Sejarah
Beranda » Berita » Peradaban Islam di Mekkah: Menelusuri Jejak Sejarah Perluasan Masjidil Haram

Peradaban Islam di Mekkah: Menelusuri Jejak Sejarah Perluasan Masjidil Haram

Masjidil Haram bukan sekadar bangunan ibadah bagi umat Muslim. Ia merupakan jantung peradaban Islam yang terus berdenyut selama belasan abad. Seiring bertambahnya jumlah umat Islam di seluruh dunia, area di sekitar Ka’bah mengalami transformasi arsitektur yang luar biasa. Artikel ini akan mengupas tuntas perjalanan panjang perluasan Masjidil Haram, mulai dari bentuknya yang sederhana hingga menjadi struktur bangunan paling megah di dunia.

Era Awal: Kesederhanaan di Masa Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin

Pada masa Rasulullah SAW, Masjidil Haram belum memiliki dinding pembatas yang permanen. Umat Islam melaksanakan tawaf di ruang terbuka di sekeliling Ka’bah. Rumah-rumah penduduk Mekkah berdiri tepat di pinggir area tawaf tersebut.

Perluasan pertama yang signifikan terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khattab (17 H/638 M). Beliau menyadari bahwa jumlah jamaah semakin meningkat pesat. Umar kemudian membeli rumah-rumah di sekitar Ka’bah, meruntuhkannya, dan membangun dinding setinggi kurang dari dua meter. Beliau juga meletakkan lampu-lampu minyak pada dinding tersebut sebagai penerangan di malam hari.

Beberapa tahun kemudian, Khalifah Utsman bin Affan (26 H/646 M) melanjutkan langkah ini. Beliau menambahkan atap pada bagian koridor masjid untuk melindungi jamaah dari terik matahari. Inilah pertama kalinya konsep pilar dan atap masuk ke dalam arsitektur Masjidil Haram.

Transformasi di Era Kekhalifahan Umayyah dan Abbasid

Memasuki era Dinasti Umayyah, Abdullah bin Zubair melakukan renovasi besar pada tahun 64 H. Beliau membangun kembali Ka’bah setelah mengalami kerusakan akibat perang dan memperluas area masjid secara signifikan. Selanjutnya, Khalifah Walid bin Abdul Malik mengganti tiang kayu dengan tiang marmer dan menghiasi langit-langit masjid dengan mosaik yang indah.

Sejarah Air Zamzam: Mukjizat di Padang Tandus yang Tak Pernah Kering Selama Ribuan Tahun

Pada masa Dinasti Abbasid, khususnya di bawah pemerintahan Abu Ja’far al-Mansur dan Al-Mahdi, Masjidil Haram mengalami perluasan yang sangat luas. Al-Mahdi bahkan memperluas masjid hingga dua kali lipat dari ukuran aslinya agar posisi Ka’bah berada tepat di tengah-tengah area masjid.

“Sejarah mencatat bahwa setiap penguasa Muslim merasa terhormat jika mereka bisa memberikan kontribusi bagi pembangunan rumah Allah ini.” — (Catatan Sejarah Islam Tradisional).

Keindahan Arsitektur Era Utsmaniyah

Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman) memberikan sentuhan estetika yang bertahan hingga ratusan tahun. Di bawah instruksi Sultan Selim II dan diselesaikan oleh Sultan Murad III, mereka membangun kubah-kubah kecil yang kita kenal sebagai “Rawaq Utsmani”.

Gaya arsitektur ini menggabungkan seni Islam klasik dengan ketahanan bangunan yang luar biasa. Hingga saat ini, sebagian dari struktur Utsmaniyah tetap dipertahankan sebagai bagian dari warisan sejarah meskipun perluasan besar-besaran terus berlanjut.

Era Modern: Perluasan Saudi Pertama hingga Ketiga

Transformasi paling radikal terjadi di bawah pemerintahan Kerajaan Arab Saudi. Pemerintah membagi proses ini ke dalam beberapa fase besar:

Kisah Pemindahan Hajar Aswad: Kebijaksanaan Rasulullah SAW yang Mendamaikan Quraisy

1. Perluasan Era Raja Abdul Aziz dan Raja Saud

Pemerintah membangun lantai bertingkat untuk pertama kalinya. Langkah ini bertujuan untuk memisahkan arus jamaah yang melakukan tawaf dan sa’i, sehingga kemacetan manusia dapat terurai.

2. Perluasan Era Raja Fahd (1982–2005)

Raja Fahd menambahkan area luar yang sangat luas dengan lantai marmer yang sejuk. Beliau juga memasang sistem pendingin udara (AC) yang canggih serta membangun menara-menara baru yang menjulang tinggi, mempertegas kemegahan Masjidil Haram di mata dunia.

3. Perluasan Raja Abdullah dan Raja Salman (Era Sekarang)

Ini adalah proyek perluasan paling ambisius dalam sejarah. Area masjid kini mampu menampung lebih dari dua juta jamaah sekaligus. Pemerintah menambahkan bangunan baru di sisi utara, meningkatkan teknologi keamanan, dan menyediakan sistem transportasi terintegrasi seperti eskalator dan jembatan penghubung yang efisien.

Teknologi dan Fasilitas Terkini

Masjidil Haram saat ini bukan hanya soal luas bangunan. Teknologi memainkan peran kunci dalam kenyamanan jamaah:

  • Sistem Pendingin Lantai: Marmer Thassos yang digunakan di area tawaf tetap dingin meskipun cuaca mencapai 50 derajat Celsius.

    Evolusi Pelayanan Haji: Perjalanan Khidmat dari Masa Khulafaur Rasyidin ke Era Modern

  • Manajemen Arus Massa: Sensor pintar memantau kepadatan jamaah secara real-time untuk mencegah penumpukan.

  • Sistem Kebersihan: Ribuan petugas membersihkan area masjid dalam waktu singkat setelah setiap waktu salat.

Kesimpulan: Warisan yang Terus Tumbuh

Perluasan Masjidil Haram mencerminkan dedikasi peradaban Islam dalam menjaga tempat paling suci di bumi. Dari dinding sederhana di zaman Umar bin Khattab hingga kemegahan modern di bawah Raja Salman, setiap batu yang tersusun menyimpan cerita pengabdian. Transformasi ini memastikan bahwa setiap Muslim dapat menjalankan ibadah dengan aman dan khusyuk, terlepas dari jumlah mereka yang terus bertambah setiap tahunnya.

Masjidil Haram akan selalu menjadi simbol persatuan dan kemajuan peradaban Islam yang melintasi batas waktu dan teknologi.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.