Ibadah
Beranda » Berita » Asal-usul Istilah Imsak dan Tarawih: Sebuah Catatan Sejarah yang Mendalam

Asal-usul Istilah Imsak dan Tarawih: Sebuah Catatan Sejarah yang Mendalam

Setiap datang bulan Ramadhan, masyarakat muslim selalu akrab dengan istilah Imsak dan Tarawih. Kedua kata ini seolah menjadi identitas tak terpisahkan dari rutinitas ibadah puasa. Namun, banyak orang belum mengetahui akar sejarah dan makna linguistik di balik istilah tersebut. Memahami sejarah keduanya akan menambah kekhusyukan kita dalam menjalankan ibadah di bulan suci.

Akar Kata dan Filosofi Imsak

Secara etimologi, kata Imsak berasal dari bahasa Arab amsaka-yumsiku-imsakan. Kata ini memiliki arti menahan diri atau berhenti dari sesuatu. Dalam konteks puasa, Imsak merujuk pada waktu peringatan sebelum azan Subuh berkumandang. Banyak orang mengira bahwa Imsak adalah waktu dimulainya puasa secara mutlak. Padahal, secara syariat, puasa baru benar-benar bermula saat fajar shadiq atau waktu Subuh tiba.

Tradisi penandaan waktu Imsak ini bermula sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Saat itu, Rasulullah memiliki dua muazin yang bertugas secara bergantian. Bilal bin Rabah mengumandangkan azan pertama saat malam masih gelap sebagai pengingat. Sementara itu, Abdullah bin Ummi Maktum mengumandangkan azan kedua saat waktu fajar telah masuk.

Rasulullah SAW memberikan panduan jelas mengenai jeda waktu antara kedua azan tersebut. Beliau bersabda:

“Makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan, karena dia tidak akan beradzan kecuali setelah fajar terbit.”

Jejak Puasa pada Umat-Umat Terdahulu: Perjalanan Sejarah Sebelum Islam

Jeda antara azan Bilal dan Ibnu Ummi Maktum inilah yang kemudian ulama sebut sebagai waktu Imsak. Para ulama menetapkan waktu sepuluh menit sebelum Subuh sebagai langkah antisipasi (ihtiyath). Hal ini bertujuan agar umat Islam tidak terburu-buru saat menyelesaikan makan sahur mereka.

Perjalanan Sejarah Shalat Tarawih

Istilah Tarawih juga memiliki latar belakang sejarah yang sangat menarik untuk kita kaji. Kata Tarawih merupakan bentuk jamak dari kata tarwihah yang berarti istirahat sejenak. Pemberian nama ini berkaitan dengan tata cara pelaksanaan shalat malam tersebut di masa lalu. Para sahabat Nabi biasa melakukan istirahat panjang setelah menyelesaikan setiap empat rakaat.

Pada masa Nabi Muhammad SAW, shalat ini belum memiliki nama populer “Tarawih”. Rasulullah dan para sahabat lebih mengenalnya dengan sebutan Qiyam Ramadan. Nabi Muhammad SAW hanya melaksanakan shalat ini secara berjamaah di masjid selama tiga malam. Beliau kemudian memilih shalat di rumah karena khawatir umat Islam menganggapnya sebagai ibadah wajib.

Perubahan besar terjadi pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Umar melihat umat Islam melaksanakan shalat malam di masjid secara terpisah-pisah. Beliau kemudian mengambil inisiatif besar untuk menyatukan mereka di bawah satu imam. Umar menunjuk Ubay bin Ka’ab sebagai pemimpin jamaah shalat tersebut di Masjid Nabawi.

Sejak saat itulah, istilah Tarawih mulai melekat erat dalam literatur fikih dan sejarah Islam. Umat Islam melaksanakan shalat ini dengan penuh ketenangan dan tidak tergesa-gesa. Mereka memanfaatkan jeda istirahat untuk berzikir, berdoa, atau sekadar melepas lelah setelah berdiri lama.

Tradisi Keilmuan di Masjid Al-Azhar: Cahaya Pengetahuan Sepanjang Ramadhan

Makna Penting bagi Umat Islam Saat Ini

Mengetahui sejarah istilah Imsak dan Tarawih memberikan kita perspektif yang lebih jernih. Imsak mengajarkan kita tentang pentingnya persiapan dan kehati-hatian dalam beribadah. Sementara itu, Tarawih mengingatkan kita bahwa ibadah harus kita jalankan dengan rasa nyaman dan tenang.

Ibadah puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga melatih kedisiplinan waktu melalui Imsak. Begitu pula dengan Tarawih yang melatih ketahanan spiritual kita melalui rangkaian shalat malam yang panjang. Kedua istilah ini mencerminkan keindahan syariat Islam yang sangat memperhatikan kondisi fisik dan psikis pemeluknya.

Kesimpulan

Sejarah istilah Imsak dan Tarawih membuktikan betapa dinamisnya tradisi ibadah dalam umat Islam. Tradisi ini tetap terjaga kemurniannya meskipun telah melewati ribuan tahun sejarah manusia. Mari kita isi Ramadhan dengan semangat pemahaman ilmu yang benar agar ibadah kita semakin berkualitas. Dengan memahami asal-usulnya, kita akan lebih menghargai setiap detik waktu di bulan penuh ampunan ini.


Catatan Kebahasaan:

Ramadhan dalam Lintasan Sejarah: Kejayaan dan Penaklukan Penting

Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.