Peristiwa Haji Wada’ atau Haji Perpisahan merupakan momentum paling emosional dalam sejarah Islam. Pada tahun ke-10 Hijriah, Nabi Muhammad SAW memberikan wasiat terakhir yang merangkum seluruh esensi ajaran Islam. Dalam kitab Shahih Bukhari, hadits-hadits terkait Haji Wada’ tersebar dalam berbagai bab, namun semuanya bermuara pada satu pesan: perlindungan terhadap hak asasi manusia dan persatuan umat.
Konteks Sejarah Haji Wada’
Nabi Muhammad SAW melaksanakan ibadah haji ini hanya beberapa bulan sebelum beliau wafat. Beliau berdiri di atas untanya yang bernama Al-Qashwa di tengah padang Arafah. Ribuan sahabat mendengarkan dengan khidmat setiap kalimat yang keluar dari lisan mulia beliau. Imam Bukhari mencatat detail peristiwa ini dengan sangat teliti melalui jalur periwayatan para sahabat senior seperti Abu Bakrah dan Jabir bin Abdillah.
Isi Khutbah yang Menggetarkan: Kutipan Asli
Salah satu riwayat paling masyhur dalam Shahih Bukhari (Nomor 1741) menggambarkan ketegasan Nabi dalam melindungi kehormatan setiap Muslim. Berikut adalah kutipan pesannya:
“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah haram (suci) atas kalian, sebagaimana sucinya hari kalian ini, di bulan kalian ini, dan di negeri kalian ini. Hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir, karena bisa jadi orang yang disampaikan lebih memahami daripada yang mendengar langsung.”
Kalimat ini menegaskan bahwa Islam meletakkan keamanan jiwa dan harta pada posisi tertinggi. Tidak ada seorang pun yang berhak menumpahkan darah atau merampas harta orang lain tanpa alasan yang benar menurut syariat.
Analisis Poin Penting Khutbah Haji Wada’
1. Perlindungan Terhadap Nyawa dan Harta
Rasulullah SAW menghapuskan tradisi balas dendam (Thar) yang mendarah daging di tanah Arab. Beliau menyatakan bahwa semua tuntutan darah pada masa Jahiliyah telah gugur. Hal ini membawa kedamaian total bagi masyarakat yang sebelumnya terpecah oleh konflik antarsuku.
2. Penghapusan Riba dan Ketidakadilan Ekonomi
Dalam khutbah tersebut, Nabi secara eksplisit menghapuskan praktik riba. Riba merupakan bentuk eksploitasi manusia atas manusia lainnya. Beliau memulai penghapusan ini dari keluarganya sendiri, yaitu riba yang menjadi tanggungan paman beliau, Abbas bin Abdul Muthalib.
3. Persamaan Derajat Manusia
Khutbah Haji Wada’ adalah deklarasi universal tentang kesetaraan. Rasulullah menegaskan bahwa tidak ada kelebihan orang Arab atas orang non-Arab, kecuali karena ketakwaannya. Pesan ini meruntuhkan tembok rasisme dan kasta sosial yang sangat kuat pada abad ke-7.
4. Wasiat Mengenai Wanita
Nabi Muhammad SAW memberikan perhatian khusus kepada kaum wanita. Beliau berpesan agar para suami bertakwa kepada Allah dalam memperlakukan istri-istri mereka. Wanita bukanlah tawanan, melainkan mitra hidup yang memiliki hak-hak yang harus dipenuhi secara makruf.
Relevansi Khutbah Haji Wada’ di Era Modern
Pesan Nabi dalam Shahih Bukhari ini bukan sekadar sejarah masa lalu. Jika kita melihat kondisi dunia hari ini, prinsip-prinsip yang beliau sampaikan adalah solusi bagi krisis kemanusiaan. Penekanan pada kesucian darah sangat relevan untuk menghentikan berbagai konflik peperangan yang melanda dunia.
Begitu pula dengan larangan riba yang memberikan peringatan keras terhadap sistem ekonomi yang hanya menguntungkan pihak kaya. Rasulullah ingin membangun masyarakat yang saling menanggung, bukan saling memangsa dalam urusan ekonomi.
Kedalaman Makna “Sampaikanlah Kepada yang Tidak Hadir”
Kalimat penutup khutbah ini menunjukkan urgensi dakwah. Nabi Muhammad SAW ingin agar pesan keadilan ini menyebar melampaui batas geografis dan zaman. Setiap Muslim yang membaca hadits ini hari ini mengemban tanggung jawab yang sama untuk menyuarakan kebenaran dan kedamaian.
Imam Bukhari meletakkan hadits ini sebagai fondasi hukum dalam banyak bab, mulai dari bab ilmu, bab haji, hingga bab hudud (hukum pidana). Hal ini membuktikan bahwa Khutbah Haji Wada’ adalah konstitusi hidup bagi setiap mukmin.
Kesimpulan
Kajian Hadits Haji Wada’ dalam Shahih Bukhari membuka mata kita tentang betapa agungnya agama Islam. Rasulullah menutup masa kenabiannya dengan pesan yang sangat manusiawi, adil, dan penuh kasih sayang. Khutbah terakhir ini merupakan cahaya yang akan terus menerangi langkah umat Islam hingga akhir zaman.
Dengan memahami dan mengamalkan isi Khutbah Haji Wada’, kita sebenarnya sedang menjaga warisan terbesar Nabi Muhammad SAW. Keamanan, keadilan ekonomi, dan penghormatan terhadap martabat manusia adalah kunci kejayaan umat Islam di masa depan.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
