Ka’bah berdiri kokoh di pusat Masjidil Haram sebagai magnet spiritual bagi jutaan umat Muslim. Al-Qur’an menyebutnya sebagai Baitullah atau Rumah Allah. Namun, apa sebenarnya makna di balik sebutan tersebut? Tafsir Jalalayn, karya monumental Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuti, memberikan penjelasan jernih mengenai kedudukan Ka’bah sebagai rumah ibadah pertama bagi manusia.
Ka’bah: Titik Awal Peradaban Spiritual
Dalam Surat Ali Imran ayat 96, Allah SWT berfirman mengenai asal-usul tempat suci ini. Tafsir Jalalayn membedah ayat ini dengan sangat lugas namun mendalam.
Kutipan Ayat:
“إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ” (Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.)
Imam Jalaluddin as-Suyuti dalam Tafsir Jalalayn menjelaskan kutipan tersebut:
“أي قبل بيت المقدس” (Maksudnya adalah: dibangun sebelum Baitul Maqdis).
Penjelasan ini menegaskan bahwa Ka’bah memiliki senioritas sejarah di atas seluruh bangunan suci di muka bumi. Ka’bah bukan sekadar tumpukan batu, melainkan fondasi awal peribadatan manusia kepada Sang Pencipta.
Makna Simbolis Baitullah (Rumah Allah)
Mengapa Allah menyebut Ka’bah sebagai rumah-Nya? Tentu Allah tidak membutuhkan tempat tinggal. Istilah Baitullah merupakan bentuk pemuliaan (tasyrif). Tafsir Jalalayn menekankan bahwa penyebutan ini menunjukkan betapa sucinya lokasi tersebut sebagai pusat penghambaan.
Ka’bah melambangkan kesatuan (Tauhid). Saat ribuan orang melakukan tawaf, mereka bergerak mengelilingi satu titik pusat yang sama. Gerakan ini menyimbolkan bahwa seluruh urusan manusia harus berporos pada kehendak Allah. Jalalayn menyoroti kata “مُبَارَكًا” (yang diberkahi) dalam ayat tersebut sebagai bukti bahwa kebaikan di tempat ini terus bertambah dan menetap bagi para peziarah.
Bakkah: Nama Lain yang Penuh Makna
Dalam teks aslinya, Al-Qur’an menggunakan istilah “Bakkah” bukan “Makkah”. Tafsir Jalalayn menjelaskan perbedaan ini secara singkat namun padat. Bakkah merujuk pada tempat berdirinya Ka’bah dan area sekitarnya.
Beberapa ahli tafsir menyebutkan bahwa Bakkah berasal dari kata Baka yang berarti “menangis” atau “berdesak-desakan”. Nama ini menyimbolkan ketundukan manusia. Di hadapan Ka’bah, semua gelar duniawi runtuh. Raja dan rakyat jelata menangis di tempat yang sama, memohon ampunan kepada Tuhan yang sama.
Petunjuk Bagi Seluruh Alam (Hudan lil ‘Alamin)
Tafsir Jalalayn menegaskan bahwa Ka’bah berfungsi sebagai “هُدًى لِلْعَالَمِينَ”. Artinya, bangunan ini menjadi kiblat yang menyatukan arah fisik dan batin umat Islam.
-
Arah Fisik: Menyatukan jutaan manusia dalam satu orientasi saat salat.
-
Arah Spiritual: Menjadi pengingat akan janji setia manusia kepada Allah sejak zaman Nabi Ibrahim AS.
Simbolisme ini sangat kuat. Ka’bah menjadi kompas moral bagi manusia agar tidak tersesat dalam hiruk-pikuk dunia. Tanpa kiblat, manusia akan kehilangan titik koordinat spiritualnya.
Ka’bah dan Warisan Nabi Ibrahim
Meskipun Ka’bah adalah rumah pertama, pembangunan fisiknya sering dikaitkan dengan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Tafsir Jalalayn menjelaskan bahwa Ibrahim membangun kembali fondasi yang sudah ada. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai tauhid bersifat abadi dan lintas zaman.
Imam Jalaluddin menuliskan bahwa keberkahan Makkah mencakup penggandaan pahala ibadah. Satu kali salat di Masjidil Haram memiliki nilai yang jauh lebih tinggi daripada tempat lain. Inilah bentuk nyata dari keberkahan (barakah) yang disebutkan dalam teks suci tersebut.
Mengapa Mempelajari Tafsir Jalalayn Penting?
Tafsir Jalalayn sangat populer karena gaya bahasanya yang ringkas. Ia langsung menuju pada inti makna tanpa bertele-tele. Bagi pembaca modern, tafsir ini memudahkan pemahaman tentang posisi Ka’bah dalam sejarah manusia.
Melalui kacamata Jalalayn, kita melihat Ka’bah bukan sebagai objek pemujaan, melainkan sebagai sarana (wasilah) untuk mencapai Tuhan. Umat Islam tidak menyembah Ka’bah; mereka menyembah Pemilik Ka’bah. Bangunan tersebut hanyalah simbol fisik dari kehadiran-Nya yang meliputi segala sesuatu.
Kesimpulan: Kembali ke Pusat
Simbolisme Ka’bah sebagai rumah pertama manusia mengajarkan kita tentang asal-usul. Manusia diciptakan untuk beribadah, dan Ka’bah adalah monumen fisik pertama yang menandai tujuan tersebut. Tafsir Jalalayn berhasil membedah makna ini dengan menonjolkan aspek historis dan keberkahannya.
Dengan memahami kedudukan Ka’bah sebagai Baitullah, kita tidak hanya sekadar melihat bangunan kubus hitam. Kita melihat jejak sejarah nabi, pusat persatuan umat, dan simbol kedaulatan Tuhan di muka bumi. Mari kita jaga orientasi hidup kita agar selalu tertuju pada nilai-nilai yang Ka’bah representasikan: ketulusan, kesatuan, dan pengabdian total kepada Allah SWT.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
