Haji dan Umroh
Beranda » Berita » Adab Safar Haji dalam Kitab Bidayatul Hidayah: Menjaga Niat Sejak dari Rumah

Adab Safar Haji dalam Kitab Bidayatul Hidayah: Menjaga Niat Sejak dari Rumah

Ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju tanah suci Makkah. Ia merupakan perjalanan spiritual menuju Allah SWT. Imam Al-Ghazali dalam kitab monumental beliau, Bidayatul Hidayah, memberikan panduan komprehensif mengenai etika atau adab perjalanan (safar). Bagian ini sangat krusial bagi calon jamaah haji agar ibadah mereka mencapai derajat mabrur.

1. Memulai dengan Taubat dan Penyelesaian Hak Sesama

Sebelum melangkahkan kaki keluar rumah, Imam Al-Ghazali menekankan pentingnya membersihkan diri dari beban duniawi dan dosa.

“Maka apabila engkau hendak keluar maka mulailah dengan bertaubat dari segala kedzaliman dan kemaksiatan, dan bayarlah segala hutang-hutangmu, dan siapkanlah nafkah untuk anak-anakmu serta orang yang wajib engkau nafkahi.”

Langkah awal ini memastikan bahwa perjalanan haji tidak meninggalkan sengketa di belakang. Anda harus memastikan semua amanah telah tertunaikan. Meminta maaf kepada tetangga dan kerabat bukan sekadar formalitas, melainkan upaya membersihkan hati dari sifat sombong.

2. Memastikan Kehalalan Bekal

Kehalalan harta menjadi pondasi utama dalam adab safar haji. Imam Al-Ghazali sangat ketat dalam hal ini. Beliau mengingatkan agar jamaah membawa bekal dari sumber yang paling bersih.

Mengenal Tiga Cara Pelaksanaan Ibadah Haji

Harta yang syubhat apalagi haram akan menghalangi diterimanya doa. Dalam konteks Bidayatul Hidayah, bekal yang baik akan menenangkan jiwa selama perjalanan. Hal ini memungkinkan jamaah untuk lebih fokus pada dzikir daripada mencemaskan urusan logistik yang tidak berkah.

3. Menjaga Niat Tetap Murni (Ikhlas)

Inti dari seluruh bab Adab al-Safar adalah menjaga niat. Niat harus tertuju hanya kepada Allah SWT, bukan untuk gelar “Haji” atau sekadar berwisata.

“Janganlah tujuanmu dalam perjalanan itu kecuali untuk mencari ridha Allah Ta’ala.”

Imam Al-Ghazali memperingatkan bahwa syaitan sering menyusupkan rasa bangga diri (ujub) sejak seseorang mempersiapkan pakaian ihramnya. Menjaga niat sejak dari rumah berarti menanamkan kesadaran bahwa kita adalah hamba yang lemah yang sedang memenuhi panggilan Sang Pencipta.

4. Shalat Safar dan Doa Keluar Rumah

Adab fisik dimulai dengan pelaksanaan shalat sunnah safar dua rakaat. Shalat ini menjadi pembuka perlindungan Allah.

Syarat, Rukun, dan Wajib Umroh: Kajian Ringkas Kitab Safinatun Najah

  • Rakaat Pertama: Membaca Surah Al-Kafirun setelah Al-Fatihah.

  • Rakaat Kedua: Membaca Surah Al-Ikhlas setelah Al-Fatihah.

Setelah shalat, Imam Al-Ghazali menganjurkan doa yang sangat menyentuh hati. Anda memohon agar Allah menjadi “teman” dalam perjalanan dan “penjaga” bagi keluarga yang ditinggalkan. Hal ini menciptakan ketenangan mental yang luar biasa bagi jamaah.

5. Memilih Teman Perjalanan yang Saleh

Dalam Bidayatul Hidayah, pemilihan teman perjalanan (Rafiq) sangat menentukan kualitas ibadah. Imam Al-Ghazali menyarankan Anda mencari teman yang bisa mengingatkan saat lupa dan membantu saat merasa berat.

Teman yang baik akan mengajak Anda pada ketaatan. Sebaliknya, teman yang buruk hanya akan menghabiskan waktu dengan obrolan duniawi yang sia-sia di tanah suci. Persahabatan dalam safar haji harus berdasarkan kasih sayang karena Allah.

Menyelami Makna Ihram Menurut Kitab Al-Adzkar Karya Imam Nawawi

6. Etika Saat Berada di Atas Kendaraan

Meski zaman sekarang kita menggunakan pesawat, prinsip Imam Al-Ghazali tetap relevan. Beliau mengajarkan kita untuk tidak menyiksa tunggangan (kendaraan) dan tetap menjaga sopan santun kepada sesama penumpang.

Gunakanlah waktu di perjalanan untuk memperbanyak talbiyah, dzikir, dan membaca shalawat. Hindari perdebatan atau pertengkaran dengan sesama jamaah haji. Kesabaran adalah kunci utama dalam menghadapi ujian-ujian kecil selama perjalanan udara maupun darat.

7. Kembali dengan Jiwa yang Baru

Adab safar tidak berakhir saat Anda sampai di Makkah. Saat pulang nanti, Imam Al-Ghazali mengingatkan agar kita membawa oleh-oleh berupa perubahan perilaku.

Tanda haji yang mabrur adalah ketika seseorang kembali ke tanah air dengan zuhud terhadap dunia dan rindu pada akhirat. Perubahan ini harus nampak jelas dalam keseharian setelah kembali ke rumah masing-masing.

Kesimpulan

Mengikuti Adab Safar Haji dalam kitab Bidayatul Hidayah membantu kita mencapai esensi ibadah yang sesungguhnya. Imam Al-Ghazali membimbing kita untuk tidak hanya menyiapkan fisik, tetapi juga membenahi hati. Dengan niat yang murni dan harta yang halal, perjalanan menuju Baitullah akan menjadi transformasi jiwa yang abadi.

Apakah Anda ingin saya membuatkan daftar doa khusus dari kitab Bidayatul Hidayah untuk dibaca saat memulai perjalanan haji?


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.