SURAU.CO – Pendahuluan, Al-Qur’an sering menggunakan perumpamaan (amtsāl) sebagai metode argumentatif untuk menanamkan nilai tauhid dan membongkar kekeliruan akidah. Salah satu perumpamaan yang sangat kuat terdapat dalam QS. Al-Ḥajj ayat 73. Ayat ini menyuguhkan gambaran tentang seekor lalat sebagai hujjah terhadap kelemahan sesembahan selain Allah dan keterbatasan manusia.
Allah ﷻ berfirman:
> يَا أَيُّهَا ٱلنَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَٱسْتَمِعُوا۟ لَهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ لَن يَخْلُقُوا۟ ذُبَابًۭا وَلَوِ ٱجْتَمَعُوا۟ لَهُۥ ۖ وَإِن يَسْلُبْهُمُ ٱلذُّبَابُ شَيْـًۭٔا لَّا يَسْتَنقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ ٱلطَّالِبُ وَٱلْمَطْلُوبُ¹
Ayat ini memuat dimensi rasional, teologis, dan spiritual yang sangat mendalam.
Perumpamaan sebagai Metode Argumentatif
Frasa “ضُرِبَ مَثَلٌ” menunjukkan bahwa Allah menggunakan analogi untuk mengajak manusia berpikir. Dalam tafsirnya, Ibn Kathīr menjelaskan bahwa ayat ini merupakan bantahan terhadap kaum musyrik yang menyembah berhala yang tidak memiliki daya cipta sedikit pun.²
Al-Ṭabarī menambahkan bahwa perumpamaan ini adalah bentuk tantangan terbuka (taḥaddī) yang menunjukkan ketidakmampuan total selain Allah dalam menciptakan makhluk hidup sekecil apa pun.³
Ketidakmampuan Menciptakan
Allah menegaskan:
> لَن يَخْلُقُوا۟ ذُبَابًۭا وَلَوِ ٱجْتَمَعُوا۟ لَهُۥ
Kata lan dalam bahasa Arab menunjukkan penafian yang kuat dan bersifat permanen. Artinya, mustahil bagi sesembahan selain Allah untuk menciptakan seekor lalat, bahkan jika seluruh kekuatan bersatu.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis qudsi:
> قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذَهَبَ يَخْلُقُ كَخَلْقِي، فَلْيَخْلُقُوا ذَرَّةً أَوْ لِيَخْلُقُوا حَبَّةً أَوْ لِيَخْلُقُوا شَعِيرَةً⁴
Hadis ini memperkuat argumentasi bahwa penciptaan adalah hak prerogatif Allah semata.
Ketidakmampuan Menguasai yang Telah Diambil
Allah melanjutkan:
> وَإِن يَسْلُبْهُمُ ٱلذُّبَابُ شَيْـًۭٔا لَّا يَسْتَنقِذُوهُ مِنْهُ
Al-Qurṭubī menjelaskan bahwa makna ayat ini adalah ketidakmampuan total untuk merebut kembali sesuatu yang telah diambil lalat, sekalipun itu hanya setetes makanan atau wewangian yang dipersembahkan kepada berhala.⁵
Secara biologis, lalat memiliki sistem enzimatik yang segera mengurai makanan sebelum diserap. Proses ini menggambarkan kompleksitas ciptaan Allah yang tidak dapat ditandingi manusia.
Lemahlah yang Menyembah dan Disembah
Penutup ayat:
> ضَعُفَ ٱلطَّالِبُ وَٱلْمَطْلُوبُ
Menurut Ibn Kathīr, yang dimaksud dengan al-ṭālib adalah penyembah, sedangkan al-maṭlūb adalah sesembahan. Keduanya sama-sama lemah dan tidak memiliki kekuasaan hakiki.⁶
Ayat ini tidak hanya membantah penyembahan berhala, tetapi juga segala bentuk ketergantungan mutlak kepada makhluk, baik kekuasaan, harta, maupun teknologi.
Relevansi Kontemporer
Dalam era modern, manusia mencapai kemajuan sains dan teknologi yang luar biasa. Namun, kemampuan tersebut tetap berada dalam batasan hukum alam yang telah Allah tetapkan.
Manusia tidak menciptakan kehidupan dari ketiadaan, melainkan hanya memanfaatkan sistem yang sudah ada.
Dengan demikian, QS. Al-Ḥajj: 73 tetap relevan sebagai kritik terhadap kesombongan intelektual dan ilusi kemandirian manusia.
Kesimpulan
QS. Al-Ḥajj: 73 adalah dalil tauhid yang rasional dan spiritual sekaligus. Seekor lalat menjadi hujjah yang meruntuhkan klaim ketuhanan selain Allah dan menyadarkan manusia akan kelemahannya.
Ayat ini menegaskan:
- Hanya Allah Pencipta sejati.
- Sesembahan selain-Nya tidak memiliki daya cipta.
- Manusia adalah makhluk lemah yang bergantung sepenuhnya kepada Allah.
Kesadaran ini menumbuhkan tauhid yang murni dan kerendahan hati di hadapan Sang Pencipta.
Catatan Kaki (Chicago Style)
- Al-Qurʾān, QS. Al-Ḥajj (22): 73.
- Ismāʿīl ibn ʿUmar Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qurʾān al-ʿAẓīm, ed. Sāmī Muḥammad Salāmah (Riyadh: Dār Ṭayyibah, 1999), tafsir QS. 22:73.
- Muḥammad ibn Jarīr al-Ṭabarī, Jāmiʿ al-Bayān ʿan Taʾwīl Āy al-Qurʾān, ed. Aḥmad Muḥammad Shākir (Cairo: Muʾassasat al-Risālah, 2001), tafsir QS. 22:73.
- Muḥammad ibn Ismāʿīl al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, ed. Muḥammad Zuhayr ibn Nāṣir al-Nāṣir (Riyadh: Dār Ṭawq al-Najāh, 2002), no. 7559; Muslim ibn al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim (Beirut: Dār Iḥyāʾ al-Turāth al-ʿArabī, n.d.), no. 2111.
- Muḥammad ibn Aḥmad al-Qurṭubī, Al-Jāmiʿ li Aḥkām al-Qurʾān (Beirut: Muʾassasat al-Risālah, 2006), tafsir QS. 22:73.
- Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qurʾān al-ʿAẓīm. (Tengku Iskandar, M.Pd
Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
