Haji dan Umroh
Beranda » Berita » Makna Maqam Ibrahim dalam Al-Qur’an: Jejak Kaki Ketulusan Seorang Ayah dan Nabi

Makna Maqam Ibrahim dalam Al-Qur’an: Jejak Kaki Ketulusan Seorang Ayah dan Nabi

Setiap umat Muslim yang melaksanakan ibadah Haji atau Umrah pasti akan tertuju pada sebuah bangunan kecil berkubah emas di dekat Ka’bah. Di dalamnya, tersimpan sebuah batu yang memuat bekas telapak kaki manusia. Inilah Maqam Ibrahim. Namun, banyak orang sering keliru mengira bahwa ini adalah makam (kuburan) sang Nabi. Secara bahasa dan istilah syariat, Maqam Ibrahim adalah “tempat berdiri” Nabi Ibrahim saat membangun Baitullah.

Akar Sejarah dan Landasan Al-Qur’an

Al-Qur’an menyebutkan Maqam Ibrahim secara eksplisit sebagai salah satu tanda kebesaran Allah yang nyata. Allah SWT berfirman dalam Surat Ali ‘Imran ayat 97:

“فِيْهِ اٰيٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ مَّقَامُ اِبْرٰهِيْمَ ەۚ وَمَنْ دَخَلَهٗ كَانَ اٰمِنًا ۗ”

“Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia…”

Ayat ini menegaskan bahwa batu tersebut bukan sekadar benda mati. Ia merupakan saksi sejarah atas ketaatan luar biasa. Saat meninggikan fondasi Ka’bah bersama putranya, Nabi Ismail AS, Nabi Ibrahim membutuhkan pijakan agar bisa menjangkau bagian atas dinding. Secara mukjizat, batu tersebut melunak sehingga kaki Nabi Ibrahim tenggelam di dalamnya, meninggalkan bekas yang abadi hingga ribuan tahun kemudian.

Tafsir Ayat Tentang Keamanan Tanah Haram: Janji Perlindungan Allah bagi Tamu-Nya

Jejak Ketulusan Seorang Ayah

Maqam Ibrahim mencerminkan sinergi antara ayah dan anak dalam menjalankan perintah Tuhan. Nabi Ibrahim tidak bekerja sendirian. Beliau bekerja bersama Ismail, putra yang dahulu pernah ia tinggalkan di lembah tandus demi ketaatan kepada Allah.

Ketulusan Nabi Ibrahim terlihat dari bagaimana beliau tidak mengeluh saat menyusun batu demi batu di bawah terik matahari Makkah. Setiap langkah kaki di atas batu tersebut adalah simbol kerja keras. Allah mengabadikan jejak kaki ini bukan untuk memuja fisik Sang Nabi, melainkan untuk menghargai proses perjuangannya. Ini adalah pesan bagi setiap orang tua bahwa amal jariyah terbaik adalah membangun “rumah Allah” bersama keluarga.

Perintah Salat di Belakang Maqam Ibrahim

Dalam tradisi tawaf, kita mengenal anjuran untuk melaksanakan salat sunnah di belakang Maqam Ibrahim. Hal ini berawal dari permintaan Umar bin Khattab kepada Rasulullah SAW, yang kemudian dibenarkan oleh wahyu Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 125:

“وَاتَّخِذُوْا مِنْ مَّقَامِ اِبْرٰهِيْمَ مُصَلًّىۗ”

“…Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat salat…”

Mengapa Safa dan Marwah Disebut Sya’airillah? Mengupas Makna Mendalam Ritual Sa’i

Salat di sini bukan berarti menyembah batu atau Nabi Ibrahim. Salat tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap tempat yang menjadi saksi ketulusan seorang hamba. Saat kita berdiri di belakang Maqam Ibrahim, kita seolah-olah mengikuti jejak ketulusan beliau dalam menghadap Sang Pencipta.

Makna Spiritual bagi Kehidupan Modern

Apa relevansi Maqam Ibrahim bagi kita saat ini? Ada tiga makna mendalam yang bisa kita petik:

1. Bukti Nyata Pertolongan Allah (Ma’unah)

Batu yang melunak menjadi bukti bahwa Allah akan mempermudah jalan bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh. Ketika tugas terasa berat, Allah menyediakan “pijakan” agar kita mampu menyelesaikannya.

2. Simbol Istiqamah dalam Kebaikan

Jejak kaki yang membekas melambangkan pengaruh baik yang tertinggal. Nabi Ibrahim telah wafat, namun jejak ketaatannya tetap menjadi inspirasi. Ini memacu kita untuk meninggalkan warisan kebaikan (legacy) yang bermanfaat bagi orang lain setelah kita tiada.

3. Pentingnya Adab dan Penghormatan

Maqam Ibrahim mengajarkan kita untuk menghargai situs-situs bersejarah Islam. Menjaga dan menghormati tanda-tanda kebesaran Allah adalah bagian dari ketakwaan hati.

Simbolisme Ka’bah sebagai Baitullah dalam Tafsir Jalalayn: Rumah Pertama Bagi Manusia

Maqam Ibrahim dalam Proses Pembangunan Ka’bah

Sejarah mencatat bahwa saat Nabi Ibrahim membangun Ka’bah, Nabi Ismail bertugas mengangkut batu-batu dari berbagai gunung di sekitar Makkah. Ketika bangunan mulai tinggi, Nabi Ibrahim berdiri di atas batu tersebut. Batu itu bisa naik dan turun sesuai keinginan Nabi Ibrahim, mirip dengan lift di zaman modern.

Ini menunjukkan betapa alam semesta tunduk pada perintah Allah untuk membantu kekasih-Nya. Ketulusan Ibrahim mengubah benda mati menjadi pelayan yang setia. Keajaiban ini menjadi pengingat bahwa saat kita mengutamakan Allah, maka seluruh makhluk akan mendukung langkah kita.

Meneladani Karakter Nabi Ibrahim

Menatap Maqam Ibrahim seharusnya membuat kita merenungkan karakter sang “Abul Anbiya”. Beliau adalah sosok yang sangat rendah hati. Meskipun telah membangun bangunan paling suci di muka bumi, beliau tetap berdoa dengan penuh rasa takut jika amalnya tidak diterima:

“رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ”

“Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 127)

Doa ini terucap tepat di saat beliau berdiri di atas Maqam tersebut. Ini adalah puncak dari ketulusan—melakukan hal besar tanpa merasa besar.

Kesimpulan

Maqam Ibrahim bukan sekadar artefak arkeologi atau sekadar pelengkap di samping Ka’bah. Ia adalah simbol fisik dari nilai-nilai spiritual yang luhur: ketaatan, kerja keras, kerja sama keluarga, dan ketulusan tanpa batas. Jejak kaki tersebut menjadi saksi abadi bahwa seorang manusia biasa dapat mencapai derajat mulia di mata Tuhan melalui pengabdian yang murni.

Semoga saat kita berkesempatan mengunjungi Baitullah, kita tidak hanya melihat batu di dalam kaca. Kita harus mampu merasakan getaran ketulusan Nabi Ibrahim dan membawanya pulang ke dalam kehidupan sehari-hari.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.