Ramadhan di Kairo selalu memberikan kesan mendalam bagi umat Islam sedunia. Masjid Al-Azhar menjadi pusat gravitasi spiritual dan intelektual utama di Mesir. Setiap sudut masjid menawarkan cahaya ilmu yang tidak pernah padam. Tradisi Keilmuan Masjid Al-Azhar di sini sudah berlangsung lebih dari seribu tahun.
Magnet Para Pencari Ilmu Sedunia
Masjid Al-Azhar memegang peran sentral dalam peradaban Islam. Peran ini semakin menguat saat bulan suci Ramadhan tiba. Ribuan santri dari mancanegara berkumpul di serambi masjid yang ikonik ini. Mereka datang untuk mengejar berkah dan ilmu pengetahuan yang murni.
Tradisi keilmuan Al-Azhar sangat unik dan juga sangat autentik. Para ulama di sana tetap menggunakan metode talaqqi dalam mengajar. Metode ini menekankan interaksi langsung antara syeikh dan murid. Hal ini menjaga sanad keilmuan tetap tersambung hingga Rasulullah SAW. Para mahasiswa Indonesia juga sering menyebut momen ini sebagai pengalaman batin yang luar biasa.
Intensitas Kajian Kitab Kuning
Selama Ramadhan, jadwal kajian di Masjid Al-Azhar menjadi sangat padat. Para syeikh menyelenggarakan berbagai halaqah ilmu setelah shalat ashar. Mereka membacakan kitab-kitab klasik karya ulama terdahulu secara sangat teliti. Materi kajian meliputi bidang fikih, akidah, tasawuf, hingga tata bahasa Arab.
Suasana halaqah terasa sangat khidmat dan penuh dengan ketenangan. Murid-murid duduk melingkar di atas karpet masjid yang megah. Mereka mencatat setiap penjelasan penting dari sang guru dengan tekun. Fokus utama kajian ini adalah memperdalam pemahaman agama secara moderat (wasathiyah). Al-Azhar terus konsisten menjaga pemikiran Islam yang damai dan inklusif.
Kutipan tentang semangat keilmuan ini sering terdengar di lingkungan kampus:
“Ilmu bukan hanya apa yang kamu hafal. Ilmu adalah apa yang memberi manfaat bagi umat.”
Pesan tersebut memotivasi setiap santri untuk belajar dengan penuh sungguh-sungguh. Mereka ingin membawa kemanfaatan besar saat kembali ke negara asal masing-masing.
Spiritualitas Malam Ramadhan di Al-Azhar
Malam-malam Ramadhan di Al-Azhar terasa sangat hidup dan bertenaga. Setelah shalat Tarawih, diskusi ilmiah sering berlanjut hingga dini hari. Para mahasiswa mengkaji kitab-kitab tebal secara intensif dalam waktu singkat. Tradisi ini memberikan nutrisi ruhani yang seimbang dengan kebutuhan jasmani.
Masjid Al-Azhar juga menyediakan ribuan porsi makanan berbuka setiap hari. Namun, makanan ruhani tetap menjadi menu utama bagi para pengunjung. Dermawan Mesir sering mengirimkan santapan terbaik untuk para penuntut ilmu Allah. Hal ini menunjukkan kedekatan emosional antara masyarakat lokal dengan institusi pendidikan tersebut.
Para ulama memberikan pelajaran dengan penuh ketulusan tanpa imbalan. Mereka menganggap mengajar sebagai bentuk ibadah tertinggi di bulan suci. Keikhlasan para guru ini menarik keberkahan yang sangat luas bagi para murid. Tidak heran jika Al-Azhar melahirkan banyak tokoh besar dunia.
Relevansi Tradisi Al-Azhar bagi Indonesia
Indonesia memiliki hubungan sejarah yang sangat panjang dengan Al-Azhar. Banyak ulama besar nusantara merupakan lulusan dari universitas tertua di dunia ini. Tradisi keilmuan Al-Azhar sangat cocok dengan karakter masyarakat Indonesia yang ramah. Prinsip moderasi beragama menjadi jembatan pemersatu bagi keberagaman bangsa kita.
Kita perlu mencontoh semangat belajar santri Al-Azhar selama bulan Ramadhan. Kita bisa menghidupkan kembali tradisi membaca kitab di masjid-masjid lokal. Penguatan literasi agama sangat penting untuk menangkal pemikiran radikal dan ekstrem. Mari kita jadikan Ramadhan sebagai momentum untuk kembali mencintai ilmu pengetahuan.
Kesimpulan
Tradisi keilmuan Masjid Al-Azhar adalah warisan berharga bagi peradaban Islam. Al-Azhar membuktikan bahwa ilmu dan ibadah harus berjalan beriringan. Kesederhanaan dalam belajar justru menghasilkan pemikiran-pemikiran besar yang mencerahkan dunia. Semoga cahaya ilmu dari Kairo terus menyinari jalan umat manusia.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
