Sejarah
Beranda » Berita » Kisah Pemindahan Hajar Aswad: Kebijaksanaan Rasulullah SAW yang Mendamaikan Quraisy

Kisah Pemindahan Hajar Aswad: Kebijaksanaan Rasulullah SAW yang Mendamaikan Quraisy

Peristiwa pemindahan Hajar Aswad merupakan salah satu fragmen paling krusial dalam sejarah sebelum masa kenabian Muhammad SAW. Kejadian ini bukan sekadar pemindahan batu hitam biasa. Peristiwa ini menguji persatuan bangsa Arab dan menunjukkan kualitas kepemimpinan Muhammad bin Abdullah yang luar biasa. Melalui kecerdasan diplomatik, beliau berhasil memadamkan api peperangan yang hampir meluluhlantakkan kota Makkah.

Latar Belakang Renovasi Ka’bah

Pada saat Muhammad SAW berusia sekitar 35 tahun, banjir besar melanda kota Makkah. Air bah tersebut merusak struktur Ka’bah yang memang sudah rapuh akibat usia dan sisa kebakaran sebelumnya. Dinding-dindingnya retak, sehingga suku-suku Quraisy sepakat untuk merenovasi bangunan suci peninggalan Nabi Ibrahim AS tersebut.

Mereka bekerja sama mengumpulkan dana yang halal untuk pembangunan kembali. Suku-suku Quraisy membagi tugas secara adil. Setiap kabilah mendapatkan bagian untuk membangun sisi-sisi tertentu dari Ka’bah. Kerja sama ini awalnya berjalan sangat harmonis karena semua orang ingin memuliakan rumah Allah.

Konflik Memuncak di Ambang Peperangan

Masalah besar muncul ketika pembangunan mencapai tahap akhir, yaitu peletakan kembali Hajar Aswad ke tempat asalnya di sudut tenggara Ka’bah. Hajar Aswad memiliki nilai kemuliaan yang sangat tinggi. Setiap pemimpin suku merasa bahwa kabilahnya yang paling berhak mendapatkan kehormatan untuk meletakkan batu tersebut.

Perselisihan ini berlangsung selama empat hingga lima hari. Ketegangan meningkat drastis. Para pemimpin kabilah mulai menyiapkan senjata. Bahkan, kabilah Bani Abduddar dan Bani Adi melakukan sumpah setia untuk mati di medan perang demi mempertahankan kehormatan mereka. Mereka mencelupkan tangan ke dalam darah sebagai simbol kesiapan untuk berperang habis-habisan. Kota Makkah berada di ambang pertumpahan darah yang hebat.

Peradaban Islam di Mekkah: Menelusuri Jejak Sejarah Perluasan Masjidil Haram

Usul Bijak dari Abu Umayyah

Di tengah situasi yang mencekam, Abu Umayyah bin al-Mughirah al-Makhzumi, orang tertua di antara kaum Quraisy, memberikan sebuah usul. Beliau menyarankan agar orang yang pertama kali memasuki pintu Masjidil Haram keesokan harinya menjadi hakim bagi perselisihan mereka. Semua pemimpin suku menyepakati usulan tersebut.

Pagi harinya, mata semua orang tertuju pada pintu masjid. Tiba-tiba, Muhammad bin Abdullah muncul melewati pintu tersebut. Serta-merta kaum Quraisy berseru dengan gembira:

“Ini adalah Al-Amin (orang yang terpercaya), kami ridha dengannya. Ini adalah Muhammad.”

Kepercayaan kaum Quraisy terhadap kejujuran Muhammad SAW menjadi kunci utama penyelesaian konflik ini.

Diplomasi Jenius Sang Al-Amin

Muhammad SAW mendengarkan keluhan semua pihak dengan tenang. Beliau tidak langsung mengambil batu tersebut dengan tangannya sendiri, meskipun beliau memiliki otoritas penuh saat itu. Beliau justru meminta sehelai kain lebar.

Evolusi Pelayanan Haji: Perjalanan Khidmat dari Masa Khulafaur Rasyidin ke Era Modern

Nabi Muhammad SAW meletakkan Hajar Aswad di tengah kain tersebut. Kemudian, beliau meminta setiap pemimpin kabilah yang berselisih untuk memegang ujung-ujung kain itu secara bersama-sama.

Beliau berkata kepada mereka:

“Hendaknya setiap kabilah memegang ujung kain ini, lalu angkatlah bersama-sama.”

Mereka pun mengangkat kain tersebut hingga sejajar dengan posisi Hajar Aswad di dinding Ka’bah. Setelah kain mencapai ketinggian yang tepat, Muhammad SAW mengambil Hajar Aswad dengan tangannya yang mulia dan meletakkannya ke tempat semula. Solusi ini membuat semua kabilah merasa terlibat dan terhormat. Tidak ada satu kabilah pun yang merasa kalah atau direndahkan.

Pelajaran dari Kebijaksanaan Rasulullah

Kisah ini mengandung banyak hikmah yang tetap relevan hingga saat ini. Berikut adalah poin-poin penting dari tindakan Rasulullah SAW:

Sejarah Pembangunan Ka’bah: Perjalanan Suci dari Nabi Adam hingga Nabi Ibrahim

  1. Inklusivitas dalam Kepemimpinan: Beliau melibatkan semua pihak dalam solusi, sehingga tidak ada ego yang terluka.

  2. Kecerdasan Emosional: Beliau memahami bahwa rasa hormat dan pengakuan adalah hal yang paling diinginkan oleh para pemimpin Quraisy.

  3. Mencegah Konflik Sejak Dini: Beliau bertindak cepat dan tepat sebelum ketegangan berubah menjadi tindakan fisik yang destruktif.

  4. Integritas yang Teruji: Tanpa gelar “Al-Amin” yang melekat pada diri beliau sejak muda, mustahil kaum Quraisy mau menerima keputusannya.

Melalui peristiwa ini, Allah SWT menunjukkan bahwa Muhammad SAW adalah sosok yang dipersiapkan untuk menyatukan umat manusia di bawah naungan kedamaian. Beliau membuktikan bahwa diplomasi yang tulus jauh lebih kuat daripada tajamnya pedang.

Hingga saat ini, Hajar Aswad tetap berada di posisinya, menjadi saksi bisu atas kebijaksanaan seorang pemuda yang kelak menjadi rahmat bagi semesta alam. Kisah ini mengajarkan kita bahwa persatuan selalu bisa diraih melalui kerendahan hati dan musyawarah yang jujur.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.