Ibadah
Beranda » Berita » Etika Digital di Bulan Puasa: Menahan Jari dari Ghibah di Media Sosial

Etika Digital di Bulan Puasa: Menahan Jari dari Ghibah di Media Sosial

Bulan Ramadan merupakan momentum suci untuk menyucikan jiwa dan raga. Seluruh umat Islam berlomba-lomba meningkatkan kualitas ibadah mereka. Namun, tantangan berpuasa pada era modern ini semakin kompleks. Kita tidak hanya menghadapi rasa lapar dan dahaga secara fisik saja. Kita juga menghadapi godaan besar yang muncul dari layar ponsel pintar kita. Etika digital menjadi aspek penting yang sering terabaikan saat menjalankan ibadah puasa.

Fenomena Ghibah Digital di Bulan Suci

Media sosial kini telah mengubah cara manusia berinteraksi dan berkomunikasi. Sayangnya, platform digital sering menjadi tempat subur bagi perilaku ghibah atau menggunjing. Fenomena ini muncul dalam bentuk kolom komentar yang penuh hujatan. Banyak orang asyik membicarakan aib orang lain melalui grup percakapan singkat. Mereka merasa bahwa mengetik kata-kata pedas tidak membatalkan puasa mereka secara syariat.

Padahal, esensi puasa adalah menahan diri dari segala bentuk kemaksiatan. Menahan jari dari mengetik hal negatif sama pentingnya dengan menahan mulut. Kita harus menyadari bahwa setiap ketikan memiliki konsekuensi moral yang nyata. Dosa ghibah di dunia maya tetap terhitung sebagai catatan amal buruk. Oleh karena itu, kita perlu memperketat pengawasan terhadap aktivitas digital kita sehari-hari.

Larangan Ghibah dalam Al-Qur’an

Allah SWT memberikan peringatan yang sangat keras mengenai perilaku ghibah ini. Perumpamaan bagi orang yang berghibah sangatlah menjijikkan dan mengerikan dalam Islam. Allah SWT ingin kita menjauhi perilaku buruk ini dalam kondisi apa pun. Terlebih lagi saat kita sedang berada di bulan Ramadan yang mulia.

Kutipan asli Surah Al-Hujurat ayat 12 menegaskan hal ini:

Sosiologi Berbuka: Menguatkan Kohesi Sosial Melalui Buka Puasa Bersama

“Dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik.”

Ayat ini harus menjadi pengingat kuat bagi setiap pengguna internet. Membicarakan aib orang lain di media sosial bagaikan memakan bangkai saudara sendiri. Kita harus merasa jijik sebelum menyebarkan berita bohong atau gosip artis. Kesadaran ini akan membantu kita menjaga kemurnian ibadah puasa kita. Jangan sampai rasa lapar kita hanya berbuah kesia-siaan tanpa pahala.

Dampak Ghibah Terhadap Kualitas Puasa

Banyak hadits Nabi menjelaskan bahwa ghibah dapat menghanguskan pahala ibadah puasa. Seseorang tetap sah puasanya secara hukum fiqh jika menahan lapar. Namun, ia tidak akan mendapatkan pahala apa pun dari sisi Allah SWT. Puasanya hanya menjadi rutinitas menahan haus yang melelahkan tanpa nilai spiritual. Inilah yang sering disebut sebagai orang yang bangkrut di hari kiamat.

Media sosial seringkali menjerat kita dalam obrolan yang tidak bermanfaat. Kita sering terjebak dalam perdebatan kusir yang menguras energi dan emosi. Hal ini tentu sangat merugikan bagi seorang muslim yang sedang berpuasa. Kita seharusnya mengisi waktu luang dengan berdzikir atau membaca Al-Qur’an digital. Mengalihkan perhatian dari konten negatif adalah langkah awal menuju etika digital yang baik.

Tips Menjaga Jari Selama Ramadan

Langkah pertama adalah dengan melakukan kurasi terhadap akun yang kita ikuti. Unfollow atau mute akun-akun yang sering membagikan konten provokatif dan gosip. Kita harus selektif dalam mengonsumsi informasi yang masuk ke perangkat kita. Isilah beranda media sosial Anda dengan konten dakwah dan inspirasi positif. Hal ini akan membantu menjaga ketenangan hati selama menjalankan ibadah.

Membedah Pengaruh Ramadhan Terhadap Karya Sastra dan Puisi Ulama Klasik

Langkah kedua adalah menerapkan prinsip “pikir sebelum mengetik” secara konsisten. Tanyakan pada diri sendiri apakah komentar tersebut bermanfaat bagi orang lain. Jika sebuah postingan memicu amarah, sebaiknya kita segera menutup aplikasi tersebut. Gunakan media sosial sebagai sarana menyebarkan kebaikan dan mempererat tali silaturahmi. Kita bisa membagikan jadwal kajian atau tips kesehatan saat berbuka puasa.

Kesimpulan

Etika digital saat puasa adalah cerminan dari kedewasaan iman seseorang. Kita harus mampu mengendalikan jari-jari kita sebagaimana kita mengendalikan nafsu makan. Ramadan adalah saat yang tepat untuk melakukan detoksifikasi digital dari perilaku buruk. Mari kita jadikan media sosial sebagai ladang amal, bukan ladang dosa. Semoga Allah SWT menerima seluruh rangkaian ibadah puasa kita dengan sempurna.



Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.