Setiap tahun, jutaan umat Muslim memadati tanah suci Makkah dengan menggemakan kalimat yang sama. Suara mereka membahana, menciptakan harmoni yang menggetarkan arsy. Kalimat itu adalah Talbiyah: “Labbaik Allahumma Labbaik”. Namun, tahukah Anda bahwa kalimat ini bukan sekadar tradisi lisan? Ia adalah jawaban langsung atas seruan Nabi Ibrahim AS ribuan tahun silam.
Sejarah di Balik Panggilan Abadi
Kisah ini bermula saat Nabi Ibrahim AS selesai membangun kembali Ka’bah bersama putranya, Ismail AS. Allah SWT kemudian memerintahkan Ibrahim untuk memanggil umat manusia agar melaksanakan haji. Perintah ini tercatat dalam Surah Al-Hajj ayat 27:
“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.”
Ibrahim AS sempat bertanya kepada Allah, “Wahai Tuhanku, bagaimana suaraku bisa menjangkau mereka?” Allah SWT menjawab, “Tugasmu adalah memanggil, dan Aku yang akan menyampaikannya.”
Konon, saat itu Allah mengecilkan gunung-gunung dan memudahkan suara Ibrahim menembus ruang dan waktu. Roh-roh manusia yang belum lahir pun menjawab panggilan tersebut dengan kalimat “Labbaik Allahumma Labbaik”. Inilah alasan mengapa setiap jamaah haji merasa seperti “pulang ke rumah” saat menginjakkan kaki di Makkah.
Membedah Makna Kata “Labbaik”
Secara etimologi, kata Labbaik berasal dari akar kata Al-Labb yang berarti menetap atau tinggal. Secara mendalam, kalimat ini mengandung beberapa lapisan makna spiritual yang sangat kuat:
-
Kesediaan yang Berulang: Penambahan huruf ‘ya’ (dalam bentuk mutsanna) mengisyaratkan bahwa jawaban kita tidak hanya sekali. Kita berkata, “Aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah, berkali-kali tanpa henti.”
-
Ketaatan Penuh Cinta: Kalimat ini menunjukkan ketundukan total yang lahir dari rasa cinta, bukan sekadar ketakutan akan azab.
-
Ketulusan Hati: Mengucapkan Talbiyah berarti menegaskan bahwa fokus utama hidup kita hanyalah Allah SWT.
Analisis Kalimat Talbiyah Secara Utuh
Kalimat lengkap Talbiyah adalah sebagai berikut:
“Labbaik Allahumma labbaik, labbaik laa syariika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk, laa syariika lak.”
Artinya: “Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan seluruh kerajaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.”
1. Menegaskan Tauhid (Laa Syariika Lak)
Bagian terpenting dari tafsir ini adalah penegasan bahwa tidak ada sekutu bagi Allah. Pada zaman jahiliyah, kaum musyrik juga mengucapkan Talbiyah, namun mereka menambahkan nama berhala mereka. Islam datang untuk memurnikan kalimat ini. Kita mengakui bahwa hanya Allah yang berhak memanggil kita ke tanah suci.
2. Pengakuan Atas Nikmat (Innal Hamda wan Ni’mata)
Haji adalah ibadah fisik dan finansial yang berat. Dengan mengucapkan bagian ini, seorang hamba mengakui bahwa kekuatan fisik dan harta yang ia gunakan untuk berangkat adalah pemberian Allah. Kita mengembalikan semua pujian kepada Sang Pemberi Nikmat.
3. Kedaulatan Mutlak (Wal Mulk)
Dunia ini milik Allah. Saat kita berada di padang Arafah atau mengelilingi Ka’bah, status sosial kita hilang. Hanya ada hamba dan Tuhannya. Kalimat Wal Mulk menyadarkan kita bahwa jabatan dan kekuasaan di dunia hanyalah titipan sementara.
Mengapa Kita Harus Bersuara Keras?
Rasulullah SAW bersabda bahwa Jibril mendatanginya dan memerintahkan agar para sahabat mengeraskan suara Talbiyah. Mengapa? Karena Talbiyah adalah syiar. Suara yang keras melambangkan keberanian menyatakan kebenaran. Selain itu, alam semesta—mulai dari batu, pohon, hingga tanah—ikut bersaksi atas ketaatan hamba yang mengucapkan Talbiyah tersebut.
Dampak Psikologis bagi Jamaah
Secara psikologis, mengucapkan kalimat ini secara berulang memberikan efek meditatif. Getaran suara kolektif menciptakan rasa persaudaraan yang luar biasa. Anda tidak lagi merasa sebagai individu dari negara tertentu, melainkan bagian dari umat yang satu. Anda menjawab panggilan yang sama dengan yang dijawab oleh para Nabi terdahulu.
Tafsir Labbaik Allahumma Labbaik mengajarkan kita tentang kerendahan hati. Kita adalah tamu Allah (dhuyufurrahman). Sebagai tamu, kita tidak membawa apa-apa selain ketaatan dan harapan akan ampunan.
Relevansi Talbiyah dalam Kehidupan Sehari-hari
Meskipun ritual haji memiliki waktu tertentu, semangat Talbiyah harus tetap hidup setiap hari. Setiap kali adzan berkumandang, itulah panggilan Allah. Setiap kali ada perintah untuk berbuat baik, itulah seruan-Nya. Seorang Muslim yang sejati adalah mereka yang “hatinya selalu berihram”, selalu siap menjawab “Labbaik” terhadap setiap perintah Rabb-nya.
Ibrahim AS telah memanggil, Allah telah menyampaikan, dan kini giliran lisan serta hati kita yang membuktikannya. Jangan biarkan kalimat ini berhenti di tenggorokan saja. Resapi maknanya, murnikan tauhidnya, dan biarkan ia mengubah karakter kita menjadi pribadi yang lebih tunduk kepada sang Pencipta.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
