Ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Makkah. Imam Al-Ghazali dalam mahakaryanya, Ihya Ulumuddin, menekankan bahwa haji adalah perjalanan ruhani yang sangat dalam. Tanpa memahami rahasianya, haji hanya akan menjadi rutinitas yang melelahkan tanpa bekas di hati.
Urgensi Memahami Fiqih Batin
Bagi Al-Ghazali, haji memiliki dua dimensi: lahiriah dan batiniah. Dimensi lahiriah mencakup rukun dan syarat sah secara fiqih. Namun, dimensi batiniah—yang ia sebut sebagai “Asrarul Hajj” (Rahasia-rahasia Haji)—adalah ruh yang menghidupkan ibadah tersebut.
Imam Al-Ghazali menegaskan pentingnya kesiapan hati sebelum melangkah:
“Ketahuilah bahwa tidak ada jalan menuju Allah Ta’ala kecuali dengan melepaskan diri dari syahwat, menahan diri dari kelezatan, membatasi diri pada keperluan, dan mengarahkan seluruh gerak serta diam hanya kepada Allah.”
Tahapan Rahasia Haji Menurut Al-Ghazali
1. Pemahaman tentang Keagungan Baitullah
Haji dimulai dari pemahaman bahwa Ka’bah adalah simbol kehadiran Tuhan di bumi. Al-Ghazali mengingatkan jamaah untuk menyadari kemuliaan rumah ini. Ia menyarankan jamaah agar membesarkan kerinduan kepada pemilik rumah tersebut sebelum merindukan bangunannya.
2. Bekal yang Halal dan Niat yang Murni
Al-Ghazali sangat ketat soal perbekalan. Harta yang haram akan merusak seluruh proses spiritual. Beliau menulis:
“Hendaklah bekalnya berasal dari harta yang halal, bersih dari segala syubhat. Jika ia pergi haji dengan harta haram, maka ia sedang membangun di atas dasar yang runtuh.”
Niat juga harus bersih dari riya’ atau keinginan dipuji sebagai “Pak Haji”. Fokus utama hanyalah mencari ridha Allah semata.
3. Rahasia Pakaian Ihram
Saat menanggalkan pakaian biasa dan mengenakan dua helai kain putih, jamaah sedang melakukan simulasi kematian. Putihnya kain ihram melambangkan kain kafan. Al-Ghazali menjelaskan bahwa saat itu, manusia melepaskan status sosial, jabatan, dan kesombongan dunia. Semuanya sama di hadapan Sang Pencipta.
4. Makna Tawaf dan Kerinduan Hati
Tawaf mengelilingi Ka’bah tujuh kali menyerupai gerakan para malaikat yang mengelilingi Arsy. Al-Ghazali menekankan bahwa tubuh yang berputar harus dibarengi dengan hati yang terpaku pada Allah. Jangan biarkan pikiran melayang pada urusan pasar atau perdagangan saat tawaf.
5. Wukuf di Arafah: Gambaran Padang Mahsyar
Wukuf adalah puncak haji. Di bawah terik matahari, jutaan manusia berkumpul dengan pakaian yang sama, memohon ampunan. Al-Ghazali menyebut momen ini sebagai pengingat dahsyat akan hari kebangkitan.
“Ingatlah dengan perkumpulan mereka di padang Arafah, hiruk pikuk suara, dan perbedaan bahasa, akan suasana di Padang Mahsyar serta berkumpulnya umat-umat di sana.”
6. Melontar Jumrah: Memerangi Nafsu
Melontar jumrah bukan sekadar melempar batu ke arah pilar. Secara simbolis, jamaah sedang melempar setan yang bersembunyi di dalam dirinya. Ini adalah bentuk perlawanan terhadap hawa nafsu yang sering menghalangi ketaatan kepada Allah.
Adab Batin dalam Menjalankan Haji
Al-Ghazali merangkum beberapa adab batin agar haji menjadi mabrur:
-
Ketundukan (Al-Khusyu’): Merasa hina dan kecil di hadapan kebesaran Allah.
-
Rasa Takut (Al-Khauf): Takut jika ibadahnya tidak diterima karena dosa masa lalu.
-
Harapan (Ar-Raja’): Optimisme yang kuat bahwa Allah Maha Pengampun dan akan mengabulkan doa.
Beliau juga mengingatkan agar jamaah tidak banyak mengeluh selama perjalanan. Kesulitan di jalan adalah bentuk ujian kesabaran yang akan menghapus dosa-dosa.
Dampak Haji pada Kehidupan Pasca-Haji
Haji yang mabrur tercermin dari perubahan perilaku setelah pulang. Al-Ghazali menyatakan bahwa tanda diterimanya haji adalah seseorang menjadi lebih zuhud terhadap dunia dan lebih rindu pada akhirat. Jika setelah haji seseorang masih mengejar dunia secara membabi buta, maka ada yang salah dengan rahasia hajinya.
“Tanda haji mabrur adalah ia kembali dalam keadaan zuhud terhadap dunia dan rindu pada akhirat, serta bersiap diri menemui Tuhannya.”
Kesimpulan: Perjalanan Menuju Allah
Haji dalam pandangan Imam Al-Ghazali adalah sebuah madrasah spiritual. Setiap langkah, dari mulai keluar rumah hingga kembali lagi, mengandung pelajaran tentang tauhid, kesabaran, dan kefanaan manusia. Memahami rahasia haji dalam Ihya Ulumuddin akan mengubah perspektif kita. Haji bukan lagi sekadar wisata religi, melainkan perjalanan pulang menuju pelukan rahmat Allah SWT.
Dengan menerapkan prinsip-prinsip batiniah ini, peluang kita meraih haji mabrur akan semakin terbuka lebar. Semoga setiap langkah kita di tanah suci menjadi saksi atas ketulusan iman kita.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
