Ibadah haji merupakan puncak perjalanan spiritual bagi setiap Muslim. Jutaan orang berbondong-bondong menuju Baitullah dengan satu harapan besar: meraih predikat Haji Mabrur. Namun, apa sebenarnya hakikat dari kemabruran tersebut? Bagaimana ulama besar seperti Ibnu Katsir menjelaskan konsep ini dalam tafsirnya? Artikel ini akan mengupas tuntas maknanya untuk Anda.
Definisi Haji Mabrur secara Bahasa dan Istilah
Secara etimologi, kata mabrur berasal dari akar kata al-birru yang berarti kebaikan atau ketaatan. Maka, Haji Mabrur adalah haji yang diterima oleh Allah SWT karena pelaksanaannya bersih dari dosa dan penuh dengan amal kebajikan.
Rasulullah SAW memberikan motivasi terbesar melalui sabdanya:
“Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Makna Haji dalam Tafsir Ibnu Katsir
Dalam mahakaryanya, Tafsir Al-Qur’an al-Adzim, Ibnu Katsir menekankan bahwa ibadah haji adalah bentuk totalitas ketauhidan. Saat menafsirkan Surah Al-Baqarah ayat 197, beliau menjelaskan pentingnya menjaga sikap selama berhaji.
1. Menjauhi Rafats, Fusuq, dan Jidal
Ibnu Katsir menggarisbawahi kutipan ayat: “Falaa rafatsa wa laa fusuuqa wa laa jidaala fil hajj”. Beliau menjelaskan bahwa:
-
Rafats: Segala bentuk perkataan kotor atau perbuatan yang membangkitkan syahwat.
-
Fusuq: Segala bentuk kemaksiatan dan keluar dari ketaatan kepada Allah.
-
Jidal: Berbantah-bantahan yang tidak bermanfaat atau memicu pertengkaran.
Menurut Ibnu Katsir, seorang haji yang mabrur harus mampu menekan egonya. Ia harus menjaga lisan dan hatinya agar tetap jernih selama berada di tanah suci.
2. Bekal Takwa adalah yang Utama
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa bekal fisik memang penting, namun bekal batin jauh lebih krusial. Beliau mengutip: “Wa tazawwaduu fa inna khaira zaadit taqwa” (Berbekallah kamu, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa). Kemabruran haji sangat bergantung pada sejauh mana seseorang membawa pulang rasa takut dan cinta kepada Allah ke tanah airnya.
Ciri-Ciri Haji Mabrur Menurut Para Ulama
Meskipun kemabruran adalah hak prerogatif Allah, para ulama memberikan indikator yang bisa kita rasakan. Ibnu Katsir sering mengaitkan keberhasilan ibadah dengan perubahan perilaku pasca-ibadah tersebut.
Memberi Makan dan Ucapan yang Santun
Dalam beberapa riwayat yang sering dibahas oleh para ahli tafsir, Rasulullah pernah ditanya mengenai apa itu haji mabrur. Beliau menjawab: “Th’amuth-tha’am wa thiyabul kalam” (Memberi makan orang lain dan tutur kata yang baik). Ini menunjukkan bahwa haji bukan sekadar ritual fisik, melainkan transformasi sosial.
Perubahan Hidup Menjadi Lebih Baik
Tanda utama haji yang diterima adalah adanya perbaikan kualitas iman. Jika sebelum haji seseorang malas beribadah, maka setelah pulang ia menjadi ahli masjid. Jika dahulu ia kikir, maka sepulangnya ia menjadi dermawan. Ibnu Katsir menekankan bahwa amal saleh yang berkelanjutan adalah bukti nyata keberkahan sebuah ibadah.
Strategi Meraih Haji Mabrur
Untuk mencapai derajat ini, Anda perlu mempersiapkan beberapa aspek krusial berikut:
1. Niat yang Ikhlas
Pastikan niat Anda murni karena Allah. Hindari keinginan untuk mendapatkan gelar “Haji” atau sekadar mencari status sosial. Ibnu Katsir mengingatkan bahwa Allah hanya menerima amal yang dikerjakan dengan ikhlas dan mengikuti syariat.
2. Harta yang Halal
Ini adalah poin yang sangat vital. Ibnu Katsir dan ulama lainnya sepakat bahwa haji dari harta yang haram sulit mencapai derajat mabrur. Allah itu Maha Baik dan hanya menerima sesuatu yang baik (halal).
3. Memahami Manasik secara Mendalam
Kerjakan setiap rukun dan wajib haji sesuai tuntunan Sunnah. Jangan sampai ketidaktahuan membuat ibadah Anda menjadi sia-sia. Pelajari tata cara thawaf, sa’i, hingga wukuf di Arafah dengan saksama.
Kesimpulan
Memahami makna Haji Mabrur melalui kacamata Tafsir Ibnu Katsir membuka mata kita bahwa haji adalah perjalanan hati. Ia bukan sekadar perjalanan fisik dari satu tempat suci ke tempat suci lainnya. Haji mabrur menuntut kesabaran, keikhlasan, dan perubahan karakter yang permanen.
Balasan surga yang dijanjikan Allah bukan tanpa alasan. Perjuangan melawan hawa nafsu selama di tanah suci adalah latihan untuk menghadapi kehidupan yang sebenarnya. Semoga setiap Muslim yang berangkat ke tanah suci tahun ini mendapatkan predikat mabrur.
Apakah Anda ingin saya membuatkan daftar rincian persiapan manasik haji yang sesuai dengan Sunnah untuk memperdalam pemahaman Anda?
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
