmiah, Sumur Zamzam memiliki kedalaman sekitar 30 meter saja. Namun, sumur ini mampu menyuplai jutaan liter air setiap hari tanpa pernah kering sedikit pun. Para ilmuwan menemukan bahwa Air Zamzam mengandung mineral alami yang sangat tinggi, seperti kalsium dan magnesium.

Air ini tidak mengandung mikroorganisme berbahaya dan tidak memerlukan proses pemurnian kimiawi yang rumit. Selain itu, umat Islam meyakini bahwa Air Zamzam memiliki khasiat penyembuhan sesuai dengan niat orang yang meminumnya. Hal ini selaras dengan sabda Nabi Muhammad SAW:

Kisah Pemindahan Hajar Aswad: Kebijaksanaan Rasulullah SAW yang Mendamaikan Quraisy

“Air Zamzam itu berkhasiat sesuai dengan niat orang yang meminumnya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Penutup

Sejarah Air Zamzam mengajarkan kita tentang keteguhan iman, perjuangan tak kenal lelah, dan keajaiban Tuhan. Hingga saat ini, sumur yang terletak sekitar 21 meter dari Ka’bah ini terus mengalirkan keberkahan bagi dunia. Jutaan manusia telah merasakan kesegaran air ini, namun debitnya tidak pernah berkurang sedikit pun selama ribuan tahun.

Keberadaan Air Zamzam menjadi bukti otentik sejarah kenabian yang masih bisa kita saksikan hingga hari ini. Menjaga kelestarian sumber air ini merupakan tanggung jawab besar bagi seluruh umat Islam di seluruh dunia.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.