Haji dan Umroh
Beranda » Berita » Mengapa Safa dan Marwah Disebut Sya’airillah? Mengupas Makna Mendalam Ritual Sa’i

Mengapa Safa dan Marwah Disebut Sya’airillah? Mengupas Makna Mendalam Ritual Sa’i

Ibadah haji dan umrah menyimpan sejuta pesona spiritual yang tidak pernah habis untuk kita gali. Salah satu rukun yang paling menguras fisik namun penuh makna adalah Sa’i. Ritual berjalan kaki dan berlari-lari kecil sebanyak tujuh kali antara bukit Safa dan Marwah ini bukan sekadar gerak badan.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT secara eksplisit menyebut kedua bukit ini sebagai bagian dari Sya’airillah. Mengapa demikian? Mari kita bedah tuntas filosofi, sejarah, dan alasan teologis di baliknya.

Arti Sya’airillah dalam Al-Qur’an

Secara etimologi, kata Sya’air merupakan bentuk jamak dari Sya’irah, yang berarti tanda, simbol, atau syiar. Sementara itu, Allah merujuk pada Sang Pencipta. Maka, Sya’airillah berarti “Tanda-tanda Kebesaran Allah” atau simbol-simbol yang mengarahkan manusia kepada ketaatan.

Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 158:

“Innas-safa wal-marwata min sya’airillah…” (Sesungguhnya Safa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah…)

Makna Maqam Ibrahim dalam Al-Qur’an: Jejak Kaki Ketulusan Seorang Ayah dan Nabi

Penyebutan ini memberikan status istimewa bagi kedua bukit tersebut. Mereka bukan lagi sekadar onggokan batu dan tanah di Mekkah. Keduanya telah bertransformasi menjadi monumen tauhid yang wajib umat Islam muliakan melalui ibadah Sa’i.

Sejarah Perjuangan Siti Hajar: Akar Ritual Sa’i

Kita tidak bisa memahami makna Sya’airillah tanpa menoleh ke belakang pada kisah Siti Hajar. Saat Nabi Ibrahim AS meninggalkan istri dan anaknya, Ismail, di lembah yang tandus, Siti Hajar menunjukkan level tawakal yang luar biasa.

Ketika persediaan air habis dan Ismail kecil menangis kehausan, Siti Hajar tidak menyerah pada keadaan. Ia berlari bolak-balik antara Bukit Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Beliau mencari bantuan atau setetes air di tengah padang pasir yang membakar.

Peristiwa inilah yang menjadi dasar mengapa Safa dan Marwah disebut syiar Allah. Allah mengabadikan langkah kaki seorang ibu yang penuh keyakinan menjadi rukun ibadah bagi jutaan manusia hingga akhir zaman.

Alasan Safa dan Marwah Disebut Sya’airillah

Ada beberapa alasan fundamental mengapa kedua tempat ini menyandang gelar mulia tersebut:

Simbolisme Ka’bah sebagai Baitullah dalam Tafsir Jalalayn: Rumah Pertama Bagi Manusia

1. Simbol Keteguhan Tauhid

Safa dan Marwah mengajarkan bahwa ikhtiar manusiawi harus berjalan selaras dengan iman. Siti Hajar percaya bahwa Allah tidak akan menelantarkannya. Keyakinan inilah yang menjadi inti dari agama Islam (penyerahan diri).

2. Penghapusan Keraguan Masa Jahiliyah

Dahulu, pada masa Jahiliyah, terdapat berhala bernama Isaf di Bukit Safa dan Na’ilah di Bukit Marwah. Hal ini sempat membuat para sahabat Nabi merasa ragu untuk melakukan Sa’i setelah masuk Islam. Turunnya ayat 158 Surat Al-Baqarah menegaskan bahwa tempat tersebut murni milik Allah, bukan milik kaum musyrik.

3. Pengingat akan Pertolongan Allah

Setiap jamaah yang melintasi jalur Sa’i diingatkan bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Mukjizat air Zamzam muncul bukan di atas bukit tempat Hajar berlari, melainkan di bawah kaki Ismail. Ini menunjukkan bahwa Allah menghargai proses (ikhtiar), namun hasil tetap merupakan hak prerogatif-Nya.

Makna Filosofis di Balik Ritual Sa’i

Ritual Sa’i mengandung pesan moral yang sangat relevan dengan kehidupan modern. Mari kita perhatikan beberapa poin penting berikut:

Kehormatan bagi Perempuan

Islam mengangkat derajat Siti Hajar, seorang perempuan dan ibu, menjadi inspirasi utama dalam rukun haji. Tanpa perjuangan Hajar, tidak akan ada ritual Sa’i. Ini membuktikan bahwa di mata Allah, pengorbanan wanita memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi.

Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 196: Kewajiban Ibadah Haji dan Umrah

Dinamika Kehidupan

Hidup manusia menyerupai lintasan antara Safa dan Marwah. Kadang kita berada di puncak (harapan), kadang berada di lembah (tantangan). Lari-lari kecil di area Lampu Hijau (Mas’il Akhdharin) melambangkan semangat yang tidak boleh padam meski beban hidup terasa berat.

Optimisme yang Tak Terbatas

Siti Hajar tidak melihat air di Safa, namun ia tetap menuju Marwah. Ia tidak melihat air di Marwah, namun ia kembali ke Safa. Ia terus bergerak. Inilah definisi optimisme; terus melakukan yang terbaik meski solusi belum tampak di depan mata.

Mengapa Kita Harus Mengagungkan Sya’airillah?

Mengagungkan syiar-syiar Allah adalah tanda ketakwaan hati. Saat kita melakukan Sa’i dengan penuh penghayatan, kita sedang menyelaraskan detak jantung kita dengan frekuensi para nabi.

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)

Menghormati Safa dan Marwah berarti kita menghormati sejarah perjuangan tauhid. Kita mengakui bahwa setiap jengkal tanah di tanah suci memiliki cerita tentang ketaatan mutlak kepada Sang Khalik.

Kesimpulan

Safa dan Marwah disebut Sya’airillah karena keduanya adalah saksi bisu keajaiban iman. Ritual Sa’i mengajarkan kita bahwa ikhtiar maksimal adalah kewajiban, sementara tawakal adalah sandaran. Melalui kedua bukit ini, Allah menunjukkan bahwa tidak ada usaha yang sia-sia jika kita tujukan untuk mencari ridha-Nya.

Safa adalah kesucian, dan Marwah adalah marwah atau harga diri mukmin. Keduanya bersatu dalam harmoni ibadah yang memperkuat identitas kita sebagai hamba Allah.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.