Ibadah
Beranda » Berita » Kisah Penetapan Kalender Hijriah: Sejarah Panjang dan Keagungan Bulan Suci

Kisah Penetapan Kalender Hijriah: Sejarah Panjang dan Keagungan Bulan Suci

Peradaban Islam memiliki sistem penanggalan yang sangat unik dan penuh makna. Kalender Hijriah menjadi panduan utama bagi seluruh umat Muslim di dunia. Namun, banyak orang belum mengetahui sejarah panjang di balik penetapannya. Sistem ini lahir dari kebutuhan administratif dan semangat keagamaan yang sangat tinggi.

Latar Belakang Administratif di Masa Khalifah

Khalifah Umar bin Khattab memprakarsai ide besar ini pada tahun ke-17 Hijriah. Masalah muncul ketika Gubernur Abu Musa al-Ash’ari menerima surat tanpa tanggal. Beliau kesulitan menentukan urutan dokumen resmi dari pemerintahan pusat di Madinah. Kebingungan administratif ini mendorong Khalifah Umar untuk segera mencari solusi permanen.

Umar menyadari bahwa negara Islam yang semakin luas membutuhkan sistem waktu yang baku. Tanpa penanggalan yang jelas, pengelolaan surat dan arsip negara akan kacau. Masalah ini bukan sekadar urusan kantor, melainkan menyangkut ketertiban hukum dan syariat. Oleh karena itu, Umar segera mengumpulkan para sahabat senior untuk bermusyawarah.

Musyawarah Para Sahabat dan Pilihan Titik Awal

Umar mengundang para sahabat besar untuk berdiskusi secara mendalam dan terbuka. Mereka mencari momentum sejarah yang paling tepat untuk memulai kalender Islam. Beberapa sahabat mengusulkan tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai titik awal. Sebagian lagi menyarankan tahun wafatnya Rasulullah sebagai penanda utama sejarah.

Namun, usulan-usulan tersebut memicu perdebatan yang cukup panjang di antara mereka. Ali bin Abi Thalib kemudian memberikan sebuah usulan yang sangat brilian. Beliau menyarankan peristiwa Hijrah dari Makkah ke Madinah sebagai permulaan tahun. Menurut Ali, Hijrah merupakan tonggak berdirinya kedaulatan dan kekuatan umat Islam secara nyata.

Ramadhan dalam Lintasan Sejarah: Kejayaan dan Penaklukan Penting

Mengapa Hijrah Menjadi Pilihan Utama?

Para sahabat akhirnya menyetujui usulan Ali bin Abi Thalib tersebut dengan suara bulat. Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat dari satu kota ke kota lainnya. Hijrah adalah simbol kemenangan iman dan pemisah antara kebenaran serta kebatilan. Momen ini menandai fase baru dakwah Islam yang lebih terorganisir dan berwibawa.

Kutipan pernyataan Umar bin Khattab saat mengambil keputusan tersebut adalah:

“Hijrah itu memisahkan antara yang hak (benar) dengan yang batil (salah). Maka jadikanlah ia sebagai awal penanggalan.”

Setelah menentukan tahun, para sahabat harus memilih bulan pertama dalam kalender. Utsman bin Affan mengusulkan bulan Muharram sebagai awal tahun Hijriah. Beliau beralasan bahwa Muharram adalah waktu saat jamaah haji selesai menunaikan ibadah. Selain itu, Muharram merupakan salah satu bulan suci yang Allah muliakan.

Keagungan Bulan-Bulan Suci dalam Islam

Islam sangat menghormati bulan-bulan tertentu yang memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah. Bulan-bulan tersebut adalah Muharram, Rajab, Dzulqa’dah, dan juga bulan Dzulhijjah. Allah SWT melarang peperangan dan segala bentuk kezaliman selama bulan-bulan suci tersebut. Larangan ini bertujuan agar manusia bisa beribadah dengan tenang dan aman.

Bagaimana Para Ulama Salaf Menghabiskan Waktu di Bulan Ramadhan?

Keagungan bulan suci mengajarkan kita untuk lebih giat melakukan amal saleh harian. Setiap kebaikan yang kita lakukan akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Sebaliknya, kemaksiatan di bulan suci juga memiliki konsekuensi dosa yang lebih berat. Pengetahuan tentang kalender Hijriah membantu umat Islam menjaga kesucian waktu-waktu tersebut.

Relevansi bagi Identitas Umat Modern

Kalender Hijriah bukan sekadar deretan angka di atas lembaran kertas atau aplikasi. Ia adalah identitas dan pengingat akan perjuangan besar Rasulullah serta para sahabat. Memahami sejarah penetapannya akan mempertebal rasa cinta kita kepada agama Islam. Kita diingatkan untuk selalu melakukan perubahan positif (hijrah) dalam kehidupan sehari-hari.

Sistem penanggalan ini juga mengatur waktu ibadah utama seperti Puasa Ramadhan dan Haji. Tanpa kalender Hijriah, umat Islam akan kehilangan sinkronisasi dalam menjalankan kewajiban syariat. Mari kita muliakan setiap pergantian bulan Hijriah dengan niat ibadah yang tulus. Semoga kita bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk bekal di akhirat nanti.



Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.