Ihram bukan sekadar mengenakan kain putih tanpa jahitan. Ia adalah gerbang spiritual yang menandai perubahan total status seorang hamba di hadapan Sang Pencipta. Imam Nawawi, dalam kitab Al-Adzkar, menguraikan bahwa ihram merupakan momen transisi dari kehidupan duniawi menuju pengabdian mutlak.
Pentingnya Niat dalam Ihram
Imam Nawawi menekankan bahwa setiap ibadah bermula dari hati. Dalam bab haji, beliau menjelaskan bahwa niat adalah rukun yang tidak boleh terabaikan. Beliau menuliskan kutipan yang sangat masyhur mengenai prosedur niat ini:
“Disunnahkan melafazkan niat haji atau umrah setelah mantap di dalam hati. Seseorang mengucapkan: Nawaitul hajja wa ahramtu bihi lillahi ta’ala (Aku berniat haji dan berihram karena Allah Ta’ala).”
Kutipan ini menunjukkan bahwa lisan berfungsi menguatkan tekad yang sudah tertanam di sanubari. Imam Nawawi ingin setiap jamaah sadar sepenuhnya saat mereka menanggalkan pakaian biasa dan menggantinya dengan kain ihram.
Kesederhanaan dan Persamaan Derajat
Makna filosofis ihram dalam Al-Adzkar juga menyentuh aspek kesetaraan. Saat seseorang mengenakan pakaian ihram, semua atribut kekayaan dan jabatan seketika luntur. Imam Nawawi sering mengaitkan zikir-zikir dalam ihram dengan sikap tawadu.
Kitab ini memandu jamaah untuk terus membasahi lidah dengan kalimat Talbiyah. Kalimat ini bukan sekadar nyanyian, melainkan jawaban atas panggilan Allah SWT. Berikut adalah kutipan teks Talbiyah yang ditekankan oleh Imam Nawawi:
“Labbaikallahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk, laa syarika lak.”
Kalimat tersebut mengandung pengakuan bahwa segala pujian, nikmat, dan kekuasaan hanyalah milik Allah. Imam Nawawi menyarankan agar jamaah mengeraskan suara saat membaca Talbiyah ini (bagi laki-laki) untuk menggetarkan jiwa dan menyadari kehampaan diri di hadapan kebesaran Tuhan.
Adab dan Larangan Saat Berihram
Dalam Al-Adzkar, Imam Nawawi tidak hanya fokus pada kata-kata, tetapi juga pada perilaku atau adab. Ihram menciptakan batasan suci. Seseorang yang sedang ihram tidak boleh melakukan tindakan-tindakan tertentu yang biasanya halal.
Beberapa poin penting yang beliau singgung meliputi:
-
Menghindari Rafats: Ucapan atau perbuatan yang mengarah pada syahwat.
-
Menghindari Fusuq: Perbuatan maksiat atau melanggar aturan agama.
-
Menghindari Jidal: Berdebat atau bertengkar dengan sesama jamaah.
Beliau menekankan bahwa menjaga lisan dari perkataan buruk sama pentingnya dengan membaca zikir. Inilah makna ihram yang sesungguhnya: menahan diri dari ego pribadi demi meraih keridaan Ilahi.
Zikir Saat Memasuki Tanah Haram
Perjalanan ihram biasanya berlanjut menuju Makkah. Imam Nawawi memberikan tuntunan doa khusus saat seseorang melihat pintu gerbang Tanah Haram. Beliau mengutip doa yang memperkuat rasa aman dan perlindungan:
“Allahumma hadza haramuka wa amnuka, fa harrimni ‘alan naar, wa aminni min ‘adzabika yauma tab’atsu ‘ibadaka.” (Ya Allah, ini adalah tanah haram-Mu dan tempat aman-Mu, maka haramkanlah aku dari api neraka…)
Doa ini menggambarkan betapa besarnya harapan seorang mukmin saat berada dalam keadaan ihram. Mereka datang sebagai tamu yang memohon perlindungan total.
Transformasi Spiritual Melalui Ihram
Jika kita mendalami setiap bab dalam Al-Adzkar, jelas bahwa Imam Nawawi memandang ihram sebagai simulasi kematian. Pakaian putih yang tidak dijahit menyerupai kain kafan. Hal ini mengingatkan kita bahwa suatu saat kita akan meninggalkan dunia tanpa membawa apa pun kecuali amal ibadah.
Oleh karena itu, Imam Nawawi sangat menganjurkan untuk memperbanyak bacaan Al-Qur’an dan selawat selama masa ihram. Beliau menulis:
“Ketahuilah bahwa sebaik-baiknya zikir saat ihram setelah Talbiyah adalah membaca Al-Qur’an dan memperbanyak doa-doa yang masru’ (disyariatkan).”
Hal ini menunjukkan bahwa ihram adalah waktu produktif secara spiritual. Kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu hanya dengan mengobrol kosong atau urusan duniawi yang tidak mendesak.
Relevansi Ajaran Imam Nawawi di Era Modern
Mempelajari makna ihram dari kitab klasik seperti Al-Adzkar memberikan panduan yang kokoh bagi jamaah modern. Di tengah hiruk-pikuk teknologi dan kemudahan perjalanan, esensi spiritual seringkali tergerus. Ajaran Imam Nawawi mengajak kita kembali ke akar ibadah yang tulus.
Kita belajar bahwa ihram bukan sekadar formalitas perjalanan. Ia adalah proses penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Dengan mengikuti petunjuk doa dan zikir dalam Al-Adzkar, seorang jamaah dapat merasakan kehadiran Allah dengan lebih dekat.
Penutup: Meraih Haji Mabrur
Pada akhirnya, tujuan utama memahami makna ihram adalah mencapai haji yang mabrur. Imam Nawawi menutup pembahasan haji dengan harapan agar setiap hamba kembali dalam keadaan suci. Ihram menjadi fondasi utama. Jika niat dan zikirnya benar sejak awal (sejak miqat), maka langkah-langkah selanjutnya akan menjadi lebih ringan dan bermakna.
Kitab Al-Adzkar tetap menjadi rujukan utama karena ketelitian Imam Nawawi dalam menyeleksi hadis dan doa. Beliau memberikan kita “peta jalan” batin agar tidak tersesat dalam ritual fisik semata.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
